Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, menekankan pentingnya Komite Ekonomi Kreatif (KEK) di tingkat kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk lebih mendalam dalam menggali seluruh potensi dan keunikan lokal masing-masing daerah. Hal ini disampaikan Samuel dalam acara "Jateng Crea6ve Festival/Forum ke-3" yang diselenggarakan di Semarang pada Sabtu malam. Ia berharap KEK dapat memperbanyak wawasan mengenai potensi yang ada di Jawa Tengah, kemudian mendata dan memeriksa kapasitas dari setiap potensi tersebut.
Menurut Samuel, setiap potensi lokal di daerah memiliki alur cerita atau historisitas tersendiri yang tidak boleh dilupakan dan harus disertakan dalam setiap produk atau karya yang dihasilkan. Konsep ini akan memberikan nilai tambah pada produk seperti tas, batik, atau gantungan kunci, menjadikannya lebih dari sekadar barang. Dengan demikian, produk tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga narasi yang kuat dan dapat dirasakan oleh konsumen.
Samuel Wattimena berharap 28 KEK yang telah terbentuk di kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat secara solid mengawali langkah pembinaan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Ia membayangkan, jika upaya penggalian potensi lokal ini berjalan dengan baik, Jawa Tengah akan memiliki setidaknya 35 representasi seni atau produk yang mencakup 17 sektor ekonomi kreatif dari seluruh kabupaten/kota. Ini menunjukkan optimisme terhadap masa depan ekonomi kreatif di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Gali Potensi Lokal dan Cerita Unik untuk Ekonomi Kreatif
Penggalian potensi lokal menjadi kunci utama dalam pengembangan ekonomi kreatif, sebagaimana ditekankan oleh Samuel Wattimena. Setiap daerah memiliki keunikan dan gagasan yang berbeda, yang seharusnya tidak hanya meniru tren yang sedang diminati. Mengembangkan ide-ide orisinal akan menciptakan produk yang memiliki daya tahan lebih lama di pasar, mengingat siklus popularitas produk yang diminati tinggi pada suatu saat akan mengalami penurunan.
Produk-produk ekonomi kreatif yang berhasil adalah yang mampu mengintegrasikan narasi dan historisitas daerah asalnya. Hal ini memberikan kedalaman dan makna pada produk, membuatnya lebih menarik bagi konsumen. Sebagai contoh, batik tidak hanya dilihat dari motifnya, tetapi juga dari kisah di balik pembuatannya atau filosofi yang terkandung dalam setiap corak.
Samuel sangat mengharapkan KEK dapat menggali lebih dalam potensi unik dan menarik dari setiap daerah yang akan mereka presentasikan. Ini bukan sekadar tentang kuantitas produk, tetapi juga kualitas narasi dan nilai yang ditawarkan. Dengan demikian, setiap daerah dapat menonjolkan identitasnya sendiri dan berkontribusi pada keragaman ekonomi kreatif Jawa Tengah.
Advertisement
Advertisement
Dukungan dan Geliat Ekonomi Kreatif di Jawa Tengah
Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif di Kementerian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, memberikan apresiasi tinggi terhadap geliat ekonomi kreatif di Jawa Tengah. Ia menyoroti peran aktif komunitas, pelaku ekonomi kreatif, dan creative trainer di wilayah tersebut. Jawa Tengah menjadi provinsi satu-satunya yang memiliki Komite Ekonomi Kreatif (KEK) terbanyak, dengan 28 dari 35 kabupaten/kota telah memiliki KEK.
Keberadaan KEK di sebagian besar kabupaten/kota menunjukkan bahwa geliat perkembangan kegiatan ekonomi kreatif di Jawa Tengah sudah sangat kuat secara komunitas. Ini adalah fondasi yang kokoh untuk terus mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif di daerah. Dukungan yang kuat dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, sangat diperlukan untuk memastikan ekosistem ini terus meningkat.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, pelaku ekonomi kreatif di Jawa Tengah diharapkan dapat semakin besar dan naik kelas. Ini berarti peningkatan kapasitas, jangkauan pasar, dan inovasi produk. Sinergi antara pemerintah, KEK, dan pelaku industri kreatif akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Jawa Tengah.
Advertisement
Sumber: AntaraNews