Pemerintah Kota Surabaya mengerahkan dukungan teknologi tinggi dalam upaya penyelamatan korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Satu unit mobil Heavy Duty Rescue (HDR) lengkap dengan peralatan deteksi korban tertimbun telah diterjunkan ke lokasi, termasuk life detector dan shot camera yang dirancang untuk menjangkau area sempit di bawah puing.
Mobil HDR yang dikirim oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya dilengkapi dengan sistem deteksi kehidupan seperti life detector—alat yang mampu menangkap sinyal detak jantung, suara, atau gerakan mikro dari korban yang masih hidup di bawah reruntuhan. Teknologi ini memungkinkan tim penyelamat mengidentifikasi posisi korban tanpa harus menggeser puing secara langsung, meminimalkan risiko tambahan.
Selain itu, mobil tersebut juga membawa shot camera, sebuah kamera mini yang dipasang pada stik fleksibel dan dapat dimasukkan ke celah-celah sempit. Alat ini memberikan visualisasi langsung dari dalam reruntuhan, membantu tim rescue melihat kondisi korban dan menentukan strategi evakuasi yang aman.
“Peralatan ini sangat membantu, terutama untuk mendeteksi korban yang tidak terlihat secara kasat mata. Dengan teknologi ini, kami berhasil menemukan santri atas nama Yusuf dan Haikal,” ujar Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, Selasa (30/9).
Tak hanya alat, dua regu personel DPKP dan satu pleton tim dari BPBD Surabaya juga diterjunkan ke lokasi. Mereka membawa perlengkapan tambahan seperti helm keselamatan, alat pemotong besi, mesin penyangga hidrolis, lampu sorot, dan jack hammer untuk mempercepat proses evakuasi.
Kepala BPBD Surabaya, Irvan Widyanto, menegaskan bahwa timnya terus berkoordinasi dengan Basarnas dan aparat provinsi.
“Kami fokus pada penyelamatan korban yang masih tertimbun. Peralatan dan personel kami siaga penuh di lokasi,” katanya.
Sebelumnya, sebuah bangunan yang berdiri sebanyak 4 lantai di Pondok Pesanteren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo runtuh pada Senin (29/09) sekitar 15.35 WIB. Akibatnya, sejumlah orang termasuk para santri disebut terjebak dalam reruntuhan hingga saat ini. Hingga kini 3 orang dinyatakan meninggal dunia dan 90 an korban lainnya dirawat di rumah sakit.
Advertisement