Perbedaan Idul Fitri 1447 H: Muhammadiyah Ajak Saling Menghargai Metodologi Penetapan
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyerukan pentingnya saling menghargai perbedaan penetapan 1 Syawal pada Idul Fitri 1447 H. Ini menjadi kesempatan baik untuk memahami metodologi yang beragam.
Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia kembali diwarnai perbedaan dalam penetapan 1 Syawal. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melihat kondisi ini sebagai momentum berharga untuk memperkuat toleransi dan saling menghargai. Situasi ini bukan kali pertama terjadi, melainkan fenomena berulang yang membutuhkan kedewasaan umat.
Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal Muhadjir Effendy menegaskan bahwa perbedaan tersebut bersumber dari argumentasi yang sama-sama kuat. Beliau menyerukan agar perbedaan metodologi ini tidak perlu dipertajam, melainkan dijadikan ajang untuk memahami perspektif yang berbeda.
Momen Idul Fitri, meskipun dengan tanggal yang berbeda bagi sebagian umat, tetap menjadi hari kemenangan. Ini adalah kesempatan untuk menjaga silaturahim dan merayakan keberhasilan menjalani ibadah puasa Ramadan.
Pentingnya Menghargai Perbedaan Penetapan 1 Syawal
Muhadjir Effendy, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, menekankan bahwa perbedaan penetapan 1 Syawal pada Idul Fitri 1447 Hijriah merupakan kesempatan baik untuk saling menghargai. Menurutnya, masing-masing pihak sudah memiliki argumen yang sama-sama kuat dan hal itu sangat dimungkinkan terjadi.
Beliau mengutip tausiah Muhammad Quraish Shihab di Istana Negara yang menyatakan bahwa seseorang hendaknya berpuasa ketika menyaksikan bulan Ramadan. Kata "menyaksikan" dalam bahasa Arab, "syahidah", juga dapat diartikan sebagai menghitung berdasarkan pengetahuan.
Muhadjir menjelaskan bahwa keyakinan terhadap Tuhan, seperti bersyahadat, memiliki kemiripan dengan perbedaan metodologi ini. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa perbedaan metodologi ini tidak perlu dipertajam. Menghormati perbedaan semacam ini sejalan dengan khutbah Salat Idul Fitri yang menekankan pentingnya terus menjaga silaturahim dengan sesama.
Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah
Pada tahun 2026, Muhammadiyah akan menggunakan kalender Hijriah global tunggal sebagai pedoman penetapan awal bulan. Konsep ini berarti keberadaan hilal atau "wujudul hilal" tidak hanya diukur di wilayah tertentu, tetapi berlaku secara global.
Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa jika hilal muncul di Alaska pada tanggal 1, maka penetapan tersebut berlaku untuk seluruh dunia, tidak hanya di Alaska saja. Pendekatan ini menunjukkan upaya Muhammadiyah untuk menyatukan patokan penanggalan Hijriah.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Fadhil Mahdi menambahkan bahwa perbedaan perayaan Idul Fitri bukanlah hal baru. Penerbitan kalender Hijriah global tunggal oleh Muhammadiyah ini merupakan bentuk syiar bagi seluruh umat Muslim, baik warga biasa maupun pihak yang memiliki otoritas.
Harapan Umat Islam untuk Kalender Terpadu
Fadhil Mahdi mencontohkan bahwa kalender global ini bisa digunakan bersama penanggalan Masyayikh, yang memiliki hari yang sama namun hanya berbeda beberapa jam saja. Hal ini menunjukkan potensi konvergensi dalam penentuan tanggal-tanggal penting.
Ada harapan besar agar ke depannya umat Islam dapat mengadopsi kalender Hijriah yang pakem dan seragam. Kalender yang terpadu ini diharapkan dapat mencakup bulan-bulan suci seperti Ramadan, Syawal, dan Idul Adha.
Meskipun ada perbedaan, semangat Lebaran tetap terasa. Fadhil Mahdi sendiri mengaku merayakan Idul Fitri dan kemudian mengunjungi keluarga yang merayakan pada hari berikutnya, sehingga mendapatkan "dua kali makan" atau "dua kali Lebaran". Ia bersyukur dapat melaksanakan ibadah Ramadan dengan sempurna dan berharap dapat lebih baik lagi di Ramadan berikutnya.
Sumber: AntaraNews