Perhutanan Sosial Banjar: Pemkab Dorong Ekonomi Desa dengan Pendekatan Terpadu
Pemkab Banjar dorong Perhutanan Sosial Banjar jadi penggerak ekonomi desa. Melalui Integrated Area Development (IAD), pelestarian hutan terintegrasi dengan usaha produktif warga, tingkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar, Kalimantan Selatan, secara serius mendorong program perhutanan sosial untuk menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat desa. Inisiatif ini dilaksanakan melalui pendekatan pembangunan kawasan terpadu atau Integrated Area Development (IAD). Konsep IAD mengintegrasikan pelestarian hutan dengan pengembangan usaha produktif warga, menciptakan sinergi positif.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H. Yudi Andrea, menjelaskan bahwa Kabupaten Banjar memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama kawasan hutan dan wilayah pedesaan. Pengelolaan potensi ini sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Potensi tersebut harus dikelola secara seimbang agar memberikan manfaat jangka panjang.
Yudi menambahkan bahwa konsep IAD berbasis perhutanan sosial dinilai mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini juga melibatkan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai tujuan pembangunan yang komprehensif. Program perhutanan sosial tidak hanya fokus pada perlindungan hutan, tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru.
Integrasi Pelestarian Hutan dan Ekonomi Produktif
Melalui pendekatan IAD, program perhutanan sosial di Kabupaten Banjar tidak hanya berorientasi pada perlindungan kawasan hutan. Program ini juga diarahkan untuk menciptakan sumber-sumber ekonomi baru melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi alam demi kesejahteraan warga.
Yudi menegaskan bahwa perhutanan sosial kini dipandang sebagai instrumen vital untuk membuka peluang ekonomi masyarakat. Ini mencakup pengembangan usaha produktif, peningkatan kapasitas kelompok masyarakat, serta pengolahan hasil hutan. Selain itu, upaya perluasan akses pasar bagi produk-produk lokal juga menjadi fokus utama.
Dengan demikian, perhutanan sosial bukan sekadar upaya konservasi, melainkan strategi pembangunan holistik. Strategi ini diharapkan mampu memberdayakan masyarakat desa secara ekonomi. Pendekatan ini juga memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya hutan dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Sinergi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Program
Keberhasilan pembangunan kawasan terpadu berbasis perhutanan sosial memerlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak. Yudi Andrea menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan akademisi. Para pemangku kepentingan juga harus terlibat aktif agar program berjalan secara berkelanjutan.
Sinergi ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan memiliki dampak maksimal. Kerjasama yang erat antarlembaga dan komunitas akan memperkuat fondasi pembangunan. Hal ini juga akan membantu mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul di lapangan.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Pemkab Banjar telah menggelar Focus Group Discussion (FGD). FGD ini membahas IAD berbasis perhutanan sosial di Kantor Bapperida Martapura pada Kamis (25/6/2026). Forum ini menjadi wadah penting untuk menyelaraskan langkah antarlembaga.
Merumuskan Strategi Pengembangan Berbasis Potensi Lokal
FGD tersebut juga berfungsi sebagai forum untuk menyelaraskan langkah antarlembaga dalam merumuskan strategi pengembangan kawasan. Strategi ini harus berbasis perhutanan sosial yang sesuai dengan karakteristik dan potensi unik Kabupaten Banjar. Setiap wilayah memiliki kekhasan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan.
Yudi berharap bahwa forum diskusi ini akan menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Rekomendasi ini diharapkan mampu menjadikan perhutanan sosial sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan. Tujuannya adalah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa.
Dengan adanya rekomendasi tersebut, diharapkan program perhutanan sosial di Banjar akan semakin terarah dan efektif. Ini akan memastikan bahwa upaya pelestarian hutan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dan strategi yang tepat adalah kunci keberhasilan jangka panjang.
Sumber: AntaraNews