Anggota DPR Ajak Pelaku Fesyen Lokal Bendung Thrifting Impor di Semarang
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengajak pelaku fesyen lokal di Semarang untuk membendung "thrifting" impor yang membanjiri pasar, dengan mengedepankan kreativitas dan kultur daerah.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, secara tegas mengajak para pelaku fesyen lokal untuk bersatu membendung maraknya produk "thrifting" atau baju bekas impor. Ajakan ini disampaikan mengingat semakin membanjirnya pasaran dengan barang-barang bekas dari luar negeri yang berpotensi menggerus industri fesyen dalam negeri. Inisiatif ini diharapkan dapat memicu semangat para desainer dan penggiat fesyen untuk lebih aktif dalam menciptakan karya-karya orisinal.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Samuel Wattimena di Semarang pada Jumat (28/11) lalu, dalam sebuah acara Workshop Promosi dan Pemasaran Bagi Pegiat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. Kota Semarang sendiri telah ditetapkan sebagai kota fesyen, sehingga tanggung jawab untuk mengembangkan dan melindungi industri fesyen lokal menjadi semakin besar. Samuel, yang juga dikenal sebagai desainer, merasa berkewajiban untuk memberikan pemahaman mendalam kepada para pelaku fesyen di kota tersebut.
Langkah membendung laju "thrifting" impor ini diyakini dapat dilakukan melalui penguatan identitas dan kreativitas lokal. Dengan mengangkat nilai-nilai budaya dan kekayaan desain dari daerah, produk fesyen lokal diharapkan dapat memiliki daya saing yang kuat. Hal ini tidak hanya akan melindungi pasar domestik dari serbuan produk impor, tetapi juga akan memperkaya khazanah fesyen nasional dengan sentuhan kearifan lokal yang unik dan otentik.
Membangun Identitas Fesyen Lokal Melalui Kreativitas
Samuel Wattimena menekankan pentingnya kemampuan "stylish" bagi para pelaku fesyen, yakni menciptakan gaya personal yang menarik dan harmonis. Kemampuan ini menjadi prioritas utama dalam menghadapi isu "thrifting" impor yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Menurutnya, masalah baju bekas impor ini menjadi persoalan serius karena semua berasal dari luar negeri dan tidak mencerminkan kultur lokal.
Untuk itu, Samuel mendorong para pelaku fesyen dan desainer, khususnya di Kota Semarang, untuk lebih aktif berkegiatan. Ia ingin karya-karya desainer lokal, siswa SMK, dan mahasiswa dapat lebih dihidupkan dan digaungkan. Dengan demikian, rasa memiliki masyarakat Semarang terhadap karya kreatif desain fesyen lokal bisa terstimulasi dan berkembang lebih kuat.
Kreativitas para desainer harus digaungkan lebih kencang agar masyarakat memiliki pilihan fesyen yang beragam. Samuel juga optimistis bahwa langkah ini dapat membendung membanjirnya "thrifting" impor. Terutama dengan mengangkat kultur kebudayaan daerah yang kaya akan nilai dan estetika, produk fesyen lokal akan memiliki identitas yang kuat dan berbeda.
Mengangkat Kultur Daerah sebagai Kekuatan Fesyen
Samuel Wattimena menegaskan bahwa barang-barang "thrifting" impor memiliki latar belakang kultur yang berbeda dengan Indonesia. Ia berpendapat bahwa kultur kejawaan, khususnya di Semarang, harus diperkuat sebagai fondasi fesyen lokal. Dengan memperkuat identitas budaya, masyarakat akan memiliki alternatif pilihan yang tidak kalah menarik dibandingkan produk impor.
"Karena barang-barang 'thrifting' ini kan sebetulnya 'background'-nya bukan kultur kita. Nah, kita dengan kultur kejawaan di sini, menurut saya harus diperkuat," ujar Samuel. Ia berharap, jika ada pakaian bekas dari luar negeri masuk, masyarakat tetap memiliki pilihan fesyen dengan karya-karya dari lokal yang mencerminkan budaya mereka sendiri.
Pilihan ini akan memberikan nilai tambah bagi konsumen, karena mereka tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga mendukung produk yang memiliki akar budaya kuat. Ini juga menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap produk dalam negeri. Dengan demikian, pasar fesyen lokal akan semakin kuat dan mampu bersaing secara sehat.
Dukungan Teknologi dan Kunci Keberlanjutan Ekonomi Kreatif
Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Amir Hamzah, menyatakan komitmen pihaknya untuk mencari talenta-talenta baru pelaku ekonomi kreatif. Kementerian berupaya mengikutsertakan para pelaku ekonomi kreatif di Semarang untuk mengenalkan tidak hanya desain fesyen, tetapi juga pemanfaatan teknologi dalam produksinya.
Pemanfaatan teknologi diyakini dapat menambah nilai suatu produk fesyen, sehingga nilai yang didapatkan para pelaku ekonomi kreatif juga akan bertambah. "Bagi pelaku ekonomi kreatif, kuncinya untuk bersaing harus berani bekerja keras, 'sustainable', terus-menerus, dan yang pasti harus kreatif," pungkas Amir Hamzah. Pesan ini menekankan pentingnya inovasi dan ketekunan dalam menghadapi tantangan pasar.
Dengan sinergi antara kreativitas desainer, dukungan pemerintah, dan pemanfaatan teknologi, industri fesyen lokal di Semarang diharapkan dapat berkembang pesat. Ini akan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kuat, mampu bersaing dengan produk global, dan pada akhirnya membendung dominasi "thrifting" impor.
Sumber: AntaraNews