Mengadu Peruntungan di Pelataran Balai Kota DKI Jakarta
Sekitar 1.500 pelamar mendatangi Balai Kota DKI Jakarta demi mengubah nasib dan mendapatkan hidup yang lebih baik.
Di pelataran Gedung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pagi itu terasa berbeda. Matahari bersinar hangat dan antrean mengular. Di antara puluhan map berisi dokumen lamaran kerja, terselip selembar harapan baru.
Nadia, petugas pendaftaran yang berdiri di balik meja, memandu para pencari kerja dengan suara lantang.
“Yang belum, ke sini dulu!” serunya, sambil mengatur antrean yang tak putus.
Sekitar 1.500 pelamar hadir hari ini. Posisi paling diminati adalah Pasukan Oranye alias PPSU, dengan lebih dari 750 orang pendaftar.
"PPSU paling terbanyak 750-an," kata Nadia.
Dari Ojol ke Seragam Oranye, Mengejar Peluang Baru
Salah satu dari mereka adalah Naufaldi, pria muda dari Jakarta Timur. Mengenakan sweater cokelat dan menggendong ransel hitam, ia menghampiri meja pendaftaran dan menyerahkan dokumen ke bagian PPSU.
Sehari-hari, Naufaldi bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun sejak pandemi, penghasilannya tidak lagi cukup untuk menutup kebutuhan harian.
“Habis dapat kabar loker itu ngurus sehari dua hari nganterin. Ya mau gimana, jadi ojol kadang cuma dapat lima puluh ribu, kadang tujuh puluh ribu. Padahal kebutuhan makin banyak," ujarnya.
Informasi lowongan diterimanya dari tetangga dan adik. Ia segera mengurus surat lamaran, SKCK, surat kesehatan, dan surat bebas narkoba dalam dua hari. Meski hanya berijazah paket, Naufaldi tetap yakin.
“Tahu ada lowongan ini dari tetangga sama adik. Langsung aja niat, kali aja bisa kerja lebih layak lagi dari ojol," katanya.
Ia membayangkan hari-hari yang lebih stabil, dengan pekerjaan yang memungkinkan dirinya terus belajar dan berkembang.
"Kalau bisa diterima jadi PPSU, terus kerja dengan bener baik amanah gitu. Kayaknya asik aja kerja di jalan, buat nambah wawasan kayak menggambar, menulis, melukis," ungkapnya.
Saat ditanya apakah akan tetap mengojek jika diterima, ia menjawab sambil tersenyum.
“Kalau ojol kalau enggak narik diputus mitra, tergantung kita. Kalau betah lanjut di sini, kalau ada waktu luang buat narik ya kita narik lagi," ujarnya.
Antrean Demi Segenggam Harapan
Di antrean yang sama, Abi dari Lubang Buaya, Jakarta Timur, mengajukan lamaran untuk bagian kelistrikan.
“Tahu loker ini dari ibu,” ujarnya singkat.
Abi mengaku pernah memiliki pengalaman kerja serupa sebelumnya dan berharap bisa kembali bekerja dengan stabil.
“Persyaratan sama aja kayak lamaran biasa. Harapannya sih ya diterima,” ucapnya.
Sementara itu, Tria dari Jakarta Utara membawa kisah berbeda. Ia pernah bekerja di gudang e-commerce, tapi pekerjaan itu tak lagi tersedia sejak awal 2025. Tria mencoba peruntungannya sebagai PPSU, meski sudah dua kali gagal saat melamar posisi pasukan biru.
"Kalau pasukan biru pernah coba cuman gagal. Harapannya yang ini biar dapat lah," ujarnya.
Ia mengakui berkas disiapkan secara mendadak, namun tetap berharap.
“Lumayan lah,” katanya sambil tersenyum.
"Soalnya kerjaan sudah mulai susah. Sekarang buat jadi satpam aja harus ijasah SMA, kalau ini ada kesempatan walaupun ijasah SMP," tambahnya.
Lebih dari sekadar antrean lamaran, kisah-kisah di pelataran Balai Kota hari itu adalah potret nyata perjuangan warga untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
Di balik seragam oranye, biru, hijau, dan putih, tersimpan mimpi-mimpi sederhana: penghasilan tetap, pekerjaan yang manusiawi, dan masa depan yang layak.