Jelang Idul Adha, Enam Sapi di Semarang Terpapar PMK dan Diisolasi
Temuan tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan pengawasan dan langkah penanganan guna mencegah penyebaran penyakit ke ternak lainnya.
Dinas Pertanian Kota Semarang mencatat sebanyak enam ekor sapi terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) berdasarkan hasil pemeriksaan petugas kesehatan hewan. Temuan tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan pengawasan dan langkah penanganan guna mencegah penyebaran penyakit ke ternak lainnya.
"Ada enam kasus PMK di Kecamatan Ngaliyan dan Banyumanik. Kondisinya sedang proses penyembuhan dan perkembangan sudah bagus," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shoti’ah, Selasa (26/5).
Dia menyebutkan temuan kasus ada di Kecamatan Ngaliyan, ada seekor anak sapi atau pedet dilaporkan mati dengan gejala yang mengarah pada PMK.
"Jadi ada satu pedet yang mati dan itu belum divaksin karena masih kecil. Tapi kondisi ternak yang terdampak mulai membaik setelah dapat penanganan dari dokter hewan dan pengawasan intensif dari petugas," ungkapnya.
Pencegahan Penularan
Sebagai langkah pencegahan penularan, Dinas Pertanian langsung menerapkan isolasi terhadap ternak yang menunjukkan gejala PMK agar tidak menyebar ke hewan lain di sekitar kandang.
"Kalau sudah terindikasi PMK memang harus diisolasi supaya tidak menular ke ternak lainnya,” jelasnya.
Para peternak di Kota Semarang kini dinilai lebih sigap dalam mengenali gejala PMK serta memahami langkah penanganannya. Dengan demikian membuat kondisi penyakit lebih terkendali dibandingkan saat awal wabah merebak.
"Sekarang peternak sudah lebih paham bagaimana cara menangani dan memperhatikan ternaknya saat ada gejala PMK,” ujarnya.
Menggencarkan Vaksinasi PMK
Di tengah temuan kasus tersebut, Dinas Pertanian Kota Semarang terus menggencarkan vaksinasi PMK sebagai langkah antisipasi, terutama menjelang meningkatnya mobilitas hewan kurban menjelang Idul Adha.
"Vaksin rutin sudah dijadwalkan oleh petugas kesehatan. Khususnya untuk meningkatkan kekebalan ternak sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit," katanya.