Di Balik Seragam Oranye, PPSU Teguh Menjaga Kejujuran di Tengah Godaan Penipuan

Ketika kecerdasan buatan mampu menyelesaikan tugas dengan tampak sempurna tanpa usaha nyata.

Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra
Di Balik Seragam Oranye, PPSU Teguh Menjaga Kejujuran di Tengah Godaan Penipuan
Muklisin membagikan dokumentasi pekerjaan dalam format before-after lengkap dengan waktu dan lokasi. (Liputan6.com/ Dok IG @skil_zona_sia_sia) (© 2026 Liputan6.com)

Kasus dugaan manipulasi dokumentasi pekerjaan oleh petugas PPSU di Kelurahan Kalisari mengungkap isu yang lebih kompleks dari sekadar laporan yang ditampilkan seolah-olah telah selesai.

Di era teknologi yang semakin maju, realitas tidak hanya dilaporkan, tetapi juga dapat dibuat melalui kemampuan imitasi (AI). Foto dan dokumentasi yang dulunya menjadi bukti kerja kini dapat dengan mudah direkayasa, sehingga batas antara pekerjaan yang nyata dan sekadar tampilan semakin tidak jelas, bahkan di tingkat pelayanan publik yang paling dekat dengan masyarakat.

Dalam konteks ini, muncul satu pertanyaan yang semakin relevan: ketika teknologi dapat membuat pekerjaan terlihat 'selesai' tanpa benar-benar dikerjakan, siapa yang masih bertahan pada kerja nyata?

Di tengah perdebatan tersebut, sosok Muklisin muncul sebagai kontras. Melalui akun media sosialnya @skil_zona_sia_sia, ia secara rutin membagikan dokumentasi pekerjaan dalam format before-after yang mencakup waktu dan lokasi. Ini bukan sekadar laporan, tetapi bukti nyata dari kerja fisik yang dilakukannya setiap hari.

"Waktu ketemu Bapak Gubernur DKI Jakarta (Pramono Anung) membahas tentang kinerja dan memberikan apresiasi kepada saya serta dukungan, untuk selalu support kinerja PPSU, yang selalu menjaga amanah saat menjalankan tugas," ujar Muklisin (40), petugas PPSU wilayah Jakarta Utara yang dikenal konsisten menunjukkan kerja nyata di lapangan. Menurut Muklisin, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan laporan, tetapi tentang tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.

Dari Keterbatasan Menuju Pengabdian

Perjalanan Muklisin menjadi petugas PPSU tidak dimulai dari pilihan yang mudah. Ia mengakui bahwa pekerjaan ini awalnya lahir dari keterbatasan.

"Sejak 2010, sewaktu di swasta dan diambil-alih ke Kecamatan pada 2015, lalu diserahkan ke Kelurahan 2016 untuk bergabung di PPSU, waktu berdirinya PPSU tahun 2015 itu kekurangan orang, jadi dari Kecamatan bagian Pesada dan PHB dioper ke kelurahan sebagai PPSU," ujarnya saat dihubungi tim Liputan6.com, Minggu (12/4).

Muklisin juga menyebut bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu alasan dirinya memilih pekerjaan ini.

"Awal mula karena kendala ijazah, kerja di tempat lain tidak bisa menggunakan ijazah SD-SMP, jadi saya putuskan ikut kerja kebersihan di PPSU," katanya.

Dari keterbatasan tersebut, Muklisin justru menemukan makna pengabdian. Ia menjalani pekerjaan yang sering kali dipandang sebelah mata, tetapi memiliki dampak langsung bagi kehidupan warga.

Rutinitas yang panjang sering kali tidak terlihat oleh orang lain

Di Balik Seragam Oranye: Ketika PPSU Memilih Jujur di Tengah Godaan Manipulasi Akal Imitasi
Muklisin membagikan dokumentasi pekerjaan dalam format before-after lengkap dengan waktu dan lokasi. (Liputan6.com/ Dok IG @skil_zona_sia_sia) © 2026 Liputan6.com

Bagi banyak orang, pekerjaan sebagai petugas PPSU mungkin hanya terlihat sebagai sosok berseragam oranye yang membersihkan jalan atau mengangkut sampah. Namun, di balik itu semua, terdapat beban kerja fisik yang berat dan konsistensi yang tidak mudah untuk dijalani.

