Nadiem Mengaku Pertemuan dengan Petinggi Google Dilakukan Terbuka: Ada Narasi Jahat
Nadiem menegaskan seluruh pertemuan dilakukan terbuka, tercatat, dan melibatkan banyak pihak.
Mantan Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim membantah tudingan adanya pertemuan tertutup dan mufakat jahat dengan Google terkait pengadaan Chromebook. Dia menegaskan seluruh pertemuan dilakukan terbuka, tercatat, dan melibatkan banyak pihak.
Hal itu diungkap Nadiem di sela-sela skors sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook di di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/1).
"Ini lucu sekali bahwa pertemuan dengan Google yang terbuka dicatat secara formal dengan berbagai pihak-pihak itu dibilang seolah-olah seperti ada pertemuan atau mufakat yang jahat padahal itu transparan dan terbuka," kata Nadiem kepada wartawan, Senin (26/1).
Menurut Nadiem, pertemuannya dengan Google di 2020 hanya terjadi dua hingga tiga kali. Bahkan, dia mengaku lebih sering bertemu kompetitor Google. Dalam tahun yang sama, Nadiem menyebut bertemu Microsoft sebanyak empat kali dan Apple dua kali.
"Tapi yang enggak pernah dilaporkan, saya bertemu dengan Google mungkin 2-3 kali di 2020, tebak berapa kali saya ketemu Microsoft? 4 kali, saya ketemu 4 kali dengan yang membuat Windows kompetitor mereka. Saya juga ketemu dengan Apple 2 kali di tahun yang sama," ujar dia.
"Jadinya ini adalah suatu narasi yang seolah-olah saya bertemu itu sesuatu hal yang jahat padahal saya lebih banyak ketemu Microsoft dari pada Google," sambung dia.
Alasan Memilih Chrome
Soal pemilihan Chrome OS, Nadiem menegaskan kebijakan itu diambil karena pertimbangan panjanng. Menurutnya, Chrome OS lebih murah dibanding Windows, baik dengan maupun tanpa device management.
"Jadi dengan atau tanpa device management, Chrome itu masih menghemat anggaran," ucap dia.
Dia menyebut lisensi Chrome OS hanya sekitar 30 dolar AS per laptop untuk seumur hidup. Sementara lisensi Windows minimal 50 dolar AS, sehingga penggunaan Chrome OS dinilai tetap lebih hemat.
"Jadi bagaimanapun Chrome OS kebijakan itu menghemat anggaran yang sangat besar," ucap dia
Nadiem juga menegaskan kerja sama Google dengan Kemendikbudristek sudah berlangsung jauh sebelum dirinya menjabat menteri. Bahkan, pembahasan Chrome Device Management (CDM) dan pengadaan Chromebook sudah dilakukan oleh kementerian sebelumnya.
"Terbukti di sidang hari ini bahwa Google sudah bekerja sama dan berkolaborasi dengan pihak kementerian jauh sebelum saya menjadi menteri. Dan bahkan sudah membahas CDM, sudah membahas. Dan Kementerian sebelumnya sudah melakukan pengadaan Chromebook dengan harga sekitar Rp 5,2 juta atau Rp 5,3 juta," ucap dia.
Dia menyebut di eranya, harga pengadaan sekitar Rp 5,5 juta hingga Rp 5,8 juta, jauh dari isu Rp10 juta yang ramai beredar.
"Banyak hoaks hoaks tersebar di masyarakat bahwa harga laptop zaman saya Rp 10 juta. Salah kisarannya sekitar Rp 5,5 sampai dengan Rp 5,8 juta. Gak beda jauh dengan harga yang dibeli sebelum di masa Pak Muhadjir sedangkan sekarang di permasalahkan. Zaman dlu tidak ada masalah," tandas dia.