Polda Jatim Libatkan Ahli ITS untuk Analisis Struktur Bangunan dan Evakuasi Pakai Alat Berat di Ponpes Al Khoziny
Pemkot Surabaya juga mengerahkan mobil canggih yang dilengkapi alat life detector.
Kepolisian Daerah Jawa Timur mulai mengambil langkah teknis dalam penanganan insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, dengan melibatkan tim ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses evakuasi korban berjalan aman dan efektif.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto menyampaikan bahwa analisis struktur bangunan menjadi prioritas sebelum penggunaan alat berat dilakukan.
“Kami tidak ingin mengambil risiko yang bisa membahayakan tim evakuasi. Karena itu, kami libatkan ahli konstruksi dari ITS untuk menilai stabilitas bangunan sebelum alat berat diturunkan,” ujarnya, Selasa (30/9).
Menurut Nanang, kondisi bangunan yang masih labil membuat proses evakuasi harus dilakukan secara hati-hati. Tim SAR gabungan bersama TNI-Polri terus berupaya mengevakuasi korban yang diduga masih tertimpa reruntuhan, namun pergerakan bangunan yang terdeteksi pagi tadi menjadi tantangan tersendiri.
“Alat berat memang kami siapkan, tapi penggunaannya harus berdasarkan rekomendasi teknis. Kami juga sudah kerahkan peralatan pendukung seperti oksigen dan logistik untuk menjangkau korban yang masih hidup di bawah puing,” tambahnya.
Data jumlah korban masih terus diverifikasi di posko utama, dengan mencocokkan daftar santri yang berada di dalam pondok dan mereka yang telah berhasil dievakuasi. Kapolda menyebut, semalam tim masih mendengar suara dari dalam reruntuhan, namun belum bisa dipastikan kondisinya.
“Fokus utama kami tetap penyelamatan korban. Semua pihak kami ajak untuk mendoakan agar proses evakuasi berjalan lancar dan seluruh korban segera ditemukan,” tutup Nanang.
Sebelumnya, sebuah bangunan yang berdiri sebanyak 4 lantai di Pondok Pesanteren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo runtuh pada Senin (29/09) sekitar 15.35 WIB. Akibatnya, sejumlah orang termasuk para santri terjebak dalam reruntuhan hingga saat ini.