Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, telah memasuki fase krusial. Sejak Kamis, operasi ini beralih fokus ke tahap evakuasi korban meninggal dunia dengan bantuan alat berat. Perubahan strategi ini dilakukan setelah tim SAR gabungan menyelesaikan evaluasi menyeluruh di lokasi kejadian.
Keputusan penting ini diambil menyusul tidak ditemukannya lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan bangunan empat lantai tersebut. Tim SAR gabungan, dengan pertimbangan matang, menilai bahwa upaya penyelamatan korban selamat sudah tidak memungkinkan. Oleh karena itu, prioritas utama kini adalah mengevakuasi jenazah korban yang masih tertimbun.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengonfirmasi perubahan tahap operasi ini di Jakarta. Ia juga sempat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno untuk berdialog dengan keluarga korban, memastikan semua pihak memahami dan menyepakati langkah selanjutnya.
Advertisement
Advertisement
Perubahan Fokus Operasi SAR: Dari Penyelamatan ke Evakuasi
“Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim SAR gabungan memutuskan untuk masuk ke tahap selanjutnya, yaitu mengevakuasi korban yang meninggal menggunakan alat berat,” kata Suharyanto. Pernyataan ini menegaskan bahwa seluruh tim telah bersepakat untuk mengubah pendekatan operasi SAR Ponpes Al Khoziny.
Sebelumnya, proses evakuasi dilakukan sepenuhnya secara manual untuk menjaga keselamatan korban maupun tim penyelamat. Namun, dengan kondisi bangunan yang tidak stabil dan tidak adanya respons dari bawah reruntuhan, penggunaan alat berat menjadi pilihan yang tidak terhindarkan untuk mempercepat proses evakuasi.
Penggunaan alat berat ini diharapkan dapat membantu mengangkat material bangunan yang berat dan kompleks, sehingga tim dapat menjangkau area-area yang sebelumnya sulit diakses. Meskipun demikian, tim tetap mengedepankan kehati-hatian mengingat kondisi bangunan yang masih berpotensi runtuh lebih lanjut.
Advertisement
Advertisement
Kesepakatan Keluarga dan Data Korban Terkini
Suharyanto mengungkapkan bahwa keluarga korban telah menyepakati kelanjutan operasi SAR menggunakan alat berat. Mereka menyatakan siap menerima hasil evakuasi, termasuk jika yang ditemukan adalah jenazah. “Keluarga korban sudah sepakat dan meminta kami melanjutkan operasi SAR menggunakan alat berat. Mereka sudah menandatangani berita acara,” ujarnya.
Kesepakatan ini dicapai setelah dialog intensif antara pihak pemerintah dan keluarga korban, yang mengikuti rangkaian operasi SAR dari luar zona runtuhan pesantren. Dukungan dari keluarga menjadi faktor penting dalam kelancaran dan legitimasi operasi yang sedang berlangsung.
Berdasarkan data BNPB hingga Kamis sore, total 108 korban telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Dari jumlah tersebut, 30 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 73 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis. Sayangnya, lima orang ditemukan meninggal dunia, dan masih ada 58 orang lainnya yang hingga kini masih dalam pencarian. Tim terus bekerja keras dengan kehati-hatian maksimal untuk menemukan semua korban.
Advertisement
Sumber: AntaraNews