Undana Kupang Siapkan Tiga Pilar Utama Dukung Siber Sehat NTT untuk Jaga Mental Anak
Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang bergerak proaktif menyiapkan tiga pilar utama mendukung program Siber Sehat NTT. Inisiatif ini bertujuan menjaga mental anak-anak dari dampak negatif dunia digital, memastikan generasi muda tumbuh sehat.
Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sedang menyiapkan tiga pilar utama untuk mendukung program Siber Sehat NTT. Inisiatif ini berfokus pada perlindungan mental anak-anak dari dampak negatif perkembangan dunia digital.
Rektor Undana Kupang, Jefri S Bale, menyatakan komitmen kampusnya dalam mendukung program pemerintah provinsi ini. Tim dosen dari layanan psikologi terpadu Undana akan menjadi garda terdepan dalam perumusan pilar-pilar tersebut.
Program ini diluncurkan di Kupang, bertepatan dengan kegiatan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day. Sosialisasi juga dilakukan di ruang-ruang publik di kota tersebut. Tujuan utama program ini adalah menjaga mental anak-anak dari dampak buruk dunia digital, seperti adiksi gawai, judi daring, dan pornografi.
Tiga Pilar Strategis Undana untuk Siber Sehat NTT
Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang telah merancang tiga pilar utama sebagai fondasi dukungan terhadap program Siber Sehat NTT. Pilar-pilar ini dirancang secara komprehensif untuk mengatasi berbagai aspek terkait dampak digitalisasi pada generasi muda. Tim dosen dari layanan psikologi terpadu Undana menjadi ujung tombak dalam perumusan inisiatif penting ini.
Pilar pertama adalah pengembangan alat ukur deteksi adiksi digital. Instrumen ini akan berfungsi sebagai pemetaan awal untuk mengidentifikasi tingkat keparahan paparan adiksi digital di tengah masyarakat. Dengan adanya alat ini, intervensi dapat dilakukan secara lebih terarah dan tepat sasaran.
Pilar kedua berfokus pada penyediaan materi edukasi promotif, atau raw materials promotif. Materi kampanye ini disusun berdasarkan kajian psikologis yang mendalam, memastikan isinya mudah dipahami dan relevan dengan konteks lokal. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan gawai yang sehat.
Terakhir, Undana akan menyusun standar operasional prosedur (SOP) layanan psikologis. SOP ini akan menjadi panduan bagi penanganan profesional bagi individu yang telah mengalami kecanduan digital berat. Hal ini memastikan bahwa mereka yang membutuhkan intervensi lebih lanjut mendapatkan dukungan yang sesuai dan terstruktur.
Edukasi Langsung dan Sosialisasi di Ruang Publik
Teori dan instrumen yang canggih tidak akan efektif tanpa implementasi di lapangan. Oleh karena itu, Undana Kupang tidak hanya berfokus pada pengembangan alat, tetapi juga aktif dalam sosialisasi langsung kepada masyarakat. Rektor Undana, bersama wakil rektor, dan 60 mahasiswa relawan dari program studi psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Kehumasan, turut serta dalam kegiatan ini.
Para mahasiswa relawan ini telah turun langsung ke berbagai ruang publik di Kupang. Mereka membagikan edukasi secara tatap muka, membawa pesan-pesan sederhana namun mendalam melalui selebaran kampanye. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan informasi sampai ke akar rumput dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Pesan utama yang disampaikan meliputi ajakan untuk menetapkan zona bebas gawai di rumah, seperti di meja makan atau kamar tidur. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka gawai pada 30 menit pertama setelah bangun pagi. Kebiasaan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada perangkat digital sejak dini.
Masyarakat juga diedukasi agar berani mengganti kebiasaan menatap layar tak berujung dengan aktivitas fisik atau interaksi sosial. Contohnya adalah berolahraga, berkebun, atau sekadar mengobrol tatap muka dengan keluarga. Inisiatif ini mendorong gaya hidup yang lebih seimbang dan interaksi sosial yang lebih berkualitas.
Mengatasi Dampak Negatif Digitalisasi dan Harapan Masa Depan
Peluncuran program Siber Sehat NTT ini didasari oleh keprihatinan terhadap minimnya interaksi sosial antar-sesama, khususnya di dalam keluarga. Rektor Undana menyoroti bahwa komunikasi kini lebih banyak dilakukan melalui gawai daripada dengan orang-orang di sekitar. Fenomena ini berpotensi merusak tatanan sosial dan hubungan interpersonal.
Dampak penggunaan gawai juga mencakup masalah serius seperti judi daring, pornografi, dan pinjaman daring yang merusak generasi muda saat ini. Undana menyadari urgensi untuk melindungi anak-anak dari bahaya-bahaya tersebut.
Undana sendiri telah melakukan riset mendalam terkait dampak digitalisasi, khususnya penggunaan gawai berlebihan pada anak-anak di NTT. Rektor Undana mengaku belum bisa merilisnya karena riset tersebut masih dalam proses lebih lanjut.
Rektor Undana berharap program tersebut dapat membantu orang tua dan anak-anak mengurangi penggunaan gawai secara berlebihan. Program ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan aman bagi pertumbuhan generasi penerus bangsa.
Sumber: AntaraNews