Hari Muklisin dimulai saat mayoritas warga masih terlelap. Rutinitasnya dijalankan dengan disiplin dari pagi hingga sore. Ketika pagi masih diselimuti embun, langkahnya sebagai petugas PPSU mulai menyusuri jalanan permukiman di Jakarta Utara.

"Aktivitas saya dalam satu hari dimulai absen jam 5 pagi, start kerja jam 6 pagi membersihkan zona yang sudah dibagikan, jarak tempuhnya 1 Kilometer per satu orang, hingga diselesaikan jam 3 sore," ujarnya.

Setiap hari, ia menyusuri jalan dengan sapu lidi di tangan dan karung di bahu, bekerja dalam kesunyian, membersihkan selokan, mengangkat sampah, serta merapikan lingkungan yang sering kali diabaikan. Pekerjaan fisik yang melelahkan ini dilakukan tanpa banyak sorotan. Namun, di balik keletihan tersebut, ada kepuasan tersendiri ketika hasil kerja bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Senang, bisa membantu warga untuk membersihkan lingkungan," katanya.

Antara Hasil Kerja dan Laporan

Di tengah sistem kerja yang semakin bergantung pada laporan, Muklisin menegaskan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan.

"Hasil kerja dan laporan kerja karena kedua hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pekerjaan saya," ujarnya. Namun, baginya, laporan bukan sekadar formalitas. Ia memastikan bahwa setiap dokumentasi yang dibuat benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan. Sikap ini menjadi penting di tengah maraknya praktik manipulasi dokumentasi, termasuk dengan bantuan teknologi seperti AI.

"Kecewa, sangat mencoreng, karena pekerjaan PPSU itu tidak semuanya buruk," katanya saat menanggapi kasus manipulasi tersebut. Menurutnya, praktik seperti itu justru merusak kepercayaan terhadap profesi PPSU secara keseluruhan.

Kejujuran di Tengah Ketidakpercayaan

Menjaga kejujuran dalam bekerja bukanlah hal yang mudah, terutama ketika sistem menuntut kecepatan dan kelengkapan laporan. Muklisin mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga menghadapi persepsi publik.

"Tantangan terbesarnya, sebagian orang tidak percaya apa yang saya kerjakan di lapangan," ujarnya. Meski demikian, ia tetap memilih untuk berpegang pada prinsip. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.

"Bertanggung jawab dalam bekerja," katanya singkat. Bagi Muklisin, tanggung jawab tidak hanya kepada atasan, tetapi juga kepada masyarakat.

"Kepada semuanya, laporan, atasan, dan warga," ujarnya.

Kelelahan yang tidak pernah diungkapkan

Pekerjaan sebagai PPSU tidak hanya menguras tenaga fisik, tetapi juga mental. Muklisin mengungkapkan bahwa ia tidak pernah merasa terbebani secara berlebihan.

"Selama ini belum pernah saya rasakan hal itu, karena saya rasa ini merupakan tanggung jawab yang harus saya jalankan," katanya. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa ada kalanya kerja kerasnya terasa kurang dihargai. "Pastinya kecewa, karena kerja sudah capek-capek, tapi tidak dihargai," ujarnya. Namun, rasa kecewa tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia tetap menjalankan tugasnya dengan konsisten, hari demi hari.

Di tengah kompleksitas pekerjaan yang semakin meningkat, Muklisin berharap agar sistem kerja PPSU ke depan dapat lebih menghargai hasil kerja nyata.

"Harapannya harus ditingkatkan kinerjanya dan selalu semangat menjaga kinerja yang jujur," ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan sederhana kepada rekan-rekannya.

"Pesan saya selalu semangat, jujur, ikhlas, sabar, dan tekun," katanya. Muklisin berharap masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.

"Selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kebersihan lingkungan agar saling menjaga kebersihan bersama-sama," ujarnya.

Rekomendasi