Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus menimbulkan dampak signifikan. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan peningkatan jumlah korban jiwa. Pencarian intensif masih terus dilakukan oleh tim gabungan di berbagai lokasi terdampak.
Hingga Jumat (5/12) pukul 20.00 WIB, total korban meninggal dunia telah mencapai 173 orang. Sementara itu, 85 warga lainnya dilaporkan masih belum ditemukan. Kondisi ini memperpanjang daftar duka akibat musibah alam yang terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, mengonfirmasi data tersebut di Lubuk Basung pada Sabtu (6/12). Upaya pencarian dan penanganan dampak bencana terus diintensifkan. Berbagai pihak bahu-membahu untuk membantu para korban bencana Agam.
Advertisement
Advertisement
Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam kini mencapai 173 orang. Selain itu, 85 warga lainnya masih belum ditemukan dan tersebar di empat kecamatan yang berbeda. Data ini menunjukkan skala kerusakan dan dampak yang luas di wilayah tersebut.
Pencarian korban dilanjutkan pada Sabtu pagi oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Agam, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lainnya. Proses pencarian ini juga didukung oleh penggunaan alat berat. Alat berat difungsikan untuk membuang material tanah dan pohon yang menutupi lokasi pencarian.
Rahmat Lasmono menegaskan, "Ini data korban pada Jumat (5/12) pukul 20.00 WIB." Pernyataan ini memastikan bahwa data yang disampaikan merupakan informasi terkini dari lapangan. Fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang hilang dan mengidentifikasi seluruh korban bencana Agam.
Advertisement
Advertisement
Dampak bencana juga menyebabkan ribuan warga harus mengungsi dari rumah mereka. Tercatat sebanyak 10.910 orang mengungsi dan tersebar di delapan kecamatan yang terdampak. Mereka mencari perlindungan di rumah keluarga, tempat ibadah, serta lokasi pengungsian yang telah disediakan.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, dapur umum telah didirikan di berbagai titik. Setidaknya ada 26 dapur umum yang beroperasi untuk menyediakan makanan dan minuman bagi para korban. Kebutuhan untuk memasak dan logistik lainnya terus dipenuhi.
Selain itu, terdapat 19 orang korban yang saat ini sedang dirawat karena mengalami luka serius akibat bencana. Penanganan medis terus diupayakan untuk memastikan pemulihan mereka. Ketersediaan fasilitas kesehatan menjadi prioritas dalam penanganan pasca-bencana.
Advertisement
Advertisement
Salah satu tantangan besar dalam penanganan bencana di Agam adalah aksesibilitas. Sebanyak 31.523 warga terdampak atau terisolasi karena akses jalan menuju lokasi tempat tinggal mereka tidak bisa dilalui. Kondisi ini menghambat distribusi bantuan dan logistik.
Pemerintah Kabupaten Agam berusaha semaksimal mungkin untuk membuka kembali akses jalan yang terputus. Pembukaan akses ini menjadi krusial agar pendistribusian logistik dan bantuan dapat berjalan lancar. Alat berat terus dioperasikan untuk membersihkan material longsor dan puing-puing.
"Kita masih berusaha untuk membuka jalan dengan alat berat dan berharap segera selesai, sehingga pendistribusian logistik lancar," kata Rahmat Lasmono. Harapan besar ditumpukan pada percepatan pembukaan akses. Hal ini penting untuk memastikan seluruh warga terdampak menerima bantuan yang dibutuhkan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews