Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melakukan penembakan terhadap pesawat Smart Air. Insiden tragis ini terjadi di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, pada Rabu (11/2) lalu. Penembakan tersebut mengakibatkan tewasnya pilot Egon dan kopilot Bhaskoro Adi Anggoro.
Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menegaskan bahwa tindakan yang diduga dilakukan oleh KSB (Kelompok Sipil Bersenjata atau KKB) ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Komnas HAM menyoroti bahwa segala bentuk serangan terhadap warga sipil, baik dalam situasi perang maupun non-perang, merupakan pelanggaran serius. Pelanggaran ini mencakup hukum Hak Asasi Manusia dan humaniter internasional, yang harus dihormati oleh semua pihak.
Anis Hidayah menambahkan bahwa tindakan KKB ini secara jelas melanggar hak hidup dan hak atas rasa aman, yang merupakan hak fundamental. Hak-hak ini tidak dapat dikurangi dalam situasi apa pun, menegaskan urgensi perlindungan hak asasi manusia. Komnas HAM juga turut menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga korban yang ditinggalkan, serta menaruh perhatian serius terhadap peristiwa ini.
Advertisement
Advertisement
Komnas HAM mengutuk keras tindakan penembakan pesawat Smart Air oleh KKB sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Anis Hidayah secara tegas menyatakan bahwa serangan terhadap warga sipil, baik oleh aktor negara maupun non-negara, merupakan bentuk pelanggaran hukum HAM dan humaniter internasional. Ini mencakup hak hidup dan hak atas rasa aman yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apapun.
Pihak Komnas HAM saat ini tengah mengumpulkan informasi dan melakukan langkah-langkah pemantauan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mereka juga mengamati munculnya pola baru aksi kekerasan dan konflik bersenjata di wilayah Papua Selatan. Pola kekerasan ini menimbulkan kekhawatiran serius akan stabilitas dan keamanan di daerah tersebut.
Berdasarkan berbagai informasi yang dimiliki Komnas HAM, diduga kelompok yang sama melakukan berbagai teror dan kekerasan sebelumnya. Insiden tersebut termasuk penembakan pesawat komersial di Yahukimo pada 14 Januari 2026, yang menggagalkan kunjungan Wakil Presiden. Selain itu, kelompok ini juga diduga membunuh seorang warga sipil bernama Daniel Datti, seorang pekerja bangunan di SMP YPK Yakpesmi, Yahukimo, pada 2 Februari 2026.
Advertisement
Advertisement
Menyikapi insiden penembakan pesawat Smart Air, Komnas HAM mendesak dilakukannya penegakan hukum terhadap para pelaku. Investigasi yang profesional, transparan, dan tuntas sangat diperlukan untuk mengungkap kebenaran dan menyeret pelaku ke meja hijau. Hal ini krusial untuk memastikan keadilan bagi korban dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Di sisi lain, Komnas HAM juga memberikan perhatian serius terhadap situasi pasca-peristiwa yang rawan terhadap pelanggaran HAM. Kondisi ini mencakup lumpuhnya pelayanan dasar di Kabupaten Boven Digoel hingga penyisiran oleh KKB terhadap masyarakat non-orang asli Papua. Situasi ini memerlukan respons cepat dan efektif dari pemerintah untuk melindungi warga.
Pemerintah pusat dan daerah diminta untuk segera mengambil langkah-langkah perlindungan dan pemulihan bagi korban dan keluarganya. Pemulihan ini mencakup aspek kesehatan, psikologis, serta pemberian kompensasi yang layak. Komnas HAM juga meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikan keamanan warga sipil pasca-penyerangan, termasuk menjamin perlindungan bagi para petugas pelayanan publik seperti tenaga pendidik dan tenaga kesehatan.
Advertisement
Advertisement
Kepada KKB, Komnas HAM menyerukan agar dapat menahan diri dan tidak lagi melakukan kekerasan. Mereka menekankan pentingnya mengutamakan penyelesaian permasalahan secara damai melalui dialog. Anis Hidayah menegaskan bahwa penggunaan cara-cara kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, dan mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog demi terciptanya kondisi yang kondusif di Papua.
Sementara itu, Kepala Operasi Satuan Tugas Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Rahmadani, telah mengidentifikasi pelaku penembakan. Pelaku diyakini adalah KKB Batalion Kanibal dan Batalion Semut Merah yang dipimpin oleh Elkius Kobak dari Yahukimo. Penyelidikan mendalam telah mengungkap keterlibatan kelompok ini dalam insiden tersebut.
Penegakan hukum tengah dilakukan dengan pengerahan tim untuk menangkap para pelaku. Penyelidikan dan penegakan hukum dilakukan secara terukur dan profesional, dengan fokus pada perlindungan dan pemulihan masyarakat. Keselamatan warga tetap menjadi perhatian utama, sehingga aparat keamanan gabungan memastikan Korowai kembali tenang dan aman bagi seluruh penduduknya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews