ULM Perkuat Sistem Informasi Desa di Tanah Laut, Dorong Percepatan SDGs
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) gencar memperkuat pemanfaatan Sistem Informasi Desa di Kabupaten Tanah Laut. Inisiatif ini bertujuan mempercepat pencapaian SDGs Desa yang skornya masih tergolong rendah, sekaligus meningkatkan kualitas perencanaan pemb
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengambil langkah strategis untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Desa di Kabupaten Tanah Laut. Melalui program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA), ULM fokus pada penguatan pemanfaatan Sistem Informasi Desa (SID) bagi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kecamatan Bati-Bati.
Inisiatif ini muncul setelah hasil survei awal pada Februari 2026 menunjukkan bahwa skor SDGs Desa di wilayah tersebut masih berada pada kisaran 49,08 hingga 49,73. Angka ini jauh di bawah target ideal desa mandiri yang seharusnya mencapai di atas 70, menandakan perlunya intervensi.
Ketua Tim PDWA Administrasi Publik FISIP ULM, Sidderatul Akbar, menjelaskan bahwa musyawarah desa selama ini masih didominasi pembahasan manual. Kondisi ini belum sepenuhnya menggunakan data pembangunan sebagai dasar utama penyusunan prioritas program desa, sehingga kurang efektif.
Optimalisasi Data untuk Perencanaan Pembangunan Desa
Sistem Informasi Desa (SID) memiliki peran krusial dalam menyediakan data pembangunan yang komprehensif, termasuk 18 indikator SDGs Desa. Data ini sangat penting bagi BPD untuk memahami kondisi riil desa sebelum menetapkan arah pembangunan yang tepat.
Dengan memanfaatkan SID, BPD dapat mengetahui posisi desanya berdasarkan seluruh indikator SDGs Desa secara akurat. Hal ini memungkinkan perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, menghindari program yang tidak relevan.
Sidderatul Akbar menekankan bahwa desa yang telah berstatus mandiri seharusnya memiliki capaian SDGs Desa di atas 70. Namun, skor yang relatif rendah di Kecamatan Bati-Bati menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk penguatan tata kelola data.
Penguatan tata kelola data ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pembangunan desa secara keseluruhan. Ini juga akan memastikan alokasi sumber daya yang lebih efisien dan berdampak nyata bagi kesejahteraan warga.
Tantangan dan Solusi Penginputan Data SDGs Desa
Rendahnya capaian SDGs Desa di Kecamatan Bati-Bati tidak sepenuhnya disebabkan oleh kondisi pembangunan desa. Sebaliknya, hal ini lebih dipengaruhi oleh penginputan data yang belum optimal, terutama hasil pendataan keluarga dan individu yang menjadi komponen utama penilaian.
Komponen pendataan keluarga dan individu merupakan elemen utama dalam penilaian SDGs Desa. Sebagian data pada sistem informasi desa bahkan masih menggunakan pembaruan tahun 2023 dan 2024, menunjukkan ketertinggalan informasi.
Ditemukan pula beberapa desa yang belum memperoleh skor karena proses penginputan data belum dilakukan secara maksimal. Kondisi ini menghambat akurasi informasi yang seharusnya menjadi dasar pengambilan kebijakan yang efektif.
Oleh karena itu, Tim ULM mendorong pemerintah desa, bersama pemerintah kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, untuk memperkuat pembaruan data secara konsisten. Pembaruan data yang akurat akan memungkinkan sistem informasi desa menyajikan kondisi pembangunan yang lebih valid dan terkini.
Menurut Sidderatul, peningkatan capaian SDGs Desa dapat terjadi dalam hitungan bulan jika penginputan dan pembaruan data dilakukan secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan tata kelola data adalah kunci utama untuk mencapai target SDGs Desa dengan cepat dan efisien.
Sumber: AntaraNews