Samuel Wattimena: Pengembangan Desa Wisata Harus Berbasis Kearifan Lokal
Anggota DPR Samuel Wattimena menyerukan pentingnya Pengembangan Desa Wisata yang berakar pada kearifan lokal dan keunggulan unik masing-masing desa, bukan sekadar meniru tren.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Samuel Wattimena, menyerukan pentingnya pengembangan desa wisata yang berlandaskan kearifan lokal. Seruan ini disampaikan dalam acara "Sosialisasi Penguatan Promosi Desa Wisata Melalui Penyelenggaraan Event" di Semarang pada Sabtu, 15 November. Ia menekankan agar setiap desa memaksimalkan keunggulan unik yang dimilikinya.
Samuel Wattimena mengajak para pelaku pariwisata untuk memahami secara mendalam potensi dan ciri khas desa mereka. Hal ini penting agar pengembangan tidak hanya sekadar mengikuti tren, melainkan berakar pada identitas asli. Dengan demikian, setiap desa wisata dapat menawarkan pengalaman otentik kepada pengunjung.
Menurutnya, keunggulan desa bisa sangat beragam, mulai dari sumber mata air, hamparan sawah, kebersihan lingkungan, kuliner khas, hingga gaya hidup masyarakatnya. Pemahaman akan kelebihan ini menjadi fondasi utama dalam membangun daya tarik pariwisata yang berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan destinasi yang berkarakter kuat.
Menggali Keunikan dan Kearifan Lokal Desa
Samuel Wattimena menegaskan bahwa setiap desa wisata memiliki potensi kearifan lokal atau keunggulan yang berbeda-beda. Potensi ini bisa berupa kekayaan alam seperti mata air dan sawah luas, atau aspek budaya seperti kebersihan desa dan kuliner tradisional. "Mereka harus paham apa sih yang desa ini miliki, apa sih kelebihan desa ini," ujarnya.
Pentingnya memahami keunikan ini adalah agar masyarakat dan pengelola desa dapat menghargai apa yang mereka miliki. Tanpa penghargaan terhadap identitas sendiri, potensi desa tidak akan tergali secara maksimal. Hal ini menjadi kunci dalam menciptakan daya tarik yang otentik dan berkesan bagi wisatawan.
Pengembangan desa wisata harus berangkat dari pengenalan mendalam terhadap ciri khas yang ada. Ini mencakup identifikasi nilai-nilai budaya, tradisi, dan kebiasaan yang membedakan satu desa dengan desa lainnya. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap destinasi menawarkan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Menghindari Peniruan dan Memperkuat Identitas
Samuel Wattimena memperingatkan agar pengembangan desa wisata tidak dilakukan secara latah dengan meniru konsep desa lain. Meniru tanpa mempertimbangkan kearifan lokal yang sama hanya akan membuat desa sibuk mengikuti tren tanpa identitas jelas. "Akhirnya mereka cuma sibuk ngikutin, orang bilang harus gini, orang bilang harus gitu," katanya.
Pengelola desa wisata harus memiliki keteguhan untuk mengembangkan kearifan lokal yang dimiliki. Mereka perlu terus mengasah keunggulan yang menjadi ciri khas desanya. Dengan demikian, desa dapat membangun citra yang kuat dan tidak mudah goyah oleh permintaan yang tidak sesuai dengan karakternya.
Perbedaan antar desa wisata adalah kekuatan yang harus dipoles dan ditonjolkan. "Nah, yang belum kita punya ini, ini yang harus harus dipoles menurut saya. Karena setiap desa wisata pasti tidak sama," jelasnya. Memahami perbedaan ini memungkinkan setiap desa untuk menciptakan penawaran yang unik dan menarik.
Potensi Indonesia dan Nilai Gaya Hidup Lokal
Indonesia memiliki potensi desa wisata yang sangat melimpah, didukung oleh kebudayaan yang beragam. Namun, potensi ini tidak akan cukup tanpa diimbangi dengan kemampuan pengelolaan yang baik. "Kita punya semuanya di negeri ini. Kita punya kebudayaan yang berbeda-beda," kata Samuel Wattimena.
Bahkan, kearifan lokal yang selama ini menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia memiliki nilai yang tidak kalah dengan gaya hidup negara maju. Contohnya adalah kebiasaan makan dengan tangan atau berjalan tanpa alas kaki ("nyeker"). "Lifestyle kita itu sama sekali tidak menjadikan kita masyarakat kelas dua di dunia ini," tegasnya.
Kebiasaan "nyeker" atau makan dengan tangan, yang kini seolah terpinggirkan, sebenarnya sejalan dengan tren global seperti "slow living" dan "meaningful living". "Kita dari dulu udah gitu, malah kita jadi gamang karena info harus beralas kaki," ujarnya. Penting untuk menghargai dan mempromosikan kebiasaan unik ini sebagai bagian dari daya tarik wisata.
Sumber: AntaraNews