Muhammadiyah Hormati Perbedaan Idul Fitri 1447H: Peluang Emas Jaga Persatuan Umat
Muhammadiyah memandang perbedaan penentuan 1 Syawal untuk Idul Fitri 1447H sebagai peluang berharga untuk menghormati perbedaan, menegaskan validitas alasan masing-masing pihak.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Muhammadiyah melalui Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, menyatakan perbedaan penetapan 1 Syawal untuk Idul Fitri 1447 Hijriah merupakan kesempatan berharga untuk menghormati perbedaan. Perbedaan ini tidak perlu dibesar-besarkan karena setiap pihak memiliki alasan yang valid dan sama-sama kuat.
Pernyataan ini disampaikan Muhadjir Effendy usai menunaikan salat Idul Fitri di Jakarta pada hari Jumat. Beliau menekankan bahwa perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan yang dipertajam.
Muhammadiyah mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan momen Idul Fitri ini sebagai ajang mempererat tali silaturahmi dan memahami perspektif yang beragam. Hal ini sejalan dengan khutbah Idul Fitri yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan.
Memahami Perbedaan Metodologi Penentuan Idul Fitri
Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa setiap pihak yang menentukan awal Syawal memiliki alasan kuat yang sama-sama sah. Beliau merujuk pada khutbah Muhammad Quraish Shihab di Istana Negara, yang menyebutkan bahwa siapa pun yang menyaksikan bulan Ramadan, hendaknya berpuasa.
Istilah "menyaksikan" dalam bahasa Arab adalah shahida, yang juga dapat diartikan sebagai menghitung berdasarkan pengetahuan. Ini menunjukkan adanya landasan ilmiah dalam penentuan awal bulan.
Prinsip yang sama berlaku dalam mengucapkan syahadat, di mana akal sehat mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah. Oleh karena itu, perbedaan metodologi ini tidak perlu terlalu dibesar-besarkan.
Peran Kalender Hijriah Global Muhammadiyah
Muhammadiyah telah mengadopsi kalender Hijriah global tunggal sebagai pedoman penentuan awal bulan. Dalam sistem ini, penampakan bulan baru diukur secara global, bukan hanya di wilayah tertentu, sebagai hasil tajdid atau pembaruan.
Sebagai contoh, pada tahun ini, bulan baru kebetulan terlihat pertama kali di Alaska. Penampakan tersebut dianggap valid secara global oleh Muhammadiyah untuk penetapan awal bulan hijriah bagi seluruh dunia.
Fadhil Mahdi, Kepala Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), menambahkan bahwa perbedaan perayaan Idul Fitri bukanlah kejadian yang terisolasi. Muhammadiyah telah merilis kalender Hijriah global tunggal sebagai cara untuk berbagi metodologi ini kepada seluruh umat Muslim.
Ia mencontohkan kalender ini bisa digunakan bersama penanggalan Masyayikh, di mana tanggalnya tetap sama meskipun hanya berbeda beberapa jam saja. Harapannya, umat Muslim dapat mengadopsi pendekatan ini agar kalender Hijriah standar dapat diterapkan untuk semua bulan, termasuk Ramadan, Syawal, dan Idul Adha.
Menjaga Silaturahmi di Tengah Perbedaan
Menurut Muhadjir Effendy, menghormati perbedaan ini sejalan dengan pesan khutbah Idul Fitri yang disampaikan di lokasi tersebut, yakni tentang pentingnya terus menjaga tali silaturahmi dengan sesama.
Perbedaan dalam penetapan hari raya seharusnya tidak mengurangi esensi persatuan umat. Justru, momen ini dapat menjadi pengingat akan kekayaan interpretasi dan metodologi dalam Islam.
Muhammadiyah terus berupaya menyosialisasikan kalender Hijriah globalnya, tidak hanya kepada masyarakat umum, tetapi juga kepada pihak berwenang. Tujuannya adalah untuk menciptakan pemahaman yang lebih luas dan kesatuan dalam penentuan hari-hari besar Islam, serta menghilangkan ketidakpastian menuju kepastian.
Sumber: AntaraNews