Material Bangunan Rapuh, Proses Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny Penuh Kendala
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa proses evakuasi korban di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa proses evakuasi korban di reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menghadapi tantangan ekstrem akibat kondisi struktur yang sangat tidak stabil.
"Material bangunan yang runtuh sangat rapuh. Sedikit getaran saja bisa memicu pergeseran puing, dan itu berisiko besar bagi tim penyelamat maupun korban yang masih tertimbun," ujar Emil, Selasa (30/9).
Ia menjelaskan bahwa tim dari Semarang dan Jakarta telah bergabung membawa peralatan khusus, seperti penyangga besar dan dongkrak mini yang dapat dioperasikan dari dalam puing. Tujuannya adalah menciptakan ruang aman agar proses evakuasi bisa dilakukan tanpa memicu pergerakan bangunan yang tersisa.
Evakuasi Butuh Ketelitian Tinggi
Menurut Emil, evakuasi harus dilakukan dengan tingkat ketelitian tinggi. Bahkan benda kecil yang jatuh di lokasi bisa menyebabkan pergeseran material. "Tadi ada relawan yang tak sengaja menjatuhkan alat, dan langsung terlihat pergerakan puing. Ini operasi yang sangat sensitif," katanya.
Ia juga meminta masyarakat dan keluarga korban untuk tidak masuk ke area reruntuhan demi keselamatan bersama. "Kami tahu semua menunggu dengan harap-harap cemas. Tapi mohon jangan memaksakan diri masuk. Tim sudah bekerja tanpa henti sejak kemarin," tegasnya.
Bangunan empat lantai Ponpes Al-Khoziny ambruk saat proses pengecoran lantai atas berlangsung. Ratusan santri berada di dalam gedung saat kejadian.
Puluhan korban telah dievakuasi, sementara pencarian terhadap santri yang masih tertimbun terus dilanjutkan dengan dukungan lintas tim penyelamat.