Legislator Jabar Gelar Sapa Warga Berbasis Budaya di Garut, Perkuat Identitas Bangsa
Anggota DPRD Jabar menggelar Sapa Warga Berbasis Budaya di Garut selama tiga hari. Kegiatan ini bertujuan melestarikan seni dan budaya lokal sebagai identitas bangsa.
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Aten Munajat, belum lama ini sukses menggelar kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya di Kabupaten Garut. Acara ini merupakan inisiatif penting untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan serta kesenian daerah. Tujuannya adalah untuk menjaga dan memperkuat identitas bangsa di tengah gempuran modernisasi.
Kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya ini berlangsung di lapangan Alun-Alun Karangpawitan, Garut, selama tiga hari penuh. Dimulai sejak Jumat (12/12) dan berakhir pada Minggu (14/12), acara ini menarik perhatian banyak warga. Berbagai pertunjukan seni tradisional disajikan untuk menghibur sekaligus mengedukasi masyarakat setempat.
Aten Munajat menjelaskan bahwa inisiatif ini sangat krusial dalam upaya mempertahankan warisan budaya. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin mencintai dan memahami kekayaan seni serta budaya Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan visi untuk menciptakan masyarakat yang berwawasan luas dan memiliki sifat saling mengasihi.
Melestarikan Budaya Lokal dan Menguatkan Identitas Bangsa
Kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya yang diinisiasi oleh Aten Munajat memiliki fokus utama pada pelestarian seni dan budaya. Menurut Aten, "Tujuan dari Sapa Warga Berbasis Budaya ini untuk melestarikan budaya dan seni kita sebagai identitas diri bangsa." Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.
Selama tiga hari pelaksanaannya di Karangpawitan, beragam kelompok kesenian turut memeriahkan acara. Penampilan seperti pencak silat dan tarian jaipong berhasil memukau penonton. Puncak acara pada hari Minggu menampilkan pertunjukan wayang golek yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan pesan moral tentang nilai-nilai kehidupan.
Aten Munajat menyoroti peran wayang golek sebagai media penyebaran nilai-nilai luhur. Ia menyebutkan, "Penampilan wayang ini merupakan kesenian yang pernah waktu zaman dulu Sunan Kalijaga digunakan untuk penyebaran agama Islam melalui seni wayang." Ini menunjukkan bagaimana seni tradisional dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan ajaran dan kearifan lokal.
Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Nilai Spiritual
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, Sapa Warga Berbasis Budaya juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi. Kegiatan ini tidak hanya menjembatani hubungan antara anggota legislatif dengan masyarakat, tetapi juga antarwarga serta pelaku seni dan budaya. Interaksi ini penting untuk membangun komunitas yang harmonis dan saling mendukung.
Aten Munajat menekankan bahwa acara ini memiliki makna lebih dari sekadar pertunjukan. "Acara ini kita jadikan tidak hanya untuk pertunjukan tapi juga silaturahmi, kemudian pengingat untuk menjaga warisan, memuliakan seni, memuliakan nilai kemanusiaan," ujarnya. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya menghargai warisan budaya dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Nilai spiritual yang terkandung dalam kesenian dan kebudayaan diharapkan mampu menjadi pemersatu masyarakat. Hal ini juga berfungsi sebagai benteng jati diri bangsa dalam menjaga kesatuan dan persatuan. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai budaya, masyarakat akan memiliki wawasan serta sifat 'silih asah, silih asih, dan silih asuh', yang berarti saling mengasah, saling mengasihi, dan saling mengasuh.
Agenda Rutin untuk Pembangunan Karakter Bangsa
Kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya ini merupakan agenda rutin Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat. Program ini diselenggarakan setiap tiga bulan sekali di berbagai lokasi, termasuk Kabupaten Garut. Konsistensi penyelenggaraan menunjukkan komitmen legislatif terhadap pengembangan dan pelestarian budaya daerah secara berkelanjutan.
Program ini sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang memiliki tujuan mulia. Tidak hanya berfokus pada silaturahmi, tetapi juga pada pembentukan karakter masyarakat yang berbudaya. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat memaknai nilai-nilai kebudayaan yang mengajarkan tentang saling menjaga, mengasihi, dan mendidik.
Dengan demikian, tercipta tatanan masyarakat yang baik dan beradab, yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur budaya. Inisiatif Sapa Warga Berbasis Budaya menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah daerah dan legislatif dapat berkolaborasi dalam memajukan kebudayaan. Ini juga sekaligus memperkuat fondasi identitas nasional di tingkat lokal.
Sumber: AntaraNews