Fakta Unik: Pesantren Sudah Ada Sebelum Merdeka! Anggota DPR Sesalkan Framing Negatif Pesantren, Mencederai Nilai Kebangsaan?
Anggota DPR RI Ansari menyesalkan adanya framing negatif pesantren di media nasional, yang dinilai mencederai nilai kebangsaan. Ia menekankan peran historis pesantren bagi NKRI dan mendesak evaluasi.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Ansari, menyuarakan keprihatinannya yang mendalam terkait adanya framing negatif terhadap lembaga pondok pesantren. Pernyataan tegas ini disampaikan Ansari di Pamekasan, Jawa Timur, pada Kamis lalu, menyoroti dampak serius dari narasi tersebut. Ia menilai bahwa pemberitaan negatif semacam itu telah secara langsung mencederai nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesia-an yang telah lama dijunjung tinggi.
Menurut Ansari, pondok pesantren bukan sekadar institusi pendidikan keagamaan semata, melainkan bagian integral yang tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Lembaga ini telah eksis jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dan secara konsisten berperan besar dalam mencerdaskan anak bangsa. Kontribusinya terhadap pembangunan karakter dan moral bangsa sangatlah signifikan dan tidak bisa diabaikan.
Melihat kondisi yang berpotensi menimbulkan perpecahan ini, Ansari mendesak institusi berwenang seperti Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera mengambil tindakan. Evaluasi menyeluruh terhadap program siaran dan pemberitaan yang berpotensi menimbulkan kegaduhan publik menjadi sangat krusial. Tujuannya adalah untuk menjaga keutuhan sosial, harmoni masyarakat, dan nilai-nilai luhur bangsa dari distorsi informasi.
Peran Historis Pesantren dalam Membangun Karakter Bangsa
Ansari menegaskan bahwa pondok pesantren telah memainkan peran krusial sejak masa penjajahan hingga era kemerdekaan Republik Indonesia. Lembaga pendidikan tradisional ini berkontribusi besar dalam membentuk karakter bangsa yang religius dan nasionalis, sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah mencatat dengan jelas bagaimana banyak ulama dari lingkungan pesantren yang kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional.
"Dalam sejarahnya, peran pesantren sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa," ujar Ansari, yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep. Ia menambahkan, "Banyak ulama yang menjadi pahlawan nasional, dan pemimpin besar Indonesia lahir dari lingkungan pesantren." Hal ini secara gamblang menunjukkan akar kuat pesantren dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan fondasi negara.
Politikus asal Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura ini secara tulus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghargai dan menghormati eksistensi pesantren. Menurutnya, pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari budaya yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi di tengah masyarakat Indonesia. Kontribusi pesantren terhadap NKRI dinilai sangat besar, multidimensional, dan tidak ternilai harganya, baik dari aspek pendidikan, sosial, maupun kebangsaan.
Ia juga menekankan bahwa tradisi pesantren telah menjadi pilar penting dalam menjaga moralitas dan spiritualitas masyarakat. Keberadaannya bukan hanya sebagai pusat ilmu agama, tetapi juga benteng pertahanan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan Pancasila. Oleh karena itu, upaya untuk mendiskreditkan pesantren sama saja dengan mencederai warisan budaya dan sejarah bangsa.
Desakan Evaluasi dan Pentingnya Menjaga Keutuhan Bangsa
Menyikapi framing negatif pesantren yang telah disiarkan, Ansari berharap peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Ia secara khusus meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers untuk segera bertindak tegas dan profesional. Kedua institusi ini diharapkan dapat mengevaluasi secara komprehensif program siaran dan pemberitaan yang membingkai tradisi pesantren secara negatif, yang berpotensi memicu keretakan sosial.
Ansari mengakui peran vital media massa sebagai kontrol sosial dalam sistem demokrasi, namun ia juga memberikan catatan penting. "Berita yang dibingkai dengan pandangan negatif, bagi saya bukan lagi mengontrol, akan tetapi justru membuka peluang terjadinya keretakan sosial dan ini harus dihindari," tegasnya. Ia menekankan bahwa keutuhan NKRI dan persatuan bangsa harus selalu menjadi prioritas utama di atas kepentingan lainnya.
Anggota DPR RI asal Kabupaten Pamekasan ini mengingatkan bahwa situasi kondusif di masyarakat adalah pertimbangan utama yang harus dipegang teguh dalam menyajikan informasi kepada publik. Ia yakin bahwa insan pers memiliki komitmen moral yang kuat untuk menjaga keutuhan bangsa ini. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak, termasuk pers sebagai salah satu pilar demokrasi bangsa, untuk bersama-sama menjaga dan merawat nilai-nilai kebangsaan serta persatuan.
Ansari menutup pernyataannya dengan harapan agar media dapat lebih bijak dalam menyajikan konten terkait lembaga keagamaan seperti pesantren. "Saya yakin insan pers dan media memiliki komitmen moral kuat menjaga keutuhan bangsa ini. Oleh karena itu, mari kita jaga bersama. Sebab sebagaimana legislatif, pers juga menjadi bagian dari pilar demokrasi bangsa ini," kata Ansari, menggarisbawahi tanggung jawab kolektif dalam menjaga stabilitas nasional.
Sumber: AntaraNews