Festival Rakik-rakik Maninjau: Cahaya Tradisi di Tengah Pemulihan Pasca Bencana
Festival Rakik-rakik Maninjau kembali digelar, menjadi simbol harapan dan penguat tradisi di tengah upaya pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Danau Maninjau.
Malam takbiran di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, diselimuti suasana syahdu dengan riak air yang memantulkan cahaya-cahaya kecil. Gema takbir dari masjid berpadu harmonis dengan embusan angin yang bergerak pelan, menciptakan atmosfer yang khusyuk. Di tengah keheningan itu, bayang-bayang cahaya yang berpendar samar dari pinggir jalan menjadi penanda aktivitas warga yang tengah berlangsung.
Sekitar tiga puluh pemuda di Nagari Maninjau bergerak sigap, mengusung miniatur Rumah Gadang berbahan kertas plastik menuju tepian danau. Miniatur ini, yang disebut telong-telong, akan menjadi bagian penting dari Festival Rakik-rakik Maninjau yang siap berlayar di atas permukaan danau. Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah "obat" bagi warga yang tengah berupaya bangkit dari duka pascabencana hidrometeorologi.
Festival Rakik-rakik Maninjau tahun ini memiliki makna yang lebih mendalam, menjadi simbol ketahanan dan kebersamaan masyarakat dalam menghadapi tantangan. Meskipun digelar di tengah lanskap yang belum sepenuhnya pulih dari banjir bandang akhir November 2025, tradisi ini tetap dipertahankan dengan semangat gotong royong. Perhelatan ini menjadi penanda bahwa harapan tetap ada, meski dibangun dari sisa-sisa yang tersisa, dan kehidupan akan terus bergerak maju.
Tradisi Rakik-rakik yang Tetap Menyala
Persiapan Festival Rakik-rakik Maninjau telah dimulai sejak awal Ramadan, dengan sekelompok pemuda berkumpul di tepian Kubu Baru Panyinggahan untuk merakit rakit-rakit sederhana. Proses pembuatan rakit melibatkan ketelitian yang lahir dari kebiasaan turun-temurun, mengikat tali-temali dengan cermat. Rakit tradisional ini mengapung dengan bantuan drum, dilapisi papan kayu sepanjang sekitar 10 meter, dan dilengkapi mesin penggerak.
Rakit dihiasi dengan dedaunan kering, lampu LED gemerlap, dan obor-obor yang melingkari bagian depan, menciptakan pendar hangat di atas air yang gelap. Miniatur Rumah Gadang dan Rangkiang, lumbung penyimpan padi yang melambangkan kesejahteraan, berdiri berdampingan di atas rakit. Ornamen beragam bentuk tersusun menjulang, menciptakan siluet tegas dalam cahaya malam, sementara bendera warna-warni berkibar pelan.
Suasana malam kian hidup dengan deretan batuang atau meriam bambu yang berdiri berjajar, sesekali meledak memekakkan telinga. Kalium karbida di dalamnya bereaksi menghasilkan gas asetilena yang memicu dentuman keras, menandai detak malam yang kian semarak. Tabuhan gendang tambua tansa bersahut-sahutan dengan ledakan meriam bambu, merangkai irama yang menghidupkan suasana dan membuat warga bangkit serentak mengabadikan momen.
Makna Mendalam di Balik Perayaan
Festival Rakik-rakik Maninjau bukan sekadar ajang untuk menarik wisatawan, melainkan ruang untuk menjaga tradisi lokal yang kaya kreativitas dan kebersamaan. Perhelatan ini juga menjadi penanda pulangnya para perantau ke kampung halaman, mempererat tali silaturahmi. Pada tahun-tahun sebelumnya, festival ini diproyeksikan sebagai agenda resmi pariwisata Kabupaten Agam, menjadi ajang kompetisi antar jorong dengan kriteria estetika, inovasi, dan kekompakan tim.
Namun, suasana Idul Fitri 2026 menghadirkan kontras yang signifikan, karena festival digelar di tengah lanskap yang belum sepenuhnya pulih dari bencana hidrometeorologi akhir November 2025. Jejak banjir bandang masih terlihat jelas di ruas-ruas jalan yang berdampingan dengan danau, dengan sungai penuh bebatuan dan bangunan tanpa dinding. Sisa material yang belum tersingkir dan ruang-ruang yang menyimpan jejak kehilangan menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari, mengingatkan akan duka yang belum benar-benar menjauh.
Jika sebelumnya lima jorong turut ambil bagian dalam Festival Rakik-rakik, kini hanya dua jorong yang tetap bertahan. Kondisi ini mencerminkan dampak bencana yang masih terasa, namun juga menunjukkan keteguhan warga untuk mempertahankan tradisi. Meskipun skala perayaan lebih kecil, semangat untuk menjaga warisan budaya dan menguatkan komunitas tetap membara di hati masyarakat Maninjau.
Rakik-rakik sebagai "Obat" dan Penguat Komunitas
Bagi warga Maninjau, Festival Rakik-rakik menjadi "obat" di tengah luka pascabencana. Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo, berharap festival ini dapat menjaga tradisi sekaligus menjadi penyemangat setelah bencana. Antusiasme warga tetap tinggi, bahkan bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan festival, meskipun menyadari perhelatan tahun ini tidak semeriah cerita yang mereka dengar sebelumnya.
Riani, seorang warga Kubu Baru Panyinggahan, mengungkapkan bahwa tanpa festival ini, malam takbiran akan terasa sepi dan hari raya tidak akan terasa seperti biasanya. Menurutnya, ketiadaan tradisi ini akan semakin mempertegas perasaan mereka yang berada di lokasi bencana. Oleh karena itu, Festival Rakik-rakik memiliki peran krusial dalam menjaga semangat dan kebersamaan masyarakat.
Peran perantau juga tak terpisahkan dari penyelenggaraan festival ini, mereka turut berkontribusi dalam pendanaan pembuatan rakik yang bisa mencapai Rp15 juta untuk satu unit. Angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil, namun semangat gotong royong tetap terjaga bahkan dalam keterbatasan. Festival ini menyebarkan khasiatnya hingga ke mereka yang tak lagi menetap di kampung halaman, seperti seorang perantau yang kembali setelah 10 tahun untuk menyaksikan tradisi ini bersama keluarga kecilnya.
Dari gemerlap Festival Rakik-rakik Maninjau yang cahayanya tak sepenuhnya mampu menembus gelapnya malam, denyut tradisi itu tetap terasa dan bertahan. Ia menjadi ruang untuk berkumpul kembali, menguatkan satu sama lain, dan menegaskan bahwa kehidupan akan terus bergerak maju. Cahaya-cahaya kecil yang mengapung di atas Danau Maninjau menjelma sebagai simbol harapan yang tak pernah padam.
Sumber: AntaraNews