Manggala Agni Riau Menginap di Rumah Warga, Percepat Pemadaman Karhutla 80 Hektare di Bengkalis

Tim Manggala Agni Riau mengambil langkah taktis dengan menginap di pondok warga untuk mempercepat pemadaman karhutla seluas 80 hektare di Bengkalis, menghadapi tantangan angin kencang dan bahan bakar melimpah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Manggala Agni Riau Menginap di Rumah Warga, Percepat Pemadaman Karhutla 80 Hektare di Bengkalis
Tim Manggala Agni Riau mengambil langkah taktis dengan menginap di pondok warga untuk mempercepat pemadaman karhutla seluas 80 hektare di Bengkalis, menghadapi tantangan angin kencang dan bahan bakar melimpah. (AntaraNews)

Tim Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan di Provinsi Riau menunjukkan dedikasi tinggi dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menginap di pondok rumah warga. Strategi ini diterapkan untuk mempercepat respons pemadaman karhutla yang melanda area seluas 80 hektare di Kabupaten Bengkalis. Langkah inovatif ini diambil guna mengatasi hambatan mobilisasi dan memastikan tim dapat bergerak secepat mungkin di pagi hari.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa karhutla tersebut terjadi di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau. Di lokasi tersebut, pemadaman saat ini ditangani tujuh tim regu Manggala Agni dari Daerah Operasi Siak, Dumai, dan Pekanbaru. Keputusan untuk menginap dekat lokasi kebakaran menjadi kunci efektivitas operasi.

Pemadaman telah berlangsung sejak Rabu (15/7), dengan tantangan utama berupa angin kencang yang dapat mengubah arah api secara cepat, meskipun sempat diguyur hujan pada Sabtu (18/7) sore. Kondisi bahan bakar yang melimpah di lokasi juga memperparah situasi, membuat tim harus berkejaran dengan api permukaan yang terus merembet.

Strategi Menginap Tingkatkan Kecepatan Respons Manggala Agni

Tim Manggala Agni Riau memilih untuk menginap di pondok-pondok rumah warga yang berada paling dekat dengan lokasi kebakaran. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan strategi jitu untuk memangkas waktu mobilisasi yang seringkali menjadi kendala. Ferdian Krisnanto menegaskan, "Posisi menginap bergeser ke pondok-pondok rumah warga terdekat dari lokasi, sehingga pergerakan pagi akan lebih cepat. Prinsip kerja kami, bergerak sepagi mungkin karena kendala salah satunya mobilisasi memakan waktu lama," katanya dalam keterangan di Pekanbaru, Minggu.

Kecepatan respons di pagi hari sangat krusial mengingat kondisi cuaca di Riau. Angin cenderung bertiup lebih kencang seiring berjalannya siang, yang dapat mempercepat penyebaran api dan mempersulit upaya pemadaman. "Dia mengatakan jika bergerak semakin siang, angin semakin kencang angin dan arahnya bisa berubah-ubah," tambah Ferdian, menyoroti urgensi tindakan cepat.

Meskipun sempat terjadi hujan pada Sabtu (18/7) sore, api belum sepenuhnya padam karena intensitas hujan yang tidak merata di seluruh area terdampak. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya penanganan karhutla di lahan gambut atau area dengan bahan bakar melimpah. Vegetasi pakisan dan semak belukar menjadi pemicu utama cepatnya perambatan api di lokasi.

Kolaborasi Lintas Sektor dan Bantuan Udara Padamkan Api

Upaya pemadaman karhutla di Bengkalis tidak hanya melibatkan Manggala Agni Riau, tetapi juga merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Selain Manggala Agni, turut melaksanakan pemadaman TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta partisipasi aktif masyarakat. Sinergi ini sangat penting untuk mencakup area yang luas dan memastikan penanganan yang komprehensif.

Selain tim darat, tiga unit helikopter water bombing juga sudah dikerahkan di lokasi membantu tim darat. Bantuan udara ini sangat efektif dalam menjangkau titik-titik api yang sulit diakses oleh tim darat, serta membantu mendinginkan area panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali. Penggunaan helikopter ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menanggulangi bencana karhutla.

Ferdian Krisnanto menjelaskan bahwa lokasi kebakaran di Bengkalis berada di perbatasan dengan Kampung Samsam, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak. "Vegetasinya pakisan dan semak. bahan bakaran melimpah, api masih aktif," ucap Ferdian, menggambarkan kondisi medan yang menantang. Kondisi ini memerlukan strategi pemadaman yang terus-menerus dan terkoordinasi.

Karhutla Juga Melanda Rokan Hulu, Penuntasan Tetap Prioritas

Selain di Bengkalis, kebakaran lahan juga terdeteksi di Desa Kasang Padang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu. Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menyebar di beberapa wilayah Riau. Pemadaman di Rokan Hulu juga dilakukan oleh tim darat dan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Meskipun laporan pagi menyebutkan kondisi basah akibat hujan, tim Manggala Agni tetap menekankan pentingnya penuntasan total. "Status belum padam. Personel pemadam dari Daops Pekanbaru, dengan estimasi luasan kurang lebih 10 hektare. Terlaporkan pagi tadi kondisi basah akibat hujan, namun diperlukan penuntasan untuk memastikan tidak ada potensi kembali," kata Ferdian. Ini menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap potensi api kembali muncul.

Estimasi luasan lahan yang terbakar di Rokan Hulu mencapai kurang lebih 10 hektare. Meskipun lebih kecil dari Bengkalis, setiap titik api memerlukan perhatian serius untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan dampak lingkungan yang lebih luas. Upaya penuntasan ini mencakup pendinginan area bekas terbakar dan patroli rutin untuk memantau kondisi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi