Kisah Fresh Graduate Sarjana Komputer Baru Diterima Kerja Setelah 500 Lamaran Ditolak
Setelah melamar lebih dari 500 pekerjaan dan ditolak berkali-kali, ia akhirnya lolos dalam sebuah proyek OpenAI.
Seorang insinyur perangkat lunak berusia 23 tahun asal sebuah kota kecil di timur laut India berhasil mengubah deretan penolakan menjadi pintu masuk karier internasional.
Setelah melamar lebih dari 500 pekerjaan dan ditolak berkali-kali, ia akhirnya lolos dalam sebuah proyek OpenAI yang memberinya bayaran fantastis Rs20 lakh atau sekitar Rp20 juta per bulan. Menariknya, dikerjakan secara remote dari rumah.
Pria ini merupakan orang pertama di keluarganya yang berhasil menamatkan pendidikan BTech di bidang Ilmu Komputer.
Ia sempat menerima tawaran kerja melalui program penempatan kampus dengan gaji tahunan Rp 60 juta (sekitar Rp 5 juta per bulan).
Namun, posisi tersebut baru bisa dijalani setelah delapan bulan menunggu. Tak ingin berdiam diri, ia kemudian melamar ke lebih dari 500–600 lowongan kerja internasional berbasis remote.
“Penolakan demi penolakan selama berbulan-bulan,” tulisnya dalam sebuah unggahan viral di Reddit.
“Dari ratusan lamaran, saya hanya mendapat satu panggilan wawancara—dan entah bagaimana saya berhasil lolos,” tambahnya dikutip dari IndiaToday, Minggu (7/9).
Kesempatan langka itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Proyek OpenAI yang dijalaninya membuka akses ke pengalaman global, kebebasan finansial, sekaligus kepercayaan diri untuk bermimpi lebih besar.
Lonjakan Pendapatan Fantastis
Dari gaji awal Rp 5 juta per bulan, penghasilannya melonjak drastis menjadi Rp 20 juta per bulan hanya lewat satu proyek.
Ia mengaku bekerja siang dan malam, tidur hanya 4–5 jam sehari, dan mengorbankan banyak hal demi memberikan performa terbaik.
“Kerja remote membuktikan kepada saya bahwa geografi tidak lagi penting, selama punya keterampilan dan akses internet,” ujarnya.
Meski proyek OpenAI tersebut berakhir pada Agustus lalu, perjalanan kariernya tidak berhenti di situ. Di usia yang masih sangat muda, ia kini tengah membangun perusahaan teknologi miliknya sendiri.
Pesannya untuk mahasiswa dari kota kecil sederhana namun penuh makna: “Jangan cepat puas. Lamar ke mana saja, bangun portofolio secara terbuka, dan jangan berhenti membangun jaringan.”
Kisahnya menjadi bukti bahwa dengan ketekunan dan kemampuan, mahasiswa dari kota lapis ketiga pun mampu menembus peluang global.