Evakuasi Dramatis di Ponpes Al Khoziny, Lima Korban Selamat Ditemukan
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, mereka yang ditemukan pada Rabu (1/10) sekira pukul 22.00 WIB.
Tim SAR gabungan kembali menemukan lima korban yang tertimpa reruntuhan bangunan salah satu gedung di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Proses evakuasi berlangsung intensif di tengah puing-puing yang masih labil pasca insiden tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, mereka yang ditemukan pada Rabu (1/10) sekira pukul 22.00 WIB.
"Sebanyak lima orang berhasil dievakuasi dalam kondisi masih hidup, namun satu orang dalam keadaan kritis dan memerlukan penanganan medis khusus. Seluruh penyintas itu segera dilarikan di RSUD Sidoarjo," kata Muhari dalam keterangannya, Kamis (2/10).
Di samping itu, tim SAR gabungan juga menemukan dua korban dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan ini sekaligus menambah data jumlah korban meninggal dunia atas insiden yang terjadi akibat kegagalan konstruksi menjadi lima orang.
"Setelah ditemukan, jenazah langsung dibawa ke RS Siti Hajar," ujarnya.
Pada Rabu (1/10) malam, tim SAR gabungan disebutnya melakukan asesmen ulang untuk memastikan kembali apakah masih terdapat tanda-tanda kehidupan terhadap satu dari enam orang yang sebelumnya diketahui terjebak di balik reruntuhan gedung dalam keadaan masih hidup.
"Apabila memang masih ditemukan tanda-tanda kehidupan, maka tim akan memaksimalkan pencarian dengan langkah-langkah yang harus diperhitungkan secara matang," sebutnya.
"Sebab, lokasi korban yang terakhir ini terdeteksi berada di posisi yang cukup sulit dan menantang, sehingga selain keahlian tentunya juga dibutuhkan strategi khusus agar korban maupun tim yang bertugas semuanya dapat selamat dalam operasi ini," sambungnya.
Dalam kondisi ini, penggunaan alat berat dijelaskannya berpotensi menambah risiko semakin tinggi. Sebab, struktur bangunan yang runtuh sangat labil terhadap guncangan.
Sehingga, apabila tetap dipaksakan menggunakan alat berat. Maka dikhawatirkan justru akan mengancam nyawa.
Selanjutnya, apabila tidak lagi ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan, maka BNPB bersama Basarnas dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, akan mengajak keluarga korban untuk kembali bermusyawarah dan memohon kesediaan dari segala keadaan yang ada.
"Adapun harapannya, babak baru dalam operasi SAR menggunakan alat berat dapat segera dilaksanakan guna mengangkat seluruh korban dengan berbagai kondisi," ucapnya.
Berdasarkan data sementara yang dimutakhirkan per Rabu (1/10) pukul 23.00 WIB, ada sebanyak 59 orang masih terjebak di dalam reruntuhan bangunan.
"Angka tersebut diperoleh dari daftar absensi yang dirilis oleh pihak pondok pesantren, termasuk dari laporan kehilangan pihak keluarga korban," ungkapnya.
"Adapun dinamika data yang berubah disebabkan dari berbagai hal, seperti nama-nama yang sebenarnya selamat atau tidak berada di tempat kejadian perkara saat insiden terjadi tidak melaporkan diri," katanya.