Pemerintah Genjot Pengelolaan Sampah Indonesia, Praktik Open Dumping Turun Drastis
Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen serius dalam upaya pengelolaan sampah, berhasil menekan praktik open dumping hingga 66 persen dan menargetkan peningkatan signifikan dalam penanganan limbah secara nasional.
Pemerintah Indonesia berhasil mencatat penurunan signifikan dalam praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping. Angka ini turun menjadi 66 persen dari sebelumnya 90 persen pada tahun lalu. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan kabar baik ini setelah kegiatan bersih-bersih lingkungan di Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (14/2).
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmen pemerintah untuk mengakhiri praktik open dumping, yaitu pembuangan sampah di tumpukan terbuka tanpa proses lebih lanjut. Beliau menekankan bahwa undang-undang telah mengamanatkan penghentian praktik ini sejak tahun 2013, sehingga upaya saat ini merupakan tindak lanjut yang sudah lama tertunda.
Langkah serius dari para wali kota dan kepala daerah mulai terlihat pada tahun 2026, menyusul peringatan yang dikeluarkan pada tahun 2024 dan 2025. Upaya ini bertujuan mencapai target 100 persen pengelolaan sampah, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Penurunan Drastis Praktik Open Dumping dan Target Ambisius
Penurunan praktik open dumping yang mencapai 66 persen dari 90 persen dalam setahun terakhir merupakan indikator positif dari keseriusan pemerintah dalam menangani masalah sampah. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa tingkat pengelolaan sampah saat ini telah mencapai 24,95 persen, meningkat pesat dari 10 persen pada awal tahun lalu.
Pemerintah menargetkan peningkatan laju pengelolaan sampah menjadi 64,3 persen pada akhir tahun 2026. Untuk mencapai target ambisius ini, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mendesak para kepala daerah untuk mengoptimalkan fasilitas yang ada. Fasilitas tersebut mencakup bank sampah atau pusat daur ulang komunitas, serta mendorong upaya bersih-bersih komunal.
Dorongan ini diharapkan dapat mempercepat transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Partisipasi aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi
Selain upaya di tingkat daerah, pemerintah juga menyiapkan strategi pengelolaan sampah skala nasional yang melibatkan teknologi canggih. Presiden Prabowo Subianto, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta pada Jumat (13/2), memaparkan strategi Indonesia untuk mengatasi akumulasi sampah di tempat pembuangan akhir.
Strategi ini mencakup pengerahan teknologi pengolahan mikro yang dikembangkan oleh universitas-universitas domestik ke desa-desa. Presiden Prabowo berharap peralatan ini dapat disebarkan ke setiap desa dan kelurahan pada tahun 2026, sehingga sampah dapat dikelola pada tingkat lokal.
Untuk pengolahan sampah skala besar, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia sedang menginisiasi proyek pembangkit listrik tenaga sampah (Waste-to-Energy/WtE) di sejumlah daerah. Proyek ini akan dilaksanakan melalui kolaborasi antara dana abadi negara Danantara Indonesia dan pemerintah daerah, menunjukkan pendekatan komprehensif dalam pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
Sumber: AntaraNews