Masyarakat Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kembali menggelar Tradisi Sadranan. Ritual adat ini ditandai dengan penyembelihan 94 ekor kambing/domba yang dilaksanakan secara meriah. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur serta wujud syukur atas berkah yang diterima.
Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna, menyatakan bahwa Tradisi Sadranan adalah doa kepada para leluhur, khususnya Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo. Kedua tokoh tersebut dikenal sebagai penyebar nilai-nilai kebaikan dan keagamaan di wilayah setempat. Mereka telah memberikan teladan hidup bermasyarakat yang patut dilestarikan oleh generasi penerus.
Pelaksanaan Sadranan yang diadakan setiap dua tahun sekali ini menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong warga. Selain itu, tradisi ini juga merupakan permohonan keselamatan, ketentraman, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Desa Kembangsari. Daging kurban yang telah dimasak kemudian dibagikan kepada seluruh warga yang hadir.
Advertisement
Advertisement
Tradisi Sadranan di Dusun Pete bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah warisan budaya yang kaya makna. Menurut cerita para sesepuh, tradisi ini berakar dari jasa besar Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo. Mereka adalah figur sentral yang membentuk identitas spiritual dan sosial masyarakat setempat.
Kedua tokoh tersebut dihormati karena peran mereka dalam menyebarkan ajaran kebaikan dan nilai-nilai keagamaan. Kontribusi mereka telah menciptakan fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh toleransi. Oleh karena itu, Tradisi Sadranan menjadi cara masyarakat untuk mengenang dan menghargai perjuangan para leluhur.
Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna, menekankan pentingnya menjaga kelestarian tradisi luhur ini. Ia berharap Sadranan terus menjadi penguat nilai budaya dan spiritual bagi generasi mendatang. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan kearifan lokal.
Advertisement
Advertisement
Pelaksanaan Tradisi Sadranan di Dusun Pete selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh warga. Pada pelaksanaan kali ini, sebanyak 94 ekor kambing/domba disembelih sebagai bagian dari ritual utama. Proses penyembelihan dan pengolahan daging dilakukan secara bersama-sama, mencerminkan semangat gotong royong yang kuat.
Kepala Dusun Pete, Arif Fathoni, menjelaskan bahwa tradisi ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak menentu. Hal ini menunjukkan adaptasi tradisi agar tetap berkelanjutan tanpa membebani warga.
Daging kambing yang telah disembelih kemudian dimasak di tempat pelaksanaan acara. Setelah matang, daging tersebut dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat yang hadir. Pembagian ini tidak hanya sebagai bentuk sedekah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Advertisement
Advertisement
Tradisi Sadranan di Dusun Pete tidak hanya tentang ritual, tetapi juga tentang harapan dan doa. Melalui kegiatan ini, masyarakat memohon keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan kepada Allah SWT. Ini adalah manifestasi dari keyakinan spiritual yang mendalam.
Wakil Bupati Nadia Muna menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan adat ini. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah sangat penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi. Hal ini menunjukkan kolaborasi yang baik antara masyarakat dan pemangku kepentingan.
Melestarikan Tradisi Sadranan berarti menjaga identitas dan warisan budaya desa Kembangsari. Tradisi ini diharapkan dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Advertisement
Sumber: AntaraNews