Pawai Obor Agam Sambut Ramadhan: Tradisi Turun Temurun dan Pemulihan Trauma Bencana
Ratusan warga Agam menggelar Pawai Obor Agam Sambut Ramadhan, tradisi unik yang tak hanya merayakan bulan suci, tetapi juga menjadi sarana pemulihan trauma pascabencana banjir bandang.
Ratusan warga Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, baru-baru ini menggelar Pawai Obor Agam Sambut Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan ini menjadi tradisi tahunan yang dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat.
Pawai obor ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak taman pendidikan Al-Qur'an, tetapi juga dimeriahkan oleh para pemuda, pemudi, hingga orang dewasa. Arak-arakan dimulai dari depan Masjid Raya Kubu dan berakhir di halaman balairung desa setempat, menciptakan suasana meriah dan penuh kebersamaan.
Lebih dari sekadar perayaan, pawai obor ini memiliki makna mendalam, terutama bagi warga yang terdampak bencana banjir bandang akhir 2025. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana pemulihan mental atau trauma healing bagi anak-anak dan penyintas bencana galodo.
Tradisi Turun Temurun yang Penuh Makna
Pawai obor di Jorong Kubu telah menjadi tradisi turun temurun yang rutin diadakan dua kali dalam setahun oleh masyarakat setempat. Selain menyambut bulan puasa Ramadhan, tradisi ini juga dilaksanakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Kepala Jorong Kubu, Rian, menjelaskan bahwa kegiatan ini selalu dinanti dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal. Kemeriahan pawai obor semakin lengkap dengan iringan tabuhan gendang tradisional serta lagu-lagu kasidah yang menggema sepanjang perjalanan.
Antusiasme terlihat jelas dari partisipasi ratusan anak-anak TPA, pemuda, pemudi, hingga orang dewasa yang turut serta. Mereka berbaris rapi membawa obor, menciptakan pemandangan cahaya yang indah di malam hari.
Lebih dari Sekadar Perayaan: Trauma Healing Pascabencana
Di tengah semangat menyambut Ramadhan, Pawai Obor Agam ini juga membawa misi penting sebagai upaya pemulihan mental. Terutama bagi anak-anak dan penyintas bencana banjir bandang atau galodo yang melanda Nagari Sungai Batang pada akhir tahun 2025.
Bencana tersebut meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, dan kegiatan seperti pawai obor ini menjadi hiburan yang sangat dibutuhkan. Rian menegaskan bahwa ini adalah hiburan sekaligus menjadi trauma healing bagi anak-anak dan masyarakat secara umum di Jorong Kubu.
Melalui kebersamaan dan kegembiraan yang tercipta, diharapkan masyarakat dapat secara perlahan bangkit dari trauma. Momen ini menjadi kesempatan untuk mengembalikan senyum dan semangat hidup setelah menghadapi masa sulit.
Antusiasme Warga dan Harapan Pemulihan
Tidak hanya di Jorong Kubu, kegiatan serupa juga diadakan oleh masyarakat di Jorong Tanjung Sani, Nagari Sungai Batang, menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat. Kemeriahan dalam menyambut Ramadhan ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk segera pulih dari dampak bencana.
Wahdi, salah seorang warga asal Kota Jambi yang turut menyaksikan, menyoroti beberapa kesamaan antara pawai obor di Jambi dengan di Kabupaten Agam. Namun, ia mencatat perbedaan unik di Sungai Batang yang diiringi musik kasidah melalui pengeras suara dan tabuhan gendang tradisional Minangkabau.
Ia juga menekankan bahwa aspek trauma healing pada pawai ini sangat menarik dan penting. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat beradaptasi dan memiliki fungsi ganda, yaitu melestarikan budaya sekaligus memberikan dukungan psikologis bagi komunitas.
Sumber: AntaraNews