Kemlu RI Imbau WNI di Iran Tingkatkan Kewaspadaan Pascadiserang
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengimbau WNI di Iran untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyusul serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus mencermati situasi keamanan di Iran dan mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) di sana untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini dikeluarkan setelah terjadi serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya WNI tetap tenang, mengikuti aturan setempat, dan menjaga komunikasi aktif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa KBRI Tehran telah memastikan serangan bersenjata tersebut terjadi sekitar pukul 09.45 waktu setempat. Situasi ini memicu kekhawatiran akan keselamatan WNI yang berada di wilayah terdampak. Sebagai respons cepat, KBRI Tehran segera memfokuskan komunikasi intensif dengan para WNI dan telah menerbitkan edaran terbaru yang memuat saran serta langkah konkret untuk menjaga keselamatan dan keamanan mereka.
Langkah ini diambil menyusul laporan media yang menyebutkan Israel dan Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan ini menjadi yang kedua kalinya oleh Presiden AS Donald Trump, dengan alasan melindungi rakyatnya dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran. Kemlu RI menegaskan akan terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan keselamatan WNI.
Langkah Antisipasi dan Komunikasi KBRI Tehran
KBRI Tehran mengambil langkah proaktif untuk memastikan keselamatan WNI di Iran di tengah situasi yang memanas. Mereka secara intensif berkomunikasi dengan WNI dan telah menerbitkan edaran terbaru yang berisi saran serta langkah konkret yang dapat ditempuh guna menjaga keamanan pribadi. Edaran ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi WNI untuk bertindak sesuai dengan kondisi terkini.
Kemlu RI, melalui Juru Bicaranya, Yvonne Mewengkang, menekankan pentingnya WNI untuk tetap tenang dan mengikuti aturan setempat. Peningkatan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi yang tidak menentu ini. Komunikasi berkelanjutan dengan KBRI Tehran juga sangat dianjurkan untuk mendapatkan informasi dan bantuan yang diperlukan.
Untuk keadaan darurat, Kemlu RI menyediakan jalur komunikasi cepat bagi WNI. Nomor hotline KBRI Tehran yakni +98 9914668845 atau +98 902 466 8889. Selain itu, WNI juga dapat menghubungi Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027. Imbauan serupa untuk warganya juga telah dikeluarkan oleh beberapa negara lain seperti India, Swedia, Serbia, Polandia, Australia, dan AS sendiri.
Latar Belakang Serangan dan Upaya Diplomatik
Serangan bersenjata di Iran dilaporkan oleh media sebagai tindakan dari Israel dan Amerika Serikat, yang menargetkan lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Tehran serta beberapa kota lainnya. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer ini bertujuan melindungi rakyatnya dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran. Hal ini memicu kekhawatiran akan runtuhnya momentum diplomasi nuklir.
Konflik ini bukan yang pertama, mengingat serangan sebelumnya oleh AS terjadi pada Juni 2025. Iran sendiri menegaskan haknya untuk membela diri dan akan memberikan respons tegas terhadap agresi. Kedutaan Besar Iran di Jakarta juga menyatakan bahwa serangan tersebut melanggar Piagam PBB dan menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak.
Di tengah ketegangan ini, AS dan Iran telah terlibat dalam tiga putaran perundingan program nuklir secara tidak langsung yang dimediasi oleh Oman. Putaran pertama dan kedua perundingan telah digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, dengan fokus pada pembatasan pengayaan dan persediaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Putaran ketiga perundingan dilakukan pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa. Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Al-Busaidi, menyatakan perundingan nuklir AS-Iran menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat terendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Sumber: AntaraNews