MRP Kecam Keras Penembakan Pilot Smart Air dan Serangkaian Kekerasan di Papua
Majelis Rakyat Papua (MRP) mengecam keras aksi penembakan terhadap pilot dan kopilot Smart Air di Boven Digoel, serta serangkaian kekerasan lain yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
Jayapura – Majelis Rakyat Papua (MRP) menyatakan kecaman keras terhadap insiden penembakan yang menargetkan pilot dan kopilot maskapai Smart Air di wilayah Boven Digoel, Papua Selatan. Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, dan diduga kuat dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Wakil Ketua II MRP, Max Ohee, menegaskan bahwa tindakan kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang hak asasi manusia. Kecaman MRP tidak hanya tertuju pada penembakan pilot dan kopilot Smart Air, tetapi juga insiden lain yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Ohee secara spesifik menyoroti penembakan seorang warga sipil, yang merupakan sopir tangki air di Kabupaten Yahukimo pada Rabu, 11 Februari 2026, serta penembakan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Mimika pada Kamis, 12 Februari 2026, yang mengakibatkan satu prajurit gugur. MRP menganggap semua aksi ini sebagai pelanggaran berat terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Pelanggaran Berat Nilai Kemanusiaan
Max Ohee dengan tegas menyatakan bahwa serangkaian penembakan yang dilakukan oleh KKB merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Menurutnya, tindakan yang menargetkan warga sipil dan aparat keamanan ini tidak menunjukkan rasa kemanusiaan sama sekali.
MRP menekankan bahwa keberadaan maskapai penerbangan, termasuk Smart Air, serta aparat keamanan di wilayah Papua bertujuan untuk melayani masyarakat. Mereka hadir untuk menjangkau daerah-daerah yang masih sulit diakses dan memastikan kelancaran distribusi logistik serta menjaga stabilitas.
Oleh karena itu, MRP menganggap KKB telah salah sasaran dalam tindakan mereka. Pilot, kopilot, dan warga sipil yang menjadi korban bukanlah musuh, melainkan bagian dari elemen yang berupaya mendukung kehidupan masyarakat di Papua.
Kecaman ini merupakan bentuk solidaritas MRP terhadap korban dan penolakan keras terhadap segala bentuk kekerasan yang mengganggu kedamaian serta pembangunan di tanah Papua. MRP berharap tidak ada lagi insiden serupa di masa mendatang.
Dukungan untuk Aparat Keamanan dan Himbauan Masyarakat
Dalam pernyataannya, MRP juga menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya aparat keamanan dalam melindungi masyarakat Papua dari ancaman KKB. MRP mengakui peran penting aparat dalam menjaga ketertiban dan keamanan di daerah-daerah rawan konflik.
MRP mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terprovokasi dan tetap menjaga keamanan serta ketertiban di lingkungan masing-masing. Stabilitas keamanan adalah kunci utama bagi kemajuan dan kesejahteraan Papua.
Kerja sama antara masyarakat dan aparat keamanan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Dengan demikian, pembangunan dapat berjalan lancar dan masyarakat dapat hidup tenang tanpa bayang-bayang kekerasan.
Himbauan ini menjadi penting mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh aksi-aksi kekerasan, tidak hanya terhadap korban langsung tetapi juga terhadap psikologis dan sosial masyarakat Papua secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews