DPR dan BPOM Gencarkan Edukasi Bahaya Penyalahgunaan Obat di Pariaman untuk Kesehatan Masyarakat
Anggota DPR RI dan BPOM bersinergi memberikan edukasi intensif kepada warga Pariaman mengenai bahaya penyalahgunaan obat, mencegah dampak serius pada kesehatan.
Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menggelar kegiatan edukasi di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko penyalahgunaan obat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan dampak negatif penggunaan obat yang tidak sesuai aturan.
Edukasi ini disampaikan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang berlangsung pada Sabtu lalu di Pariaman. Inisiatif ini penting mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahami sepenuhnya bahaya penyalahgunaan obat. Tujuannya adalah agar warga dapat lebih bijak dalam mengonsumsi obat-obatan.
Fokus utama sosialisasi adalah mencegah penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat disalahgunakan. Penggunaan obat di luar dosis yang dianjurkan dapat mengakibatkan halusinasi dan berdampak buruk pada kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah melalui BPOM dan DPR hadir untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.
Dampak Serius Penggunaan Obat Tidak Sesuai Dosis
Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama menyoroti maraknya penggunaan obat-obatan yang dikonsumsi tidak sesuai dosis di kalangan masyarakat. Praktik ini seringkali mengakibatkan halusinasi yang berujung pada masalah kesehatan serius. Obat sejatinya diproduksi untuk menyembuhkan penyakit, bukan untuk disalahgunakan atau dikonsumsi tanpa mengikuti aturan pakai yang benar.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Padang, Elyunaida, menambahkan bahwa banyak obat legal yang justru disalahgunakan oleh masyarakat. Penyalahgunaan ini bisa terjadi baik disengaja maupun tidak, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kesehatan. Contohnya, obat batuk yang diminum tanpa mengikuti dosis dapat menyebabkan kecanduan dan masalah kesehatan lainnya.
Wali Kota Pariaman Yota Balad juga menegaskan bahwa obat yang salah dosis atau disalahgunakan justru akan mendatangkan banyak penyakit. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai cara penggunaan obat sangat krusial. Edukasi BPOM penyalahgunaan obat menjadi sangat relevan untuk mencegah masalah ini.
Peran BPOM dan DPR dalam Pengawasan dan Edukasi
BPOM memiliki peran vital tidak hanya dalam mengawasi peredaran obat ilegal, tetapi juga dalam mengedukasi masyarakat tentang penyalahgunaan obat legal. Melalui kegiatan KIE ini, BPOM berupaya menjangkau lebih banyak warga. Tujuannya adalah untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Ade Rezki Pratama menekankan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahaya penyalahgunaan obat-obatan. Oleh karena itu, kehadiran pemerintah melalui BPOM sangat penting untuk memberikan pencerahan. Sosialisasi ini menjadi jembatan informasi antara regulator dan masyarakat.
Selain itu, edukasi juga mencakup peringatan terhadap iklan di media sosial yang menjanjikan efek instan dari obat-obatan. Iklan semacam ini seringkali mencurigakan dan berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya. Contohnya, obat pemutih yang awalnya memberikan efek instan namun kemudian bisa menyebabkan iritasi kulit seperti gatal-gatal.
Pentingnya Peran Keluarga dan Lingkungan
Elyunaida dari BPOM mengingatkan pentingnya peran keluarga, khususnya dalam mengawasi anak remaja. Kelompok usia ini cenderung mudah terpengaruh oleh teman sebaya untuk mencoba praktik penyalahgunaan obat tanpa mempertimbangkan akibatnya. Pengawasan orang tua dan lingkungan yang suportif sangat dibutuhkan.
Keluarga memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan anggota keluarganya memahami risiko penyalahgunaan obat. Komunikasi terbuka mengenai bahaya ini dapat menjadi benteng pertahanan. Edukasi BPOM penyalahgunaan obat diharapkan dapat menjadi bekal bagi keluarga untuk memberikan pemahaman yang tepat.
Sosialisasi yang dilakukan DPR dan BPOM ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah, seperti yang diungkapkan Wali Kota Pariaman, dalam memberikan edukasi berkelanjutan. Dengan demikian, kesadaran masyarakat akan bahaya penyalahgunaan obat dapat terus meningkat. Upaya kolektif ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan terhindar dari dampak buruk obat-obatan.
Sumber: AntaraNews