Pemkab Bangka Barat Ajak Warga Jaga Nilai Tradisi 3.000 Culok Sambut Ramadan
Pemkab Bangka Barat mengajak masyarakat melestarikan nilai-nilai luhur Tradisi 3.000 Culok di Kampung Dayabaru, Mentok, sebagai sukacita menyambut Ramadan.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara aktif mengajak seluruh warganya untuk terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi 3.000 Culok. Tradisi ini merupakan acara rutin yang diselenggarakan di Kampung Dayabaru, Mentok, setiap tahunnya sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, menyatakan bahwa sukacita menyambut Ramadan memiliki arti penting bagi masyarakat. Warga ingin merayakan kedatangan bulan suci ini dengan penuh kegembiraan serta semangat saling memaafkan dan mempererat tali silaturahim.
Tradisi turun-temurun yang masih kokoh dijalankan oleh warga Kampung Dayabaru ini dinamakan Tradisi 3.000 Culok, yang merujuk pada sebutan lokal untuk lentera. Ribuan lentera yang dipasang ini menciptakan suasana kampung yang terang, hangat, dan meriah, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung.
Semangat Gotong Royong dan Pawai Obor
Tradisi 3.000 Culok di Kampung Dayabaru melibatkan partisipasi aktif seluruh warga dalam semangat gotong royong. Mereka secara sukarela memasang culok di depan rumah, sepanjang jalan kampung, hingga ke gang-gang kecil dengan berbagai kreasi unik.
Keunikan tradisi ini terletak pada durasi pemasangan culok yang dimulai menjelang Ramadan dan tetap menyala hingga Idul Fitri. Hal ini membedakan Tradisi 3.000 Culok di Kampung Dayabaru dengan tradisi serupa di tempat lain, menegaskan suasana suci yang dirayakan dengan kebersamaan dan hati riang.
Selain pemasangan culok, pada minggu terakhir di Bulan Sya'ban, warga juga menggelar pawai obor yang meriah. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, tumpah ruah ke jalan untuk berbaris rapi membawa obor menyala, menciptakan parade cahaya yang bergerak perlahan menyusuri kampung.
Makna Mendalam dan Pelestarian Budaya
Perjalanan pawai obor dimulai pada malam hari dari masjid utama kampung, rombongan bergerak mengelilingi rute yang sudah ditentukan, lalu kembali lagi ke masjid untuk berdoa dan menggelar “nganggung” atau kenduri bersama. Suasana hangat penuh kebersamaan ini selalu membawa kenangan yang ingin terus diulang, menjadikan tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan ajang mempererat silaturahim seluruh warga.
Meskipun pada zaman dahulu culok dibuat sederhana dari bambu atau kaleng bekas dengan sumbu kain, kini telah berkembang dan dimodifikasi dengan perlengkapan yang lebih modern. Namun, semangat yang diusung dalam tradisi ini tetap sama, yaitu kebersamaan, sukacita, saling memaafkan, dan menguatkan silaturahim dalam menyambut bulan puasa Ramadan.
Makna api yang menyala di tengah kegelapan melambangkan cahaya penerang dalam kehidupan, menjadi simbol nilai-nilai spiritual, harapan, dan persatuan masyarakat. Ribuan culok di Kampung Dayabaru tidak hanya memperindah tempat tinggal, tetapi juga bercerita tentang rasa syukur, kebersamaan, dan semangat menyambut Ramadan dengan hati yang terang.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah memasukkan Tradisi 3.000 Culok Kampung Dayabaru dalam agenda tahunan kegiatan budaya. Tradisi ini juga diakui sebagai salah satu ikon wisata budaya untuk menyambut Ramadan di Bangka Barat, dan pemerintah mengapresiasi peran Ikatan Muda-Mudi Dayabaru (Imada) yang terus melestarikan tradisi berharga ini. Upaya pelestarian ini penting untuk menjaga warisan budaya lokal agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi mendatang, sekaligus menarik wisatawan yang tertarik pada kekayaan tradisi Indonesia.
Sumber: AntaraNews