Petugas Kerahkan Drone Thermal dan Buat Gorong-gorong untuk Selamatkan Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Insiden ini terjadi karena reruntuhan dari tiga lantai dan bangunan dari lantai keempat yang sedang dibangun.
Petugas gabungan terus melakukan berbagai upaya evakuasi paling aman dalam penanganan insiden runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran Sidoarjo, Jawa Tmur. Salah satunya adalah pengerahan drone thermal dan membuat gorong-gorong untuk medeteksi dan mengevakuasi sejumlah korban yang tertimpa reruntuhan.
Kabasarnas Marsda Mohammad Syafii mengatakan, insiden ini terjadi karena reruntuhan dari tiga lantai dan bangunan dari lantai keempat yang sedang dibangun. Sehingga, mengakibatkan material-material beton yang bertumpuk-tumpuk.
"Yang terjadi di sini sebenarnya merupakan material-material beton yang bertumpuk-tumpuk. Karena reruntuhan dari tiga lantai dan bangunan dari lantai keempat yang sedang dibangun," katanya, Rabu (1/10).
Karena tingkat kesulitan yang ada, untuk mencari korban, pihaknya kini menggunakan teknologi yang dapat mendeteksi posisi korban berada di mana. Termasuk, mendeteksi tanda-tanda kehidupan atau justru sudah meninggal dunia.
"Kita memiliki teknologi. Mulai dari alat-alat detektor sampai kita menggunakan drone thermal," tambahnya.
Cara Kerja Sistem Alat
Ia menjelaskan, sistem alat ini bekerja kerja atas dasar suhu tubuh manusia yang melaksanakan aktivitas. Oleh karena itu, pihaknya kemarin sempat meminta untuk melakukan clear area, agar dapat melakukan pendeteksian melalui teknologi-teknologi tersebut.
"Kalau di situ banyak orang alat-alat ini tidak akan pernah bisa bekerja dengan baik. Karena itu sebenarnya kemarin misalkan ada tindakan untuk clear area. Semua personil diajak untuk keluar," tegasnya.
"Jadi kita mengharapkan operasi ini bisa segera kita selesaikan. Saat ini kita mengejar golden time karena dimungkinkan dari golden time inilah yang kita deteksi masih ada kehidupan ini masih memungkinkan untuk bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup. Sesuai teori memang 72 jam," tambahnya.
Namun pada saat pihaknya sudah bisa menyentuh korban dan sudah bisa menyuplai minuman, bahkan vitamin, memungkinkan yang korban ini bisa bertahan lebih lama.
Proses Evakuasi
Sementara itu, untuk melakukan proses evakuasi, pihaknya juga memakai metode membuat gorong-gorong di bawah tanah. Meski demikian, ia memahami terdapat resiko longsoran kembali jika menggunakan metode tersebut.
"Terkait dengan kesulitan kita tahu sendiri bahwa konstruksi yang saat ini terjadi reruntuhan ini satu titik ada getaran saja bisa menyebabkan dampak-dampak yang lain. Sehingga kita akan melakukan alternatif-alternatif tindakan. Saat ini untuk menyentuh ke titik korban, kita harus melalui, kita membuat gorong-gorong di bawah tanah," katanya.
"Pada saat kita membuat galian ini pun beresiko kiri kanan juga ada longsoran-longsoran kecil. Sehingga akses untuk bisa masuk hanya relatif di 60 cm. Karena ada di situ ada kolom-kolom beton-beton yang terjadi," jelasnya.