Gempa Bumi Agam Guncang Dua Kali, Warga Berhamburan Keluar Rumah
Warga Lubuk Basung panik saat Gempa Bumi Agam berkekuatan M 4,6 dan M 4,7 mengguncang dua kali pada Minggu pagi, mendorong mereka berhamburan keluar rumah demi keselamatan diri dan keluarga.
Kabupaten Agam, Sumatera Barat, diguncang Gempa Bumi Agam sebanyak dua kali pada Minggu pagi, 28 Desember 2025, menyebabkan kepanikan di kalangan warga Lubuk Basung. Getaran pertama berkekuatan Magnitudo (M) 4,6 terjadi sekitar pukul 09.11.34 WIB, diikuti oleh getaran kedua dengan Magnitudo 4,7 pada pukul 09.15.46 WIB. Kedua gempa ini berpusat di lokasi yang sama, yakni 0.17 Lintang Selatan dan 100.10 Bujur Timur, sekitar 18 kilometer Timur Laut Agam, dengan kedalaman 10 kilometer.
Kepanikan melanda warga saat guncangan gempa susulan terasa lebih kuat dari yang pertama, mendorong banyak keluarga untuk segera keluar dari rumah mereka. Salah seorang warga Lubuk Basung, Afrida, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya langsung berhamburan keluar rumah karena khawatir akan kemungkinan ambruknya bangunan. Situasi serupa juga terlihat di lingkungan sekitar, di mana para tetangga juga melakukan hal yang sama.
Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam belum menerima laporan mengenai kerusakan bangunan atau infrastruktur akibat Gempa Bumi Agam tersebut. Meskipun demikian, tim BPBD setempat sedang aktif melakukan pendataan dan pemantauan di berbagai nagari untuk memastikan tidak ada dampak yang terlewat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Kronologi Getaran Gempa Bumi Agam yang Beruntun
Peristiwa Gempa Bumi Agam pada Minggu pagi dimulai dengan guncangan pertama berkekuatan Magnitudo 4,6 pada pukul 09.11.34 WIB. Gempa ini berpusat di 0.17 LS - 100.10 BT, tepatnya 18 kilometer Timur Laut Agam, dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer. Banyak warga merasakan getaran ini, namun sebagian masih bertahan di dalam rumah.
Tidak berselang lama, hanya dalam waktu sekitar empat menit, Gempa Bumi Agam kembali mengguncang dengan kekuatan yang sedikit lebih besar, yakni Magnitudo 4,7, pada pukul 09.15.46 WIB. Getaran susulan ini dirasakan lebih kuat dan memicu reaksi panik dari masyarakat. Lokasi pusat gempa kedua ini juga sama dengan yang pertama, mengindikasikan aktivitas seismik yang berdekatan.
Afrida, seorang warga Lubuk Basung, menceritakan pengalamannya merasakan dua kali getaran gempa. Pada guncangan pertama, ia dan keluarganya masih berada di dalam rumah, menonton televisi. Namun, ketika gempa susulan yang lebih kuat datang, mereka tidak ragu untuk segera keluar rumah demi keselamatan, khawatir rumah akan ambruk.
Reaksi Cepat Warga dan Upaya Penanganan BPBD Agam
Merespons guncangan Gempa Bumi Agam yang beruntun, warga Lubuk Basung menunjukkan reaksi cepat dengan berhamburan keluar dari rumah mereka. Tindakan spontan ini merupakan bentuk kewaspadaan alami terhadap ancaman bencana gempa bumi. Kepanikan yang terjadi menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, Abdul Ghafur, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan, rumah, atau fasilitas lainnya akibat Gempa Bumi Agam. Meskipun demikian, BPBD Agam tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah proaktif.
Tim BPBD setempat telah memulai proses pendataan kerusakan bangunan di berbagai pemerintah nagari. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa setiap potensi dampak gempa dapat teridentifikasi dan ditangani dengan cepat apabila ditemukan. BPBD Agam terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengumpulkan informasi terkini dari lapangan.
Dampak Awal dan Pendataan Kerusakan Pasca Gempa
Meskipun Gempa Bumi Agam dirasakan cukup kuat oleh warga, laporan awal dari BPBD Agam menunjukkan bahwa belum ada kerusakan signifikan yang tercatat. Hal ini menjadi kabar baik di tengah kepanikan yang sempat melanda. Ketiadaan laporan kerusakan ini bisa jadi disebabkan oleh kedalaman gempa yang relatif dangkal namun tidak terlalu dekat dengan permukaan yang padat penduduk, atau karena bangunan di wilayah tersebut memiliki ketahanan yang cukup baik.
Proses pendataan yang dilakukan oleh BPBD Agam melibatkan pemerintah nagari untuk mencakup seluruh wilayah terdampak. Pendataan ini mencakup pemeriksaan terhadap kondisi rumah-rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur lainnya yang mungkin terpengaruh oleh guncangan gempa. Tujuan utama dari pendataan ini adalah untuk mengidentifikasi dan memverifikasi setiap kerusakan yang mungkin terjadi, meskipun belum ada laporan resmi.
Masyarakat diimbau untuk tetap melaporkan jika menemukan adanya retakan atau kerusakan pada bangunan mereka kepada pihak berwenang. Kesiapsiagaan dan partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya mitigasi dan penanganan pasca-bencana. BPBD Agam akan terus memberikan informasi terbaru seiring dengan perkembangan hasil pendataan di lapangan.
Sumber: AntaraNews