Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadi saksi pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang khidmat pada hari Sabtu. Ratusan jemaah memenuhi Masjid Raya Maninjau, meskipun area sekitar masih menunjukkan dampak parah dari banjir bandang dan longsor yang melanda sebelumnya. Keputusan untuk memusatkan salat di masjid diambil setelah lapangan yang biasa digunakan tidak layak akibat hujan deras.
Kondisi pasca-bencana tidak menyurutkan semangat warga untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Pelaksanaan salat yang seharusnya digelar di lapangan, terpaksa dipindahkan ke dalam masjid karena lapangan SMP Negeri 1 Tanjung Raya dipenuhi bebatuan dan pasir. Peristiwa ini menyoroti ketahanan masyarakat dalam menghadapi cobaan alam, sekaligus menunjukkan adaptasi mereka dalam menjalankan ibadah penting.
Meskipun demikian, suasana salat berlangsung dengan penuh kekhusyukan, menandakan kuatnya iman dan persatuan warga Maninjau. Pengurus masjid berupaya maksimal menampung jemaah, termasuk membuka lantai dua untuk perempuan dan menyediakan karpet di halaman. Ini adalah cerminan dari upaya kolektif masyarakat untuk tetap merayakan Idul Fitri di tengah tantangan pemulihan pasca-bencana.
Advertisement
Advertisement
Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Nagari Maninjau tahun ini mengalami perubahan lokasi yang signifikan. Biasanya, salat berjamaah dilaksanakan di lapangan terbuka, yaitu lapangan SMP Negeri 1 Tanjung Raya. Namun, kondisi lapangan yang kini berbatu dan berpasir akibat hujan deras sehari sebelumnya, membuat lokasi tersebut tidak memungkinkan untuk digunakan.
Aris Munandar, salah satu pengurus Masjid Raya Maninjau, menjelaskan bahwa Ketua Koordinator Hari Besar Islam Kanagarian Maninjau memutuskan untuk memusatkan pelaksanaan Salat Idul Fitri di masjid. Keputusan ini diambil demi kenyamanan dan keamanan para jemaah. Masjid Raya Maninjau sendiri berjarak sekitar 700 meter dari sungai yang kini dipenuhi bebatuan besar akibat banjir bandang.
Untuk menampung perkiraan 500 jemaah, pengurus masjid membuka lantai dua khusus untuk jemaah perempuan dan menggelar karpet tambahan di halaman masjid. Upaya ini menunjukkan kesigapan dan koordinasi yang baik dari pengurus dalam memastikan ibadah tetap berjalan lancar meski dengan keterbatasan.
Advertisement
Advertisement
Jumlah jemaah Salat Idul Fitri di Masjid Raya Maninjau diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Aris Munandar menyebutkan bahwa penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, proses pemulihan pasca-bencana yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
Kedua, waktu pelaksanaan Idul Fitri yang terbagi menjadi dua hari, yaitu Jumat (20/3) dan Sabtu, juga turut memengaruhi jumlah kehadiran jemaah. Pembagian waktu ini mungkin membuat sebagian warga memilih untuk merayakan di hari yang berbeda atau di lokasi lain.
Di tengah kondisi ini, inisiatif sosial juga muncul sebagai bagian dari semangat Idul Fitri. Zakat fitrah difokuskan untuk membantu janda-janda yang terdampak bencana, menunjukkan kepedulian komunitas terhadap sesama yang membutuhkan.
Advertisement
Advertisement
Kondisi di sekitar lokasi yang biasanya menjadi tempat salat Id dan bantaran sungai masih menunjukkan kerusakan parah. Tumpukan material batu berukuran besar di aliran sungai belum sepenuhnya dibersihkan, menandakan bahwa proses pemulihan pasca-bencana masih jauh dari selesai.
Beberapa rumah di seberang sungai mengalami kerusakan berat, dengan dinding jebol, atap hilang, dan interior yang dipenuhi bebatuan. Belasan rumah lain di sekitar sungai juga mengalami nasib serupa, menggambarkan skala kerusakan yang luas akibat banjir bandang.
Menurut data dari Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, Nagari Maninjau mencatat dua unit rumah hanyut dan hilang, serta 115 unit rumah terdampak kerusakan. Total kerugian akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar, menunjukkan besarnya tantangan pemulihan yang dihadapi masyarakat Agam.
Advertisement
Sumber: AntaraNews