Puluhan Santri di Bandung Sampaikan Kekecewaan ke Istri Ridwan Kamil
Aliansi Forum Santri Nusantara Bandung Raya mengunjungi kediaman mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya.
Puluhan santri yang tergabung dalam Aliansi Forum Santri Nusantara Bandung Raya melakukan aksi di depan kediaman mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya.
Aksi yang berlangsung pada Selasa (14/10) ini berlokasi di Jalan Gunung Kencana, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung.
Mereka hadir untuk menanggapi pernyataan Atalia mengenai rencana pembangunan kembali pondok pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengalami keruntuhan, dan mengingatkan agar penggunaan APBN dilakukan dengan hati-hati.
Sekitar pukul 15.00 WIB, massa yang datang dengan mobil komando ini mengenakan busana muslim, di mana para pria memakai peci dan wanita berkerudung.
Setelah tiba, mereka langsung membentangkan spanduk dan meneriakkan seruan 'pecat Atalia', yang diikuti dengan orasi yang menyampaikan tuntutan mereka.
Koordinator aksi, Riki Ramdan Fadilah, menegaskan bahwa pernyataan Atalia mengenai wacana pembangunan ulang pesantren Al Khoziny dapat memicu pandangan negatif terhadap pesantren.
"Yang kami protes adalah tentang beliau seperti tidak sepakat dengan anggaran APBD yang kemudian akan digunakan oleh pemerintah untuk membangun Alokon Zini, untuk membangun kembali pesantren Al Khoziny. Dengan mengatakan bahwa kemudian seakan-akan melempar isu, bilamana terjadi pelanggaran berat, izin pesantren tersebut bisa dicabut. Karena dua hal yang berbeda," ungkap Riki.
Lebih lanjut, ia menambahkan, "Tapi seakan-akan membangun opini di publik bahwa citra pesantren itu buruk. Bahwa citra pesantren itu tidak aman untuk menitipkan masa depan anak. Ini yang kemudian menjadi satu rasa sakit hati dari seluruh santri di Indonesia."
Dalam aksi tersebut, massa juga menyampaikan beberapa tuntutan, antara lain meminta Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk memecat Atalia Praratya dari Anggota DPR RI karena pernyataannya yang dianggap menimbulkan kegaduhan dan bertentangan dengan prinsip keadilan sosial serta konstitusi.
Selain itu, mereka juga menuntut agar Atalia melakukan klarifikasi dan meminta maaf secara terbuka kepada publik serta seluruh komunitas pesantren di Indonesia atas pernyataannya yang dianggap menyinggung perasaan umat dan keluarga korban tragedi Al Khoziny.
Tuntutan lainnya adalah agar Komisi VIII DPR RI menyusun Kebijakan Nasional Keselamatan Pesantren yang melibatkan Kementerian Agama, Kementerian PUPR, dan BNPB, untuk mencegah terulangnya tragedi serupa tanpa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.
Massa juga mendesak pemerintah dan DPR untuk memastikan hak-hak korban tragedi Al Khoziny, termasuk santunan keluarga korban serta bantuan medis dan psikososial bagi santri yang selamat.
Di samping tuntutan-tuntutan tersebut, aksi juga diwarnai dengan pembacaan puisi. Massa kemudian membubarkan diri sekitar pukul 15.50 WIB dengan melantunkan selawat.
Sebelumnya, Atalia Praratya, sebagai Anggota Komisi VIII DPR Fraksi Golkar, meminta agar pemerintah meninjau kembali penggunaan dana APBN untuk perbaikan Ponpes Al Khoziny.
"Usulan penggunaan APBN ini harus dikaji ulang dengan sangat serius, sambil memastikan proses hukum berjalan dan kebijakan ke depan lebih adil, lebih transparan dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial," kata Atalia.