72 Korban Bencana Hidrometeorologi Agam Belum Ditemukan, Pencarian Terus Berlanjut
BPBD Agam melaporkan 72 korban bencana hidrometeorologi Agam masih belum ditemukan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah itu, memicu pencarian intensif oleh tim gabungan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengumumkan bahwa 72 korban bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut masih belum ditemukan hingga hari ini, Sabtu (20/12). Peristiwa nahas ini merupakan dampak dari banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah itu beberapa waktu lalu.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyatakan bahwa tim gabungan terus melakukan upaya pencarian intensif. Musibah ini terjadi akhir November 2025, menyebabkan kerusakan parah dan kerugian besar bagi masyarakat setempat.
Sebanyak 72 korban yang belum ditemukan ini tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Malalak, Palembayan, Lubuk Basung, dan Tanjung Raya. Operasi pencarian melibatkan berbagai pihak, termasuk BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan.
Upaya Pencarian Korban Hilang Terus Dilakukan
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih terus berupaya menemukan 72 korban bencana hidrometeorologi Agam yang belum ditemukan. Pencarian difokuskan pada area yang diduga kuat menjadi lokasi tertimbunnya korban.
Rahmat Lasmono menjelaskan bahwa pencarian menggunakan alat berat karena korban diduga tertimbun material banjir bandang. "Pencarian dengan menggunakan alat berat, karena korban diduga tertimbun material banjir bandang," katanya. Kondisi medan yang sulit dan luasnya area terdampak menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan.
Korban yang belum ditemukan tersebar di empat kecamatan, yaitu Malalak (tiga orang), Palembayan (66 orang), Lubuk Basung (satu orang), dan Tanjung Raya (dua orang). Fokus utama saat ini adalah mengevakuasi seluruh korban yang masih hilang akibat bencana hidrometeorologi ini.
Dampak Bencana dan Jumlah Korban Jiwa
Bencana hidrometeorologi ini telah menyebabkan dampak yang sangat serius terhadap populasi di Agam. Total korban meninggal dunia mencapai 192 orang, tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Agam.
Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan korban meninggal terbanyak, yaitu 138 orang, diikuti oleh Malalak dengan 14 orang. Selain itu, 27 korban belum teridentifikasi, menambah daftar duka akibat bencana hidrometeorologi di Agam.
Selain korban meninggal, empat orang masih dirawat di fasilitas kesehatan. Sebanyak 4.081 orang terpaksa mengungsi, dan 26 jiwa lainnya terisolasi, menunjukkan skala besar dampak bencana hidrometeorologi.
Kebutuhan logistik bagi para pengungsi telah didistribusikan untuk memastikan mereka mendapatkan bantuan dasar. "Mereka tinggal di pengungsian dan untuk kebutuhan logistik telah didistribusikan," katanya. Pemerintah daerah dan lembaga terkait terus berkoordinasi untuk penanganan pascabencana.
Kerusakan Infrastruktur dan Tantangan Pemulihan
Bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung yang terjadi akhir November 2025 ini juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang masif. Ribuan unit rumah mengalami kerusakan.
Data BPBD Agam menunjukkan 367 unit rumah rusak ringan, 287 unit rusak sedang, dan 851 unit rusak berat. Selain itu, jalan rusak di 21 titik dan jembatan rusak di 28 titik, menghambat aksesibilitas di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.
Fasilitas umum lainnya seperti 27 tempat ibadah dan 114 fasilitas pendidikan juga terdampak parah. Sektor pertanian juga mengalami kerugian besar dengan 2.044 hektare lahan pertanian terdampak dan 5.481 ekor ternak mati.
Lima kecamatan dilaporkan mengalami kesulitan air bersih, menambah daftar tantangan pemulihan pascabencana. Kerusakan infrastruktur pertanian sebanyak 156 unit semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat Agam yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Sumber: AntaraNews