CEO OpenAI, Sam Altman, bersama suaminya Oliver Mulherin, dilaporkan mendukung sebuah perusahaan rintisan bernama Preventive yang fokus pada rekayasa genetika embrio untuk mencegah penyakit keturunan.
Perusahaan berbasis di San Francisco itu disebut telah mengumpulkan pendanaan sebesar USD30 juta untuk mengembangkan teknologi yang dapat mengatasi kondisi rusaknya genetik seseorang.
Selain Altman, CEO Coinbase Brian Armstrong juga turut berinvestasi. Armstrong menilai teknologi ini dapat menjadi langkah penting untuk menghilangkan penyakit genetik yang hingga kini memengaruhi lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia.
Dikutip dari Independent, Jumat (14/11), perusahaan rekayasa genetika ini dikabarkan tengah mencari celah hukum untuk melakukan uji coba di Uni Emirat Arab. Negara itu merupakan salah satu negara yang melegalkan penyuntingan embrio.
Para ilmuwan perusahaan itu diberitakan mencoba membuat bayi dari embrio yang telah diedit untuk menghapus risiko penyakit keturunan menggunakan pasangan yang memiliki riwayat genetik tertentu.
Advertisement
Meski terlihat maju, namun upaya itu menuai kritik keras. Rekayasa genetika pada embrio untuk menciptakan bayi bebas penyakit adalah tindakan ilegal di AS, Inggris, dan banyak negara lain.
Mengapa demikian? Para pakar etik menyatakan metode ini berisiko, belum terbukti aman, serta menimbulkan dilema moral terkait masa depan “desainer bayi” yang dapat memilih ciri seperti tinggi badan hingga kecerdasan.
Advertisement
Terlepas dari perdebatan itu, kemajuan penyuntingan gen terus menunjukkan potensi signifikan. Pada Mei lalu, seorang bayi di Pennsylvania dengan kelainan genetik langka, defisiensi CPS1, berhasil menerima terapi penyuntingan gen yang dipersonalisasi.
Perawatan eksperimental tersebut memperbaiki kesalahan tunggal pada kode genetik sang bayi, memberi harapan baru bagi ribuan penderita kelainan serupa.
Dalam studi yang diterbitkan New England Journal of Medicine, pakar penyuntingan gen Dr. Kiran Musunuru menyebut perawatan ini sebagai langkah awal menuju terapi untuk berbagai kelainan genetik langka yang belum memiliki pengobatan pasti.
Dunia kini menghadapi pertanyaan besar apakah penyuntingan gen pada embrio hanyalah upaya penyelamatan, atau pintu masuk menuju era rekayasa manusia?
Reporter Magang: Ahmad Subayu