Iran dan AS Tak Kunjung Sepakat, Kemlu Siapkan Skenario Evakuasi WNI
Tensi semakin meningkat setelah laporan mengenai penyiagaan armada militer Amerika Serikat di sekitar Iran, menambah kekhawatiran terjadinya konflik di kawasan
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menginformasikan bahwa mereka telah menyiapkan rencana kontingensi terkait situasi di Iran, tetapi menekankan bahwa evakuasi belum dilakukan.
"Terkait situasi di Iran sampai dengan hingga saat ini terpantau kota-kota di Iran berjalan normal dan kondusif. Bandara internasional maupun domestik juga masih beroperasi secara normal," ungkap Plt Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Heni Hamidah dalam press briefing di Kemlu RI, pada Jumat (27/2).
Heni juga menambahkan, "Terkait keberadaan WNI di Iran, KBRI di Teheran terus memantau dan menjalin komunikasi intensif dengan para WNI. Hingga saat ini belum terdapat laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan."
Meskipun demikian, status Siaga 1 untuk Iran yang telah ditetapkan sejak Juni 2025 tetap berlaku, dan semua rencana kontingensi telah disiapkan, termasuk berbagai opsi jalur evakuasi jika diperlukan. Heni menjelaskan bahwa jalur evakuasi akan dikoordinasikan oleh KBRI Teheran dengan pusat.
"Melihat situasi dan kondisi kalau misalnya jalur penerbangan masih ada, tentunya bisa langsung dengan jalur penerbangan. Tapi melihat kondisi seperti tahun lalu, biasanya melalui Azerbaijan," kata Heni.
Sikap tersebut merupakan respons dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS). Ketegangan ini muncul setelah perundingan terakhir yang berlangsung pada Kamis (26/2) di Jenewa, Swiss, belum mencapai kesepakatan.
Masalah utama dalam perundingan adalah perbedaan posisi yang signifikan, di mana AS ingin diskusi mencakup tidak hanya program nuklir Iran, tetapi juga program rudal balistik serta dukungan Iran terhadap kelompok militan di kawasan.
Di sisi lain, Iran bersikeras agar fokus negosiasi tetap pada isu nuklir saja. Laporan dari The Wall Street Journal bahkan menyebut bahwa tim negosiasi AS menuntut Iran untuk membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya dan menyerahkan semua sisa uranium yang telah diperkaya kepada AS.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada sikap realistis dan menghindari tuntutan yang dianggap berlebihan.