Samuel Wattimena, Desainer Ternama: Mengapa Keragaman Motif Kerajinan Indonesia adalah Kekayaan Tak Ternilai?
Anggota DPR RI Samuel Wattimena menyoroti bahwa keragaman motif kerajinan Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang tak boleh diseragamkan, mendorong kreativitas lokal.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, baru-baru ini menekankan bahwa keragaman motif yang melekat pada berbagai kerajinan seni di setiap daerah merupakan kekayaan tak ternilai bagi Indonesia. Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri Lomba Melukis Payung dan Kipas di Semarang, Minggu lalu.
Sebagai seorang desainer, Samuel Wattimena menyoroti bahwa keunikan ini lahir dari status Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan keragaman etnik. Ia berpendapat bahwa setiap daerah memiliki identitas seni budayanya sendiri, termasuk dalam motif kerajinan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar tren warna atau motif tidak dibatasi oleh standar industri besar dari luar negeri, melainkan dibiarkan berkembang sesuai kreativitas lokal. Hal ini penting untuk menjaga keaslian dan nilai seni budaya bangsa.
Pentingnya Melestarikan Identitas Lokal dalam Industri Kreatif
Samuel Wattimena menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki keunggulan pada keragaman etnik yang luar biasa. Keberagaman ini tercermin jelas dalam motif kerajinan seni yang dihasilkan di masing-masing daerah. Setiap motif adalah cerminan dari identitas budaya yang kuat.
Menurutnya, industri besar di luar negeri cenderung mengatur tren dan warna untuk keberlangsungan usaha mereka, namun kondisi di Indonesia sangat berbeda. Ia berpendapat bahwa pendekatan semacam itu tidak cocok diterapkan di tanah air.
"Jadi, menurut saya pribadi tidak boleh dibuat tren warna dan tren motif. Setiap elemen di setiap daerah, setiap etnik yang berbeda itu adalah titik-titik puncak dari karya-karya kreatif. Enggak boleh disamakan," ujar Samuel Wattimena. Pandangan ini menekankan pentingnya menghargai setiap ekspresi kreatif lokal.
Melestarikan identitas lokal dalam industri kreatif menjadi krusial agar kekayaan motif kerajinan Indonesia tidak luntur. Hal ini juga mendukung pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berakar pada budaya bangsa.
Potensi Ekonomi Kreatif dari Kerajinan Tradisional
Berkaitan dengan Lomba Melukis Payung dan Kipas, Samuel Wattimena sangat mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia melihat payung dan kipas memiliki potensi besar untuk menjadi ikon Indonesia sebagai negara tropis.
Pengembangan kerajinan payung dan kipas ini, lanjutnya, sangat mungkin dilakukan di desa-desa wisata di seluruh Indonesia. "Kita sebagai negara tropis butuh kipas, butuh payung," katanya, menyoroti kebutuhan fungsional sekaligus estetik.
Jika dipasarkan ke berbagai desa wisata, akan muncul beragam payung dan kipas yang memiliki identitas unik dari masing-masing desa. Ini akan menciptakan nilai tambah dan daya tarik tersendiri bagi pariwisata lokal.
Koordinator Penyelenggara Lomba, Teo Ruddy, menjelaskan bahwa acara ini diinisiasi oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Tujuannya adalah menumbuhkan ekonomi kreatif dan meningkatkan "value" desa-desa wisata serta pariwisata di Kota Semarang.
Antusiasme dan Tema Lomba Melukis Payung dan Kipas
Lomba Melukis Payung dan Kipas ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari masyarakat. Teo Ruddy menyebutkan bahwa total peserta mencapai 400 orang, terbagi rata menjadi 200 peserta untuk lomba lukis kipas dan 200 peserta untuk lomba lukis payung.
Peserta berasal dari berbagai rentang usia dan tidak dikenakan biaya pendaftaran, menunjukkan inklusivitas acara. Peserta membawa sendiri peralatan cat dan media mewarnai, sedangkan kanvas payung dan kipas disediakan oleh pemerintah kota.
Tema yang diusung dalam lomba ini adalah "Warak Ngendog", sebuah ikon khas Kota Semarang. Warak Ngendog merupakan hewan mitologi yang melambangkan akulturasi berbagai budaya yang ada di Semarang, menjadikannya simbol keberagaman.
Kriteria penilaian pemenang lomba meliputi keorisionalitas karya, kebersihan, dan kesesuaian dengan tema. Tema tersebut mencakup destinasi pariwisata Kota Semarang serta mitologi Warak Ngendog.
Sumber: AntaraNews