Klarifikasi SPPG Cikole Sukabumi Usai Viral Menu MBG Ikan Nila Mentah Berdarah dan Berbau
Akibat dari menu MBG yang dianggap tidak layak untuk dikonsumsi, SPPG Cikole mendapatkan teguran dari BGN.
Pengelola Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Cikole Cisarua 2 telah meminta maaf setelah beredarnya foto paket ikan nila mentah dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Kota Sukabumi. Ikan nila tersebut dikeluhkan karena masih terlihat berdarah dan mengeluarkan bau amis.
Kepala SPPG Cikole Cisarua 2, Ghiyats Tulus Pratama, menjelaskan bahwa penyajian menu ikan nila tersebut merupakan bagian dari upaya inovasi untuk memberikan variasi nutrisi kepada para siswa. Namun, setelah adanya keluhan dari masyarakat, pihak SPPG Cikole berkomitmen untuk mengevaluasi cara penyajian menu MBG.
"Sangat disayangkan kejadian ini. Tujuan kita sebetulnya tidak ada niat untuk lalai. Ini berawal dari rencana inovasi penggantian menu protein hewani yang biasanya ayam, kita coba ganti ke ikan nila," kata Ghiyats saat memberikan klarifikasi pada Rabu (11/3).
Ghiyats menjelaskan bahwa proses pengolahan ikan tersebut telah mengikuti prosedur yang ditetapkan, mulai dari penerimaan bahan baku segar dari pemasok, pencucian dengan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis, hingga proses marinasi dengan bumbu kuning dan pengemasan vakum (vacuum pack). Meskipun demikian, dia mengakui bahwa ada beberapa langkah teknis yang terlewat, sehingga memicu reaksi negatif di masyarakat.
"Ikan yang telah dimarinasi divakum dan kembali dimasukkan ke dalam freezer sebelum didistribusikan. Kami juga sudah mengirimkan flyer pedoman konsumsi kepada PIC di sekolah terkait tata cara penyimpanan dan pengolahannya," ujar Ghiyats.
Kompensasi untuk Sekolah
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak SPPG telah melakukan komunikasi dengan mitra penyedia dapur untuk memberikan kompensasi kepada sekolah sebagai permohonan maaf resmi.
"Langkah selanjutnya, ini menjadi pembelajaran untuk tidak menggunakan menu-menu yang risikonya tinggi. Kami juga sudah melakukan klarifikasi dan permohonan maaf melalui media sosial SPPG Cikole Cisarua 2," ujar Ghiyats.
Menanggapi situasi ini, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Sukabumi, Andri Setiawan, mengungkapkan bahwa mereka telah mengambil tindakan tegas. Dia mengapresiasi personel di sekolah (PIC) yang segera melaporkan temuan tersebut sehingga masalah bisa segera ditangani.
"Satgas terus mengawasi jalannya program. PIC sekolah sudah melaksanakan tugas dengan baik. Ketika menu bermasalah, langsung hubungi Kasatpel SPPG. Tadi juga sudah ditegur oleh Wakil Kepala BGN," kata Andri dengan singkat.
Kekecewaan Wali Murid
Umi, orang tua salah satu siswa penerima paket MBG dari Ciaul, mengonfirmasi bahwa anaknya membawa pulang paket makanan yang tidak biasa dari SPPG.
"Iya bener ada ikan nila mentah dua ekor dari MBG anakku hari ini," ungkap Umi kepada awak media pada hari Kamis, 12 Maret 2026.
Kekecewaan orang tua siswa semakin meningkat ketika mereka menemukan bahwa ikan yang diterima sudah tidak segar. Ikan yang diduga awalnya dikirim dalam keadaan beku tersebut mencair selama perjalanan pulang sekolah, sehingga saat tiba di rumah, ikan tersebut mengeluarkan bau tidak sedap.
"Mungkin tadinya beku, tapi sampai di rumah sudah mencair lagi jadinya sedikit berbau. Malah ada wali murid yang bilang ikan kurang fresh (segar)," tambah Umi.
Selain ikan nila, paket MBG tersebut juga berisi mie ayam mentah yang harus direbus dan diolah sendiri oleh orang tua di rumah.
"Jadi sampai di rumah nggak disimpan di kulkas karena nggak bakal dikonsumsi. Akhirnya disambar kucing," sambungnya.
Menurut Umi, situasi ini dianggap bertentangan dengan tujuan program yang seharusnya memudahkan pemenuhan gizi siswa tanpa membebani orang tua dengan proses memasak ulang.
Selain bahan mentah yang menjadi masalah, paket yang seharusnya berfungsi sebagai persediaan beberapa hari ke depan juga menyertakan sejumlah bahan pelengkap lainnya. Di dalam tas paket, terdapat dua buah jeruk, susu kemasan ukuran 250 ml dan 1 liter, satu pak stroberi, bolu pisang, serta kurma dalam kemasan.