Kronologi Pembunuhan Pegawai BPS, Dipiting dan Dibekap Bantal Pelaku Usai Berikan Pin ATM
Kapolsek Maba Selatan Ipda Habiem Ramadya mengatakan, motif terduga pelaku melakukan aksi kejinya karena utang piutang.
Polisi mengungkap motif atas tewasnya pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) bernama Tiwi (30) yang terjadi di Halmahera Timur, Maluku Utara. Dalam kasus ini, terduga pelaku merupakan rekan kerja korban yakni AH (27) yang melakukan aksinya pada 19 Juli 2025.
Kapolsek Maba Selatan Ipda Habiem Ramadya mengatakan, motif terduga pelaku melakukan aksi kejinya karena utang piutang.
"Nah utang itu diakibatkan karena kecanduan dia bermain judi online. Jadi di sekitar awal bulan Juli itu dia sempat ajukan pinjaman di bank. Nah niat awalnya kan untuk melunasi utang-utangnya," kata Habiem saat dihubungi, Rabu (13/8).
Ternyata, uang pinjaman tersebut bukan untuk membayar utang melainkan melakukan deposit untuk bermain judi online.
"Sekitar Rp130 juta lebih itu rata satu malam, satu malam habis dia untuk main judi. Jadi sisa rekeningnya kan tinggal nol nih, sedangkan dia sudah mau nikah nih kan. Nah karena itu dia beralasan ke saya, dia pergilah ke Maba, alasannya dia mau pinjam uang, pinjam uang ke korban," ujarnya.
Korban Tolak Pinjami Uang
Akan tetapi, korban ketika itu menolak permintaan dari terduga pelaku yang ingin meminjam uang sebesar Rp30 juta. Hal ini karena jumlah tersebut dinilai terlalu besar jika dipinjamkan.
"Ya karena dia enggak mau pinjam-pinjamin, jadi akhirnya dia lakukanlah tindakan kejinya itu. Di dalam situ pun dia itu sudah berada di rumahnya korban dan calon istrinya dari tanggal 16 sampai 17 (Juli)," jelasnya.
"Jadi dia bersembunyi di kamar istrinya yang di depan. Jadi satu rumah itu kan ada dua kamar, satu yang kamarnya korban, satu kamar istrinya. Si korban dengan istrinya pelaku itu satu rumah. Jadi si pelaku ini dia sudah punya kunci duplikat dari rumahnya korban," sambungnya.
Sehingga, pada 16 Juli 2025 dia menyelinap masuk ke kamar istrinya dan bertahan hingga dua hari atau sampai dia melakukan aksinya itu pada 18 Juli 2025 malam.
"Jadi terbang ke (Maba), 18 malam, dia langsung lakukan aksinya. Dia bekap ibaratnya kalau bahasanya itu dia dipitinglah, dia tangkap si korban, dia bawa ke kamar, dia kunci kamar, dari situ dia langsung lakukan penutupan-penutupan dilakban," paparnya.
"Nah posisi penutupan di lakban, angkat tangan terikat, angkat tangan diikat. Jadi sudah dilakukan tindakan yang kayak gitu, dari situlah dia melakukan pelecehan kemudian dia memaksa korban untuk memberikan pin m-bankingnya," tambahnya.
Bunuh Korban Usai Dapat Pin ATM
Setelah mendapatkan pin M-banking tersebut, ia langsung menghabisi nyawa korban dengan menggunakan bantal. Hal ini kemungkinan dilakukan olehnya sudah direncanakan dari jauh hari.
"Kemungkinan besar iya merencanakan karena walaupun dia jauh ini, sejauh ini pengakuan dia kan dia niat awalnya cuma mau pinjam duid, tapi kalau dari apa ya, dari bukti yang kita lihat, kita beranggapan ini perencanaan makanya kita gunakan Pasal 340 dan/atau 339 dan 338 Subsidiar 351 ayat 3," tegasnya.
"Jadi memang kita mendalami kemungkinan besar ada unsur rencananya. Karena ngapain logikanya ngapain dia niat dari Ternate cuma mau pinjam duit ngapain. Memang istrinya enggak bisa pinjam duit, kan logikanya kayak gitu," pungkasnya.
Sebuah video viral di media sosial yang menyebut seorang pria terlihat bahagia di hari pernikahannya usai diduga membunuh teman dari istrinya yang merupakan pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) bernama Tiwi (30). Kejadian ini disebut terjadi di Halmahera Timur, Maluku Utara.
"Aditya Hanafi setelah membunuh Tiwi dan meninggalkan jenazah Tiwi lalu melangsungkan pernikahan dengan muka tak bersalah," tulis akun @hitamputihgp.01 seperti dikutip merdeka.com, Rabu (13/8).
Terkait kejadian itu, Kapolsek Maba Selatan, Ipda Habiem Ramadya mengatakan, kejadian itu berawal dari pihaknya yang mendapatkan laporan dari teman sebelah korban yaitu A pada 31 Juli 2025.
"Jadi saudara A sekitar jam 4 sore datang ke kantor kami melaporkan. Pak sepertinya kami ada penemuan mayat nih pak di salah satu kamar di Rumah Dinas Statistik Haltim," ujar Habiem.
"Nah dia buat laporan, oke karena dapet laporan, jadi saya udah perintahkan piket pada saat itu bersama saya, bersama kanit reskrim dan unitnya, kita turun ke TKP," sambungnya.