Anggota DPR Ajak Seniman Hadirkan Karya Seni Bermakna dan Komunikatif bagi Masyarakat
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengajak pelaku seni menciptakan Karya Seni Bermakna yang komunikatif, tak hanya indah, namun juga mampu menjadi penyeimbang sosial di tengah tantangan bangsa.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, mengajak seluruh pelaku seni dan kebudayaan di Indonesia untuk menciptakan karya yang tidak hanya estetis. Ia menekankan pentingnya seni yang memiliki nilai dan pesan mendalam, serta komunikatif bagi masyarakat luas.
Ajakan ini disampaikan dalam sebuah sarasehan yang berlangsung di Hills Joglo Villa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu, 21 Februari 2026. Acara tersebut mempertemukan berbagai komunitas, pemuda, dan pelaku seni yang tergabung dalam Jejaring Kolektif Semarang Serasi.
Samuel Wattimena menegaskan bahwa seni memiliki potensi besar sebagai "makanan jiwa" dan penyeimbang sosial di tengah berbagai tantangan bangsa. Oleh karena itu, seniman perlu mengedepankan makna dan relevansi sosial dalam setiap ekspresi kreatif mereka, bukan sekadar kepuasan personal.
Menggagas Seni yang Komunikatif dan Berpesan
Samuel Wattimena menegaskan bahwa seni seharusnya melampaui ekspresi personal dan mampu memberikan makna yang mendalam bagi masyarakat. Ia menyoroti pentingnya agar Karya Seni Bermakna dapat dipahami dan dirasakan pesannya oleh khalayak, bukan hanya dinikmati keindahannya semata. Hal ini menjadi krusial agar seni dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial.
Sebagai contoh, ia menyebutkan mural-mural di Desa Lerep yang, meskipun indah, perlu dilengkapi dengan narasi singkat atau penjelasan kontekstual. Tujuannya adalah agar pengunjung tidak hanya terpesona oleh visualnya, tetapi juga dapat menyelami pesan dan cerita di baliknya. Pendekatan ini akan memperkaya pengalaman apresiasi seni masyarakat.
Lebih lanjut, anggota DPR ini mengusulkan pemanfaatan teknologi modern, seperti kode QR, untuk menyajikan informasi kontekstual mengenai setiap karya seni. Inovasi ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan pemahaman antara seniman dan penikmat seni, menjadikan setiap Karya Seni Bermakna lebih mudah diakses dan diapresiasi secara mendalam oleh publik.
Wattimena menekankan bahwa ini bukan lagi saatnya bagi seniman untuk menonjolkan ego pribadi. Sebaliknya, fokus harus dialihkan pada bagaimana ekspresi seni dapat dipahami secara luas dan menjadi kekayaan bersama bagi seluruh masyarakat yang melihat serta merasakannya.
Seni sebagai Penyeimbang Sosial dan Ruang Dialog
Di tengah situasi bangsa yang penuh dengan berbagai tantangan, Samuel Wattimena menilai bahwa seni dan kebudayaan memiliki peran vital sebagai penyeimbang sosial. Karya Seni Bermakna dapat menjadi medium untuk menyuarakan aspirasi, mengkritisi kondisi, atau bahkan menyatukan berbagai elemen masyarakat melalui pesan-pesan universal yang dibawanya.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menambahkan bahwa forum lintas komunitas seperti sarasehan ini sangat penting. Forum semacam ini menyediakan ruang krusial untuk membangun perspektif kolektif dan memperkuat komunitas yang tumbuh secara organik di daerah. Dialog semacam ini adalah fondasi untuk kemajuan bersama.
Selama ini, Dimas mengakui adanya jarak antara pemerintah daerah dan komunitas seni karena minimnya ruang dialog yang memadai. Oleh karena itu, kehadiran forum seperti sarasehan ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang efektif. Ini akan mempertemukan berbagai pihak untuk berdiskusi, berbagi ide, dan merumuskan langkah-langkah kolaboratif ke depan.
Penguatan Kapasitas dan Akses Berkelanjutan Komunitas Seni
Tries Supardi, Koordinator Jejaring Kedungsepur Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah sekaligus Ketua Semarang Creative Consortium, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas komunitas seni. Ia menekankan bahwa peningkatan keterampilan dan pengetahuan merupakan kunci bagi keberlanjutan dan perkembangan ekosistem seni di tingkat lokal maupun regional.
Supardi menggarisbawahi bahwa ke depan, pemerintah di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi harus aktif mencari cara untuk memfasilitasi kebutuhan komunitas. Fasilitasi ini mencakup penyediaan pelatihan, pendampingan yang berkelanjutan, hingga akses terhadap pendanaan yang sifatnya tidak hanya sesaat, melainkan terus-menerus. Dukungan ini esensial untuk memastikan komunitas seni dapat terus berkarya.
Sarasehan ini dihadiri oleh beragam komunitas seni dan budaya, menunjukkan antusiasme tinggi dari para pelaku seni. Beberapa di antaranya adalah Ruang Berkembang, Hastha Muda Nyatnyono, Karang Taruna Lerep, Terasara, Pustaka Jalanan, Kemrincing Art, Omah Cikal, dan Tari Gecul Kridho Yudho Tomo. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya kolaborasi dan dialog dalam memajukan Karya Seni Bermakna.
Sumber: AntaraNews