Kota Padang, Sabtu (27/6), seorang pakar sekaligus Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat, Prof. Helmizar, merekomendasikan dadih sebagai upaya pencegahan tengkes. Dadih adalah panganan lokal asal Ranah Minang yang terbuat dari fermentasi susu kerbau tradisional. Rekomendasi ini disampaikan dalam orasi pengukuhannya sebagai guru besar dalam bidang ilmu gizi di UNAND.
Prof. Helmizar menjelaskan bahwa dadih kaya akan protein, asam amino esensial, mineral, serta mengandung bakteri asam laktat yang berfungsi sebagai probiotik. Kandungan nutrisi yang lengkap ini menjadikannya pilihan strategis untuk intervensi gizi. Penelitian yang dilakukannya menunjukkan manfaat signifikan dari konsumsi dadih dalam meningkatkan status kesehatan.
Upaya pencegahan stunting melalui konsumsi pangan lokal seperti dadih menjadi sorotan penting. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Pendekatan berbasis kearifan lokal diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Potensi Dadih dalam Pencegahan Stunting
Dalam orasinya, Prof. Helmizar memaparkan hasil penelitian intervensi pada ibu hamil yang mengonsumsi dadih. Suplementasi dadih, baik sendiri maupun dikombinasikan dengan zink, terbukti memberikan manfaat besar terhadap status gizi ibu. Ini termasuk peningkatan mikronutrien serta perbaikan sistem imunitas ibu dan bayi.
Pemberian dadih dan zink secara signifikan mampu menurunkan prevalensi defisiensi zink pada ibu hamil. Selain itu, intervensi ini juga meningkatkan kadar secretory Immunoglobulin A, sebuah indikator penting sistem kekebalan mukosa. Temuan ini menunjukkan potensi dadih sebagai agen imunomodulator alami.
Lebih lanjut, bayi yang lahir dari ibu yang mendapatkan intervensi dadih dan zink menunjukkan kecenderungan memiliki status kesehatan dan pertumbuhan yang lebih baik. Penelitian lanjutan hingga anak berusia dua tahun juga mengindikasikan prevalensi stunting, kurang gizi, dan kurus yang lebih rendah. Kelompok anak ini dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan suplementasi.
Advertisement
Advertisement
Dampak Dadih pada Perkembangan Kognitif dan Imunitas Anak
Selain aspek pertumbuhan fisik, penelitian Prof. Helmizar juga mengkaji perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik anak. Instrumen Bayley Scale III digunakan untuk mengevaluasi perkembangan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki skor perkembangan yang berada pada kategori normal hingga superior.
Peningkatan secretory Immunoglobulin A yang diamati pada ibu hamil mengindikasikan sistem kekebalan yang lebih kuat. Ini berdampak positif pada bayi yang dilahirkan, memberikan perlindungan awal terhadap berbagai infeksi. Oleh karena itu, dadih tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik tetapi juga membangun fondasi imunitas yang kuat pada anak.
Konsumsi dadih sebagai bagian dari diet seimbang dapat menjadi strategi penting dalam program gizi nasional. Dengan demikian, upaya menekan angka stunting dapat diperkuat melalui pemanfaatan pangan lokal. Fokus pada dadih untuk pencegahan stunting menjadi relevan dalam konteks kesehatan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Peran Pola Asuh Lokal dan Indonesia Emas 2045
Prof. Helmizar menekankan bahwa mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan intervensi gizi. Dukungan periode 1.000 hari pertama kehidupan anak harus didukung oleh pola asuh yang tepat dari orang tua. Kualitas pengasuhan memiliki peran krusial dalam tumbuh kembang optimal.
Di Sumatera Barat, pola asuh berbasis kearifan lokal yang dikenal dengan istilah Manjujai terbukti mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional anak. Pendekatan ini menunjukkan bahwa lingkungan psikososial dan stimulasi perkembangan sangat penting. Peran keluarga dalam memberikan stimulasi sejak dini tidak dapat diabaikan.
Keberhasilan tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh kecukupan gizi semata. Kualitas pengasuhan, lingkungan psikososial, dan stimulasi perkembangan yang diberikan keluarga juga merupakan faktor penentu. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang menggabungkan gizi dan pola asuh menjadi kunci untuk generasi emas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews