Tegas, Macron Desak Israel Setop Ambisi Teritorial di Lebanon
Pernyataan ini diungkapkan oleh Macron ketika ia melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Lebanon.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berpidato dalam pertemuan tingkat tinggi di markas besar PBB, Senin (22/9/2025), yang bertujuan menggalang dukungan bagi solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina. (Dok. AP/Angelina Katsanis)
(@ 2025 merdeka.com)Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengajak Israel untuk melepaskan ambisi teritorialnya dan menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan adalah melalui solusi politik.
Pernyataan ini disampaikan saat pertemuan dengan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, di Istana Elysee. Dalam konferensi pers bersama, Macron menekankan bahwa Israel harus menarik diri dari wilayah Lebanon dan menghentikan klaim teritorial yang tidak berdasar. Ia juga memperingatkan bahwa gencatan senjata yang ada saat ini masih sangat rentan.
“Satu-satunya cara menuju perdamaian adalah melalui kesepakatan politik antara Israel dan Lebanon yang menjamin keamanan kedua negara dan integritas teritorial Lebanon,” ujarnya seperti dikutip dari laporan TRT.
Macron juga mengakui adanya "pertanyaan yang sah" mengenai perlunya Uni Eropa menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel jika negara tersebut terus melanjutkan kebijakan yang bertentangan dengan sejarahnya, terutama di Lebanon. Namun, ia mengingatkan agar semua pihak tidak terburu-buru dalam meningkatkan ketegangan.
“Baru beberapa hari sejak Israel menyetujui gencatan senjata di Lebanon dan terlibat dalam pembicaraan, bukan waktunya untuk tergesa-gesa menuju konfrontasi,” jelasnya.
Macron menekankan bahwa memperkuat gencatan senjata yang rapuh harus menjadi prioritas utama, dan ia menegaskan bahwa proses ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Di sisi lain, Salam menegaskan kembali tuntutan Lebanon untuk penarikan total pasukan Israel serta pemulangan tahanan dan warga yang mengungsi. Menanggapi situasi ini, Macron menyatakan bahwa kelompok Hizbullah harus dilucuti "oleh rakyat Lebanon sendiri."
Dalam konteks kemanusiaan, Salam mengungkapkan bahwa Lebanon membutuhkan dana sebesar 500 juta euro dalam enam bulan ke depan. Macron pun berjanji untuk terus mendukung Lebanon dan menegaskan komitmen Prancis dalam usaha pembangunan kembali negara tersebut.
Prancis juga menyatakan akan tetap terlibat dan membantu Lebanon, bahkan jika misi penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) tidak diperpanjang setelah tahun 2026. Hal ini menunjukkan keseriusan Prancis dalam membantu stabilitas dan pembangunan Lebanon di tengah tantangan yang dihadapi negara tersebut.