Keras! Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Puan Sebut Ini Tamparan bagi Negara
Puan menekankan bahwa program pendidikan pemerintah yang hanya menyediakan layanan sekolah gratis belum cukup.
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus tragis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis untuk sekolah. Puan menyebut peristiwa ini sebagai 'tamparan bagi negara' dan menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan psikologi anak.
"Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran," ujar Puan dalam keterangannya, Kamis (5/2).
Puan menekankan bahwa program pendidikan pemerintah yang hanya menyediakan layanan sekolah gratis belum cukup. Kebutuhan penunjang pendidikan, seperti alat tulis dan perlengkapan sekolah, perlu dipastikan terpenuhi, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Program-program pendidikan, terutama beasiswa dan bantuan pendidikan, harus bisa mengatasi persoalan ini," tambahnya.
Aspek Ekonomi
Selain aspek ekonomi, Puan juga menyoroti pentingnya kesehatan mental anak. Menurutnya, psikologi anak berpengaruh besar terhadap karakter dan keputusan mereka, termasuk risiko mengambil langkah ekstrem seperti bunuh diri.
"Kasus di NTT ini menjadi satu contoh lagi betapa psikologi anak dapat berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian," ujar mantan Menko PMK itu.
Puan mendorong evaluasi sistem pendidikan nasional agar lebih ramah anak, termasuk dengan memperhatikan aspek personal, ekonomi, dan psikologis siswa. Ia menekankan perlunya sekolah memetakan latar belakang anak didik untuk memastikan setiap kebutuhan pendidikan terpenuhi.
DPR Minta Pemerintah Perkuat Jangkauan Program
Selain itu, Ketua DPR meminta pemerintah memperkuat jangkauan program bantuan sosial di daerah-daerah terpencil. Ia menekankan keterkaitan antara pendidikan dan program sosial sebagai upaya mengatasi akar masalah, yaitu kemiskinan.
"Kita perlu lihat persoalan di Ngada secara lebih luas. Kasus ini muncul karena kemiskinan. Negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” kata Puan.
Puan menekankan bahwa peristiwa tragis ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk memperkuat sistem pendidikan yang komprehensif, ramah anak, dan memastikan kesejahteraan fisik maupun mental anak didik.
"Program-program pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan mendasar dalam kasus ini, yaitu kemiskinan," katanya.