Tantangan Meja Makan di Tengah Gempuran Makanan Instan
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini sangat bagus dalam membantu menjaga anak-anak dari konsumsi makanan rendah gizi.
Langit Kota Lamongan pada Minggu (8/3/2026) lebih bersahabat. Cuaca itu sangat cocok untuk berolahraga, meski Kota Soto masih dikepung banjir di beberapa titik akibat hujan deras.
Di sebuah sudut kota, sekelompok running enthusiast sudah melakukan pemanasan sebelum olahraga. Satu di antaranya adalah Nana. Pemilik nama lengkap Dahlina Rosyida bergabung dengan Sego Bo-RUN, sebuah komunitas lari terbesar di Lamongan.
"Tidak panjang (jarak jogging), karena aktivitas di hari-hari sebelumnya sangat lelah," ujar Nana, melalui sambungan telepon, Rabu 12 Maret 2026.
Ibu dua anak ini tetap berolahraga untuk menjaga kebugaran dan kesehatan setelah pensiun sebagai atlet balap sepeda tahun 2016. Di sela itu, ia masih menyempatkan diri latihan beban di rumah.
Setiap pekannya ia melahap jarak tempuh 50-60 km. Tergolong panjang bagi ASN di Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Lamongan itu. Sedangkan di akhir pekan, ia memilih long run hingga 21 km.
17 tahun berprofesi sebagai atlet telah membentuk karakter Nana untuk tetap bugar dan sehat. Dalam mendukung aktivitas olahraganya, ia juga membutuhkan asupan makanan bernutrisi seimbang.
"Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, ancamannya cedera bisa mengakhiri olahraga," ujar Wanita kelahiran Februari 1983 ini. Ia rutin makan sayur segar, telur rebus, dan buah segar untuk sarapan. Sedangkan makan berat ia lahap sehari dua kali, dan terakhir pada pukul 17.00 WIB.
Secara alamiah ia telah mendapatkan edukasi pola hidup sejak masih aktif sebagai atlet. Namun demikian Nana menegaskan menjaga kebugaran dan kesehatan tidak harus menjadi atlet.
"Itu tergantung kemauan dan kesadaran. Pola ini juga aku tularkan kepada anak-anak," tegas mantan pebalap sepeda ini.
Menjaga pola hidup sehat tidak harus diawali menjadi atlet. Persoalan ini kembali kepada pola asuh orang tua, lingkungan pendidikan, dan pergaulan. Pada dasranya orang tua memegang kunci utama menjaga pola hidup sehat.
"Edukasi gizi itu perlu diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki balita dan anak yang masuk tahap pertumbuhan," kata dr. Andriyanto, Kepala BRIDA Jawa Timur, dijumpai di ruang kerjanya, Kamis (13/3/2026).
Ibu-ibu merupakan garda terdepan dalam menjaga pola konsumsi makanan dan hidup sehat. Permasalahan untuk keluar dari zona yang kini tengah mengepung persoalan kesehatan di dalam negeri, yakni gizi buruk, stunting, dan obesitas.
Para ahli gizi di tanah air terus menyoroti daftar menu yang disusun masih kurang sehat. Gorengan dengan minyak pekat, makanan olahan, makanan dengan pemanis buatan, serta makanan instan kerap menghiasi meja makan.
Penggunaan penguat rasa secara berlebihan masih mudah dijumpai di dapur. Dan jika terus menerus dikonsumsi anak-anak mengalami masalah kesehatan.
Andriyanto, yang juga mantan Ketua Umum Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), mencontohkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program ini sangat bagus dalam membantu menjaga anak-anak dari konsumsi makanan rendah gizi.
"Harapan kami agar menu dalam MBG benar-benar memperhatikan aspek kesehatan. Ini program yang sangat bagus dari lingkungan pendidikan, yang seharusnya, bisa diimplementasikandi dalam rumah," urainya.
Andriyanto tidak menampik jika masalah kesehatan tidak mutlak disebabkan makanan dan minuman kemasan atau berpemanis.
Gangguan kesehatan bisa akibat aktivitas atau keturunan
Ia menolak bila 'gorengan', makanan olahan, makanan dan minuman berpemanis dalam kemasan, hingga makanan-minuman instan divonis bersalah. "Tinggal bagaimana porsi konsumsi dan intensitasnya. Jika terus menerus, pasti memicu masalah kesehatan," ujar Andriyanto.
Pola konsumsi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia mendapat sorotan budayawan, Antonio Carlos. Pengajar lepas di sejumlah perguruan tinggi ini kerap menyoroti sajian gorengan masih menghiasi periuk nasi.
Menurut kacamatanya, gorengan sudah ada sejak teknologi minyak goreng diperkenalkan. Namun massif penggunaannya membutuhkan proses dan waktu. Dan untuk mengganti dengan makanan sehat butuh generasi.
