Obsesi Makanan Sehat: Mengenal Orthorexia dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Orthorexia, obsesi berlebihan pada makanan sehat, semakin umum karena tekanan media sosial. Kenali gejala dan cara mengatasinya.
Di era media sosial dan tren kesehatan yang serba cepat, obsesi terhadap makanan sehat semakin meningkat. Diet populer, kandungan protein dalam hampir semua produk, dan teknologi wearable yang melacak berbagai biometrik membuat banyak orang terhanyut dalam kegilaan obsesi kesehatan. Informasi yang berlebihan di internet dan media sosial mempersulit pemahaman tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh, terutama dalam hal nutrisi. Video-video yang menyebut makanan tertentu sebagai "buruk" atau mengandung "bahan palsu" semakin memicu obsesi masyarakat terhadap "makan sehat".
Meskipun mengonsumsi makanan bergizi tentu baik untuk kesehatan, fokus yang berlebihan dapat berubah menjadi orthorexia, suatu kondisi yang semakin umum terjadi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan dari media sosial berperan besar dalam peningkatan kasus ini. Orthorexia belum termasuk dalam DSM-5, panduan resmi untuk diagnosis kesehatan mental, tetapi banyak ahli gizi memperkirakan bahwa kondisi ini akan menjadi diagnosis resmi di masa depan.
Dilansir dari Huffington Post, Beth Auguste, seorang ahli gizi dari Philadelphia, menjelaskan, "Orthorexia adalah gangguan makan subklinis yang belum memiliki kode diagnosis klinis, tetapi diakui secara luas dalam komunitas gangguan makan." Auguste menambahkan bahwa orthorexia dapat dikategorikan sebagai preokupasi dengan makan sehat dan fiksasi pada kemurnian makanan.
Mengenal Orthorexia: Lebih dari Sekadar Makan Sehat
Orthorexia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan obsesi berlebihan terhadap makanan sehat. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh dokter Amerika, Steven Bratman, pada tahun 1997. Kondisi ini berbeda dengan anoreksia nervosa dan bulimia nervosa yang berfokus pada kuantitas makanan dan berat badan. Orthorexia lebih menekankan pada kualitas dan "kemurnian" makanan.
Beth Heise, seorang ahli gizi terdaftar dari OnPoint Nutrition, menjelaskan bahwa orthorexia adalah obsesi terhadap apa yang dianggap sebagai cara makan yang benar atau sehat. Banyak orang menikmati makanan sehat atau melakukannya untuk menjaga kadar kolesterol dan gula darah tetap terkontrol. Oleh karena itu, sulit untuk membedakan antara diet sehat biasa dan orthorexia yang berbahaya.
Auguste menambahkan bahwa bahkan profesional pun kesulitan untuk mendeteksinya. Mereka sering bertanya-tanya apakah seseorang hanya benar-benar sehat atau sudah berada di ambang gangguan. Penting untuk mengenali tanda-tanda orthorexia agar dapat mencari bantuan yang tepat jika diperlukan.
Tanda-Tanda Orthorexia yang Perlu Diwaspadai
Auguste dan Heise membagikan beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin sudah memasuki wilayah orthorexia:
- Pembatasan Makanan Ekstrem: Pembatasan ini tidak terkait dengan alergi atau saran dari dokter. Auguste menjelaskan bahwa orthorexia dapat muncul seperti anoreksia, yaitu dengan membatasi atau tidak mengonsumsi kelompok makanan tertentu. Penderita orthorexia juga dapat merasa sangat cemas jika tidak memiliki kendali penuh atas makanan yang dikonsumsi dan sumbernya.
- Aturan yang Kaku: Penderita orthorexia sering membuat aturan yang kaku mengenai asupan makanan mereka. Misalnya, mereka mungkin hanya mengizinkan diri mereka untuk makan nasi merah dan tidak pernah membuat pengecualian untuk nasi putih.
- Obsesi pada Kemurnian Makanan: Heise menjelaskan bahwa orthorexia pada akhirnya menjadi kurang tentang makan sehat dan lebih tentang obsesi tidak sehat dengan kemurnian makanan atau "makan bersih" atau "makan yang benar".
Dampak Orthorexia pada Kehidupan Sosial dan Kesehatan Mental
Auguste menekankan bahwa masalah muncul ketika obsesi terhadap makanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika stres tentang makanan mengganggu interaksi sosial, seperti menolak rencana karena tidak yakin tentang situasi makanan, ini bisa menjadi penyebab kekhawatiran.
