Korban Bencana Agam Capai 86 Jiwa, Puluhan Lain Masih Hilang
BPBD Agam melaporkan 86 orang meninggal dunia akibat bencana alam di Agam, sementara 88 lainnya masih dalam pencarian. Simak detail dampak dan upaya evakuasi korban bencana Agam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, merilis data terbaru mengenai dampak bencana alam yang melanda wilayah tersebut. Total korban meninggal dunia telah mencapai 86 orang hingga Jumat (28/11) malam. Sebanyak 88 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.
Bencana ini meliputi banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang beberapa kecamatan di Agam. Kejadian ini menimbulkan kerugian besar serta duka mendalam bagi masyarakat setempat. Upaya pencarian dan evakuasi terus dilakukan untuk menemukan korban yang belum ditemukan.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyampaikan update data ini di Lubuk Basung pada Sabtu (29/11). Tim gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk membantu penanganan darurat. Fokus utama saat ini adalah menemukan korban hilang dan mengevakuasi warga terisolasi.
Sebaran Korban Meninggal Dunia di Agam
Korban meninggal dunia akibat bencana alam di Agam tersebar di lima kecamatan berbeda. Kecamatan Malalak mencatat 10 korban jiwa akibat banjir bandang di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. Nama-nama korban yang telah teridentifikasi meliputi Azmal, Kasmawati, Herman, Yusmaniar, Azir, Marnis, Gina, Dina, Aldo, dan Ernawati.
Di Kecamatan Tanjung Raya, dua orang atas nama Safarudin dan Emninar tewas akibat tanah longsor di Ariki, Nagari Dalko. Sementara itu, tanah longsor di Kuok Tigo Koto, Nagari Matua Mudiak, Kecamatan Matur, menelan satu korban jiwa atas nama Rajibah. Dampak bencana ini menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga korban.
Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 74 orang akibat banjir bandang. Korban tersebar di Jorong Koto Alam (21 orang), Jorong Sumbarang (16 orang), Kampuang Tangah (7 orang), dan Jorong Kampung Tangah Timur (9 orang). "Jasad korban telah ada dimakamkan di makam keluarga," ujar Rahmat Lasmono.
Pencarian Korban Hilang dan Upaya Penanganan
Hingga saat ini, sebanyak 88 orang masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan pasca-bencana di Agam. Tujuh orang di antaranya terseret arus di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, dan satu warga Sikabu, Nagari Kampung Tangah, Kecamatan Lubuk Basung, juga hilang. Dua korban tertimbun longsor di Ariki, Nagari Dalko, Kecamatan Tanjung Raya, menambah daftar korban hilang.
Mayoritas korban hilang, yakni 78 orang, berada di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, yang terdampak parah. "Masih banyak korban belum ditemukan dan berharap bisa ditemukan dalam waktu dekat," kata Rahmat Lasmono. Pencarian intensif terus dilakukan dengan harapan dapat menemukan korban secepatnya.
Tim pencarian gabungan melanjutkan operasi pada Sabtu pagi, melibatkan berbagai unsur. BPBD Agam, Basarnas Padang, TNI, Lantamal II Padang, Polri, Damkar Agam, Pol PP Agam, Dinas Sosial Agam, dan PMI Agam turut serta. Kelompok Siaga Bencana (KSB) serta pemerintah kecamatan dan nagari juga bahu-membahu dalam upaya ini.
Selain pencarian, tim juga fokus pada evakuasi warga yang terisolasi akibat jalan terputus. Mereka dipindahkan ke lokasi aman yang telah disediakan oleh pemerintah daerah. Penanganan pasca-bencana memerlukan koordinasi yang kuat dari berbagai pihak.
Kesaksian Warga dan Kondisi Darurat
Bencana banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11) sekitar pukul 17.00 WIB menyisakan trauma mendalam bagi warga Agam. Salah seorang warga Salareh Aia, Eki, menceritakan detik-detik mengerikan saat bencana melanda. Ia mendengar bunyi gemuruh yang sangat keras sebelum banjir bandang datang.
"Saat datang bunyi gemuruh cukup keras, ia mengaku beserta keluarga kaget dan keluar rumah," demikian kutipan dari Eki. Sesampai di halaman, ia melihat warga berlarian panik. Tiba-tiba, banjir bandang datang dan menghancurkan rumah-rumah warga lainnya dengan cepat.
Eki dan keluarganya beruntung dapat menyelamatkan diri dengan mencari lokasi aman. "Saya dan keluarga mencari lokasi aman sehingga terhindar dari bencana tersebut," ujarnya. Setelah bencana mereda, Eki segera berinisiatif membantu warga lain yang menjadi korban. Kondisi darurat ini membutuhkan solidaritas dan bantuan dari semua pihak.
Sumber: AntaraNews