"Coba perhatikan penjual makanan di tepi jalan, akan sangat mudah menjumpai gorengan, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan," ujarnya.
Pertanyaan mendasar, apakah makanan dan minuman yang mendapat sorotan ini masih dibutuhkan? "Masih, sesekali saya masih mengonsumsi minuman berkarbonasi," tegas Kristiono, seorang trail runner enthusiast asal Surabaya.
Memang, lanjut Kris, begitu ia disapa, mengonsumsinya tidak rutin. Minuman berkarbonasi ia konsumsi ketika benar-benar membutuhkan kalori di sela jogging. Umumnya ia lakukan pada saat cuaca panas.
Contoh lain yang ia berikan bukan soal panas. Pada saat asupan kalori sudah terserap tubuh, karena jeda makan dengan latihan terlalu jauh, sesekali mengonsumi minuman berkarbonasi. "Itu juga belum tentu sebulan sekali," tegasnya.
Kris, seorang teknisi yang rutin jogging di tengah teriknya Surabaya terus menjaga pola hidup sehat. Sesekali ia melahap trail running di Puthuk Siwur, Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto sejauh 20-25 km, dengan elevasi 500 meter dari permukaan laut.
Pemilihan hidup sehat dipilih masyarakat sejak pandemi Covid-19 menerjang hampir seluruh penduduk bumi. Makanan dan minuman sehat, ditambah aktivitas sehat sudah menjadi kebutuhan guna menjauhkan dari gangguan kesehatan.
Di sinilah tantangan yang dihadapi industry makanan dan minuman kemasan. Tidak semua pelaku usaha akan dengan mudah menyediakan kebutuhan masyarakat. Di satu sisi jumlah masyarakat yang mengonsumsi makanan-minuman sehat belum sebanding dengan tantangan di lapangan.
"Inilah tantangan kami sebagai pelaku industri," tegas Dhedy Adi Nugroho. Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia. Ia menegaskan ada dua persoalan yang tengah dipecahkan.
Me-reformulasi komposisi minuman
Di tahap awal, produsen minuman tengah me-reformulasi komposisi minuman. Biasanya yang dilakukan adalah melakukan pengurangan gula atau bahan lain. Inipun butuh riset yang dan waktunya tidak bisa dihitung berdasarkan kalender meja.
Di satu sisi, biaya yang dibutuhkan bisa menguras cash in perusahaan. "Bisa-bisa pegawai tidak gajian," kelakarnya. "Namun itu tetap kami lakukan, agar ada substitusi produk dan bisa diterima pasar," lanjut alumnus University of Melbourne, Australia ini.
Langkah kedua adalah portion control alias pengendalian porsi dan ketiga aktif memberi edukasi komposisi. Kehadiran produk substitusi tidak bisa asal selonong. Sebagai tamu baru, butuh unggah-ungguh, minimal ketok pintu.
Dhedy kerap berkomunikasi dengan customer, baik tatap muka dalam sebuah forum diskusi hingga secara digital, yang bisa dilakukan melalui media sosial. Ini merupakan bukti bahwa pelaku usaha tidak anti-gaya hidup sehat.
Bentuk dukungan lain adalah menghadirkan produk less atau zero sugar. Bahkan, produksi minuman zero sugar, berada di kisaran 10 sampai 20 persen dari total produksi.
"Pada dasarnya lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi," ungkap Dhedy. Meski demikian, pihaknya optimistis generasi di masa datang lebih aware dan teredukasi dalam menerima produk sehat. "Ini hanya soal waktu," ia menambahkan.
Makanan dan Minuman kemasan dituding penyebab obesitas
Tantangan yang bisa membuat dahi berkerut adalah tudingan makanan dan minuman kemasan dituding penyebab gizi buruk, stunting, dan obesitas. Terlebih minuman kemasan berpemanis kerap dituding penyebab diabetes.
"Dalam konteks asupan minuman manis terdiri dari tiga aspek," jelas Dhedy. Ketiganya, lanjut Dhedy, terdiri atas minuman buatan sendiri, minuman ready to drink, dan minuman kemasan berpemanis.
Namun, dari tiga aspek tersebut hanya minuman kemasan dari pabrik yang jelas komposisi gulanya. Sejauh ini nilai gizi wajib ditulis dengan jelas di botol minuman sesuai arahan dari BPOM.
Ucapan Dhedy tidak salah. Menurut survei konsumsi gula yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2014, sumber asupan manis terbesar masih berasal dari gula pasir, disusul sirup. Adapun minuman kemasan justru menempati posisi paling bawah.
Sebagaimana paparan Andriyanto, bahwa komunikasi makanan sehat harus dibangun di dalam rumah. Ia tidak sepenuhnya menolak kehadiran makanan dan minuman dalam kemasan. Hal terpenting yang ia kedepankan adalah membangun komunikasi dengan pendekatan tradisi seolah langkah bidak yang paling bijak.