DPRD Surabaya Gelar 'Sekolah Sampah', Edukasi Warga Kelola Limbah dari Hulu
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, menginisiasi program "Sekolah Sampah" untuk mengedukasi warga tentang pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, mengurangi volume TPA, dan menciptakan nilai ekonomi.
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, menginisiasi program edukatif bertajuk "Sekolah Sampah" di Kota Pahlawan. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan urgensi pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Inisiatif ini diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap lingkungan kota.
"Sekolah Sampah" menghadirkan beragam materi, mulai dari teori hingga praktik langsung pengelolaan limbah. Peserta diajak memahami perubahan perilaku, teknik pengomposan, hingga pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Fasilitas penunjang seperti komposter juga disalurkan kepada warga.
Eri Irawan menegaskan bahwa masalah sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir (TPA). Perubahan pola pengelolaan harus dimulai dari rumah tangga, lingkungan, sekolah, hingga komunitas. Edukasi ini menjadi kunci utama dalam upaya tersebut.
Fokus Edukasi dan Metode Pengelolaan Limbah
Program "Sekolah Sampah" yang digagas DPRD Surabaya secara komprehensif membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan. Edukasi ini mencakup pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Tujuannya adalah mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian menumpuk.
Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, melainkan juga praktis. Warga diajarkan teknik pengomposan sampah organik. Selain itu, diperkenalkan pula metode pengolahan sampah organik berbasis maggot yang efektif. Inisiatif ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan masyarakat.
Untuk mendukung praktik tersebut, fasilitas penunjang turut disalurkan kepada masyarakat. Puluhan tempat penampungan botol plastik dan komposter sampah organik diberikan. Hal ini mempermudah warga dalam memulai praktik pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Tantangan Sampah Surabaya dan Solusi Berbasis Sumber
Kota Surabaya menghadapi tantangan serius terkait timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 1.800 ton. Eri Irawan menyoroti bahwa hampir 60 persen dari total volume tersebut merupakan sampah organik. Jenis sampah ini meliputi sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur rumah tangga.
Penyelesaian masalah sampah tidak dapat hanya mengandalkan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau TPA. Perubahan pola pengelolaan harus dimulai dari unit terkecil, yakni rumah tangga. Pembiasaan memilah dan mengolah sampah sejak awal menjadi krusial.
Program "Sekolah Sampah" dirancang untuk memberikan keterampilan teknis kepada masyarakat. Tujuannya agar warga mampu mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Metode seperti pengomposan dan budidaya maggot diperkenalkan untuk mempercepat penguraian sampah.
Nilai Ekonomi dan Dampak Lingkungan
Pengelolaan sampah yang efektif tidak hanya berdampak positif pada lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi. Sampah anorganik yang telah dipilah oleh warga dapat dikelola lebih lanjut melalui bank sampah. Proses ini memberikan potensi pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Eri Irawan menekankan pentingnya pola konsumsi bijak untuk mengurangi potensi timbulan sampah. Jika sampah organik tidak dipilah dan dikelola dengan baik, dampaknya sangat signifikan. Hal ini tidak hanya membuat TPA cepat penuh, tetapi juga meningkatkan emisi gas metana yang berbahaya.
DPRD Surabaya secara aktif mendukung langkah Pemerintah Kota Surabaya dalam memperkuat pemilahan sampah berbasis sumber. Inisiatif ini diintegrasikan dengan berbagai program lain seperti bank sampah, TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle), dan rumah kompos. Kolaborasi ini diharapkan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews