Anggota DPR Minta Warga Jaga Konsistensi dan Rasa Jawa dalam Tradisi Merti Desa di Semarang
Anggota DPR Samuel Wattimena menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan nuansa Jawa dalam Tradisi Merti Desa di Kabupaten Semarang agar tidak punah, sekaligus mengapresiasi keguyuban warga.
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, baru-baru ini menyerukan kepada masyarakat untuk senantiasa melestarikan Tradisi Merti Desa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ia secara langsung mengapresiasi semangat kebersamaan dan keguyuban yang ditunjukkan oleh warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dalam perhelatan budaya tersebut. Permintaan ini disampaikan saat dirinya menghadiri rangkaian acara merti desa di Desa Karangjati, Semarang, pada hari Minggu, 30 November.
Wattimena menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai tradisional dan kebersamaan yang terkandung dalam setiap pelaksanaan merti desa. Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan tradisi jauh lebih krusial dibandingkan kesempurnaan penampilan atau kostum yang digunakan. Hal ini menjadi peringatan agar tradisi luhur ini tidak luntur seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman yang semakin modern.
Ia juga secara khusus mengingatkan agar nuansa Jawa yang menjadi ciri khas tradisi di wilayah Kabupaten Semarang tetap dipertahankan. "Hati-hati. Jangan sampai kemudian kehilangan rasa Jawa-nya. Orang datang karena ingin melihat rasa Jawa-nya," tegas Wattimena. Pesan ini menggarisbawahi identitas budaya yang harus terus dijaga dalam setiap perayaan Tradisi Merti Desa agar tetap otentik dan menarik.
Pentingnya Konsistensi dan Pelestarian Nilai Budaya Lokal
Samuel Wattimena sangat mengapresiasi upaya warga Kelurahan Karangjati yang rela berdandan dengan berbagai jenis kostum untuk mengikuti kirab budaya. Ia menekankan bahwa semangat partisipasi dan konsistensi dalam melestarikan tradisi adalah hal utama, bukan sekadar tampilan semata. Kehadiran berbagai elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, menunjukkan kuatnya akar budaya di tengah-tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Konsistensi dalam menjalankan Tradisi Merti Desa menjadi kunci utama agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman. Wattimena mengungkapkan kekhawatirannya, "Kalau tradisi dan kebersamaan ini tidak dijaga, dikhawatirkan lima tahun ke depan merti desa akan hilang." Pernyataan ini menjadi pengingat serius bagi semua pihak akan ancaman kepunahan budaya jika tidak ada upaya pelestarian yang berkelanjutan dan dukungan penuh dari komunitas.
Selain konsistensi, menjaga "rasa Jawa" dalam tradisi merti desa di Kabupaten Semarang juga menjadi fokus perhatian. Wattimena menilai bahwa identitas lokal inilah yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Oleh karena itu, penting bagi penyelenggara dan masyarakat untuk memastikan bahwa setiap elemen dalam tradisi, mulai dari pakaian hingga ritual, tetap mencerminkan kekayaan budaya Jawa yang otentik dan mendalam.
Literasi, Narasi, dan Tanggung Jawab Lingkungan dalam Tradisi Merti Desa
Pekerjaan rumah lain yang juga perlu diperhatikan dalam pelestarian Tradisi Merti Desa adalah literasi dan narasi yang menyertai tradisi tersebut. Wattimena menyoroti pentingnya menjelaskan makna dan tujuan dari merti desa kepada khalayak luas, tidak hanya bagi warga lokal. "Merti desa ini mau apa. Untuk masyarakat di luar Jawa cukup penting," ujarnya, menunjukkan perlunya edukasi mengenai esensi dan filosofi di balik tradisi ini.
Ketua Panitia Tradisi Merti Desa di Desa Karangjati, Ardhi Kurnianto, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan wujud rasa syukur warga. Tradisi ini diisi dengan kirab budaya dan doa bersama, rutin digelar setiap tiga bulan menjelang ibadah puasa. Pelaksanaan yang konsisten sejak tahun 2019 ini diikuti oleh warga dari 17 RT di Desa Karangjati, menunjukkan partisipasi aktif dan semangat gotong royong seluruh komunitas dalam melestarikan warisan leluhur.
Selain aspek budaya dan spiritual, Wattimena juga mengimbau para peserta dan masyarakat yang hadir dalam merti desa untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan. Pesan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga harus selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Kebersihan menjadi cerminan dari penghargaan terhadap tempat di mana tradisi luhur ini dilangsungkan, sekaligus bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan alam.
Sumber: AntaraNews