Heise menambahkan bahwa orthorexia membuat seseorang menjadi sangat terobsesi dengan makanan sehat hingga hampir menjadi kepribadian mereka. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk hidup sosial dengan nyaman. Jika hal ini terjadi, masalah tersebut harus segera diatasi.
Berikut adalah beberapa dampak orthorexia pada kehidupan sosial dan kesehatan mental:
- Menghindari Acara Sosial: Penderita orthorexia mungkin menghindari acara sosial yang melibatkan makanan karena takut tidak dapat mengontrol kualitas makanan yang dikonsumsi.
- Merasa Bersalah dan Cemas: Jika aturan makanan dilanggar, penderita orthorexia dapat merasa bersalah dan cemas.
- Isolasi Sosial: Obsesi terhadap makanan sehat dapat menyebabkan isolasi sosial karena penderita orthorexia mungkin merasa sulit untuk berhubungan dengan orang lain yang tidak memiliki pandangan yang sama tentang makanan.
Menganalisis Daftar Bahan Makanan Secara Berlebihan
Memeriksa daftar bahan dan label nutrisi pada makanan adalah hal yang normal, terutama jika memiliki alergi atau tujuan nutrisi tertentu. Namun, seseorang dengan orthorexia mungkin merasa bahwa mereka terus-menerus menganalisis semua bahan secara kompulsif, menurut Heise.
Hal ini dapat berubah menjadi berjam-jam yang dihabiskan untuk merencanakan makanan atau meneliti nutrisi setiap bahan yang masuk ke dalam makanan. Jika Anda merasa cemas atau bersalah saat melanggar aturan makanan Anda, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda terlalu banyak memikirkan tentang makan sehat.
Heise menyarankan untuk berbicara dengan seseorang jika pikiran tentang makanan mengganggu kesehatan mental Anda. Auguste menambahkan bahwa jika hal itu mengganggu kesehatan fisik Anda, itu adalah tanda bahaya yang jelas.
Langkah-Langkah untuk Mengatasi Orthorexia
Dengan dukungan dari ahli gizi atau profesional kesehatan mental, Anda dapat menentukan apakah makan sehat Anda hanyalah itu atau sesuatu yang lebih. Auguste menekankan pentingnya berbicara dengan ahli gizi yang berspesialisasi dalam gangguan makan atau terapis yang berspesialisasi dalam hal itu. Mereka dapat membantu Anda mencari tahu apakah ini masalah bagi Anda.
Heise meyakinkan bahwa pemulihan dari orthorexia mungkin dilakukan jika Anda memiliki dukungan yang tepat. Oleh karena itu, atasi perasaan tersebut sedini mungkin agar tidak berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan hidup Anda.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi orthorexia:
- Cari Bantuan Profesional: Ahli gizi dan terapis dapat memberikan dukungan dan bimbingan yang Anda butuhkan untuk mengatasi orthorexia.
- Fokus pada Tujuan yang Realistis: Alih-alih terobsesi pada tren makanan terbaru, fokuslah pada tujuan yang realistis, seperti memastikan Anda memiliki variasi dalam makanan Anda dan mendapatkan berbagai nutrisi yang berbeda.
- Lepaskan Pemikiran "Semua atau Tidak Sama Sekali": Penting untuk melepaskan pemikiran "semua atau tidak sama sekali" ketika berbicara tentang makan. Ingatlah bahwa Anda tidak harus sempurna dan tidak apa-apa untuk menikmati makanan yang Anda sukai sesekali.
Heise menyimpulkan bahwa makan dan makan sehat secara umum adalah perjalanan seumur hidup. Ini bukanlah serangkaian aturan yang harus diikuti sekali dan selesai. Kebutuhan diet Anda mungkin berubah seiring bertambahnya usia, begitu juga dengan preferensi makanan Anda. Beberapa pilihan yang Anda rasa mungkin tidak terlalu bagus tidak akan berdampak besar. Lebih fokuslah untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan sepanjang hidup Anda.
Auguste menambahkan bahwa penting untuk berbelas kasih kepada diri sendiri. Masyarakat tidak memudahkan untuk memaafkan pilihan makanan. Ingatlah bahwa Anda biasanya makan sehat, bukan selalu makan sehat. Dengan menggunakan bahasa "selalu", Anda memperkenalkan konsep kegagalan dan menghakimi diri sendiri. Tidak apa-apa untuk menikmati camilan asin atau makanan manis.
Semakin banyak latihan yang Anda dapatkan untuk membiarkan diri Anda menemukan jalan tengah, di mana Anda tidak "selalu" melakukan sesuatu, tetapi "biasanya" melakukan sesuatu, semakin baik. Dengan begitu, Anda dapat menikmati makanan tanpa merasa bersalah atau cemas.